oleh Faisal Ismail

Tampaknya sangat beralasan apabila Prof Kurshid Ahmad dalam artikelnya yang berjudul ”Islam and the Problem of Educational Reconstruction” mengatakan, ”Of all the problems that confront the Muslim World today, the educational problem is the most challenging. The future of the Muslim World will depend upon the way it respons to this challenge.” (Di antara semua problem yang dihadapi oleh Dunia Muslim dewasa ini, problem pendidikan adalah yang paling menantang. Masa depan Dunia Muslim akan bergantung pada cara bagaimana ia menjawab tantangan ini). Prof Fazlur Rahman mengemukakan ide yang senada dengan Prof Kurshid Ahmad. Dalam bukunya yang bertajuk ”Islam,” Prof Fazlur Rahman, sarjana asal Pakistan yang (pernah) mengajar sebagai guru besar bidang studi pemikiran Islam di Universitas Chicago (Amerika Serikat) berpendapat, ”Any Islamic reform now must begin with education” (Pembaruan Islam dalam bentuk apa pun harus mulai dengan pendidikan).

Dalam konteks Indonesia, sejak tahun 1912 KH Ahmad Dahlan dengan organisasi Muhammadiyahnya telah menjawab dan memulai pembaruan Islam itu, dengan menggarap bidang sosial, dakwah, dan pendidikan. Gagasan dan gerakan pembaruan yang dilakukan oleh Muhammadiyah, terutama lewat institusi- institusi pendidikannya, berlangsung begitu memikat dan mengesankan di Tanah Air ini. Saat melakukan pembaruan pendidikan, Ahmad Dahlan berani ”melawan arus” dengan mengadopsi sistem pendidikan Barat (Belanda) ke dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Sistem kelas dengan pemberian mata pelajaran umum (seperti matematika, ilmu hayat, ilmu bumi, dst) yang diterapkan di sekolah-sekolah Belanda diadopsi oleh Dahlan ke dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Seraya memberikan mata pelajaran umum dengan sistem kelas, Dahlan tetap mempertahankan pemberian mata pelajaran agama (seperti tauhid, fikih, akhlak, tarikh, st) dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Inilah ”pembaruan” yang dilakukan oleh Dahlan dan sekaligus diterapkan dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Ini pulalah yang membedakan sistem pendidikan Muhammadiyah dengan sistem pendidikan pesantren yang saat itu hanya mengajarkan mata pelajaran agama dengan memakai sistem tradisional yang disebut sistem sorogan dan wetonan.

Empat Agenda Pokok

Secara garis besar, agenda utama dan gerakan tajdid Muhammadiyah dapat diformulasikan ke dalam empat bidang garapan. Empat bidang garapan ini sebenarnya mengacu kepada ide dan gerakan Muhammad Abduh, sang pembaharu dari Mesir, sebagai salah satu ikon inspirator gerakan pembaruan Muhammadiyah, yaitu:

(1) Memurnikan ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh dan praktik luar yang merusak;

(2) Reformasi pendidikan tinggi Islam;

(3) Reformulasi doktrin Islam berdasarkan pemikiran moderen;

(4) Mempertahankan Islam dari pengaruh-pengaruh Eropa dan serangan-serangan Barat-Kristen.

Bidang garapan strategis Muhammadiyah yang pertama (memurnikan ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh dan praktik luar yang merusak seperti bid’ah dan khurafat) telah dan terus diupayakan oleh Muhammadiyah melalui pranata-pranata pendidikan dan berbagai aktivitas dakwahnya. Secara keseluruhan, upaya-upaya keras dan serius Muhammadiyah di bidang ini sudah berhasil, terutama dalam lapisan masyarakat urban perkotaan, di mana organisasi modernis Muslim ini mempunyai basis massa yang luas dan kuat. Begitu pula dalam hal reformasi pendidikan tinggi Islam (bidang kedua yang menjadi lahan strategis garapannya) Muhammadiyah telah menunjukkan banyak prestasinya. Sekolah-sekolah tinggi dan universitas-universitas Muhammadiyah terus berdiri di berbagai kota besar di Indonesia. Reformasi ini tidak saja menyangkut gedung dan sarana- sarananya, tetapi juga di bidang metode, sistem, dan kurikulum pendidikannya. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa Muhammadiyah dalam banyak hal telah berhasil melakukan modernisasi dan reformasi pendidikan tingginya, termasuk memperbarui dan memperlengkapinya dengan prangkat keras (hardware) dan prangkat lunak (software) yang memang diperlukan bagi penyelenggaraan sistem pendidikan moderen.

Adapun bidang garapan strategis ketiga, yaitu reformasi doktrin Islam berdasarkan perkembangan pemikiran moderen, Muhammadiyah dewasa ini dinilai oleh banyak pengamat berada dalam keadaan lamban dan bahkan mandek. Stagnasi ini terjadi karena – mengutip Azyumardi Azra – Muhammadiyah tercekam dalam ”ketegangan teologis.” Di satu pihak, Muhammadiyah menganut paham teologi Salaf atau Neo-Salaf yang bercorak skripturalis atau tektualis, sementara di pihak lain, Muhammadiyah secara tegar menggaungkan kerja-kerja ijtihad. Jika teologi Salaf atau Neo-Salaf ini dianut dan dipraktikkan secara ketat oleh Muhammadiyah, yang berarti berpegang teguh kepada teks-teks Alqur’an saja, itu berarti Muhammadiyah tidak atau kurang leluasa untuk melakukan gerakan pemikiran rasional dan kontekstual yang menjadi ciri utama kerja-kerja ijtihad itu.

Menurut Prof Harun Nasution (pakar pemikiran Islam dan guru besar Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta), Muhammadiyah hanya mencontoh pembaruan Muhammad Abduh yang berkaitan dengan gerakan amal sosialnya saja, tetapi tidak mengadopsi kerangka landasan teologinya yang rasionalisitik. Karena itu, kata Prof Harun, Muhammadiyah sebenarnya merupakan organisasi tradisional, bukan organisasi moderen. Terlepas dari penilaian seperti ini, sudah saatnya Muhammadiyah keluar dari lingkaran stagnasi pemikiran ini dan untuk selanjutnya melakukan kajian ulang, redefinisi, reinterpretasi, dan rekonstruksi terhadap ideologi teologisnya agar dapat melakukan kerja-kerja ijtihad yang bertanggungjawab dalam upaya pembaruan pemikiran Islam.

Dalam bidang garapan yang keempat (mempertahankan Islam dari pengaruh-pengaruh Eropa dan serangan Barat), Muhammadiyah telah ikut melakukan dan berkontribusi dalam memperjuangkan dan merebut kemerdekaan Indonesia dari kaum penjajah Barat (Belanda). Untuk sekedar menyebut contoh, dua tokoh penjuang besar Muhammadiyah, yaitu Ki Bagus Hadikusumo dan KH Kahar Muzakkir, terkenal sebagai pelaku aktif dan saksi sejarah yang telah ikut berjuang mengantarkan negeri ini ke gerbang kemerdekaan. KH Kahar Muzakkir adalah salah seorang tokoh dari kelompok Nasionalis Muslim yang mereformulasi Pancasila (usulan Soekarno) sehingga Pancasila diterima sebagai dasar falsafah negara. Ki Bagus Hadikusumo adalah tokoh Muhammadiyah yang mewakili kelompok Nasionalis Mulim yang menyepakati penggantian ”dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya” dengan ”Yang Maha Esa” pada rumusan sila Ketuhanan (sila pertama Pancasila). Dengan penggantian itu, masyarakat Kristiani yang banyak tinggal di wilayah timur Indonesia merasa diperhatikan dan tidak jadi memisahkan diri dari NKRI.

Karena penjajahan teritorial Barat telah lama berakhir di negeri ini, maka agenda dan gerakan Muhammadiyah hendaknya diteruskan dan ditujukan untuk menangkal pengaruh dan melawan ”penjajahan” kultural Barat yang tidak selaras dengan nilai-nilai kultural Islam yang dianut dan diperjuangkan secara konsisten oleh Muhammadiyah. Bagi Muhammadiyah (dan umat Islam secara keseluruhan), perjuangan melawan “penjajahan” kultural bangsa-bangsa asing tidak kalah beratnya dibandingkan dengan perjuangan melawan penjajahan teritorial.

Karya Kependidikan dan Kemanusiaan

Sejak berdirinya pada tahun 1912 hingga sekarang (1990), Muhammadiyah telah genap berusia 78 tahun. Agenda kerja dan kiprah panjang Muhammadiyah di bidang pendidikan khususnya patut dihargai dan diapresiasi setinggi-tingginya. Gerak dan kiprah di bidang pendidikan ini telah dilaksanakan oleh Muhammadiyah sejak sebelum kemerdekaan hingga sekarang dan, tentu saja, di masa-masa yang akan datang dengan segala kompleksitas tantangan modernitas yang selalu dihadapi oleh Muhammadiyah. Adalah tidak berlebihan, apabila dikatakan, bahwa Muhammadiyah telah memainkan peranan penting dan telah berjasa sangat besar dalam rangka ikut mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945. Peranan signifikan dan strategis Muhammadiyah dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa ini terealisasikan lewat lembaga-lembaga pendidikannya yang beragam dan berskala luas, sejak dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Secara keseluruhan, aset yang dimiliki, dikelola dan dioperasikan oleh Muhammadiyah adalah:

3.485 TK (Taman Kanak-Kanak/Bustanul Anfal)

3.027 SD (Sekolah Dasar/Ibtidaiyah)

4.375 SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama)

5.084 SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas)

65 PT (Perguruan Tinggi)

114 panti asuhan anak yatim piatu

5 panti jompo

83 klinik/rumah bersalin

317 balai pengobatan

12 rumah sakit.

Tidak diragukan lagi bahwa aset yang dimiliki, dikelola dan dioperasikan oleh Muhammadiyah sangat besar, beragam dan berskala luas. Tentunya ini semua harus ditangani dan dikelola secara profesional dan bertanggung jawab sesuai system manajemen moderen yang rasional, berdaya guna dan berhasil guna agar seluruh mekanisme kerja dalam tubuh Muhammadiyah berfungsi dengan baik dan rapi. Dalam upaya mengantisipasi dan merespon perubahan-perubahan zaman, Muhammadiyah hendaknya lebih bisa mengembangkan potensi dirinya, baik dalam arti kuantitas maupun kualitas. Suatu tugas penting yang mendesak bagi Muhammadiyah dewasa ini ialah melakukan redefinisi dan reinterpretasi terhadap tatanan ideologisnya agar mampu mengembangkan pembaruan pemikiran Islam (tajdid) yang telah digelutinya selama ini.

 

Kompas, 21 Oktober 1990

Related Post

 

Tags: