oleh Faisal Ismail

Tidak berlebihan kiranya kalau dikatakan bahwa aktivitas dan gerakan dakwah (dalam segala cara, bentuk dan manifestasinya) merupakan tulang punggung kelangsungan hidup agama Islam. Tanpa adanya aktivitas dan gerakan dakwah, agama Islam sudah barang tentu sulit atau bahkan tidak bisa berkembang. Itulah sebabnya, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah Haditsnya menekankan, ”Sampaikanlah apa saja yang berasal dari saya walaupun satu ayat”. Ini berarti bahwa dakwah itu merupakan tugas penting atau suatu kewajiban fundamental yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim dan Muslimah sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dalam masyarakat moderen yang memiliki bangunan struktur sosial yang lebih kompleks, pola dan gerakan dakwah memerlukan organisasi yang menerapkan prinsip-prinsip manajemen moderen, seperti penyusunan program, pelaksanaan program dan evaluasi terhadap pelaksanaan program itu sendiri.

Dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen moderen ini, maka program-program dakwah yang belum terealisasikan akan dapat dievaluasi dan untuk selanjutnya dapat pula direalisasikan. Sedang program-program dakwah yang sudah dilaksanakan dapat tetap dipertahankan dan ditingkatkan intesitas pelaksanaannya. Atas dasar itu pula, program dakwah dapat disusun berdasarkan skala prioritas dengan mempertimbangkan perlunya kebutuhan dakwah untuk jangka pendek dan jangka panjang. Dengan menggunakan dana yang memadai dan menerapkan asas-asas manajemen moderen dalam pelaksanaan dakwah serta ditopang pula oleh sumber daya manusia yang berkualitas, maka diharapkan tercapainya tujuan-tujuan dakwah yang telah diprogramkan.

Islam dan Pluralisme

Islam adalah agama dakwah. Ini berarti bahwa Islam, menurut watak dan kodratnya, harus berkembang. Diutusnya Nabi Muhammad sebagai utusan Allah memberikan konfirmasi teologis bahwa dia diperintah oleh Allah untuk mendakwahkan dan menyebarkan Islam. Misi ini telah dilaksanakan dan diselesaikan oleh Nabi dengan hasil yang sangat spektakuler: Orang-orang Quraisy di Jazirah Arabia yang sebelumnya menganut kepercayaan politeistik dalam waktu 23 tahun telah diubah oleh Nabi menjadi masyarakat yang menganut kepercayaan monoteistik (Tauhid). Dari jazirah Arabia, Islam terus berkembang ke berbagai pelosok belahan dunia. Keadaan ini membawa Islam tampil dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pluralistik. Berhadapan dengan kompleksitas situasi seperti ini timbullah suatu pertanyaan: bagaimanakah pola dan strategi dakwah Islam di tengah-tengah pluralitas atau keberagaman masyarakat dewasa ini? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kiranya perlu ditinjau terlebih dahulu pandangan Islam tentang pluralisme.

Menurut kodratnya, pluralisme adalah merupakan ciri utama kehidupan suatu masyarakat. Keberagaman dan kemajemukan merupakan sunnatullah sebagaimana dapat dipahami dari firman-Nya: ”Wahai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa supaya kamu sekalian saling kenal mengenal.” (QS Al Hujurat: 13). Pluralitas masyarakat telah melahirkan keberagaman bahasa, adat istiadat, tradisi dan budaya. Pluralitas masyarakat ini memang dikehendaki oleh Allah dengan maksud agar kelompok-kelompok masyarakat yang hidup berbangsa- bangsa dan bersuku-suku itu bisa saling kenal mengenal satu sama lain.

Pluralitas masyarakat tidak saja menampakkan manifestasinya pada bentuk-bentuk fisik, bahasa dan budayanya, akan tetapi juga terefleksikan dalam pola kepenganutan agama, ideologi, politik atau paham. Sejauh menyangkut agama, Islam dan umatnya berinteraksi dengan agama-agama dan umat-umat lain seperti Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dll. Di lapangan ideologi dan politik, Islam dan umatnya berinteraksi dengan para penganut ideologi-ideologi dan politik lain seperti kapitalisme, sosialisme dan komunisme. Pluralisme juga tercermin dalam tubuh umat Islam sendiri: ada aliran Sunni dan Syi’ah. Sejauh menyangkut situasi di Indonesia, terdapat berbagai komunitas Muslim seperti komunitas NU, komunitas Muhammadiyah, komunitas Alwashliyah, dll. Bagaimanakah sebaiknya pola dan kebijakan dakwah di tengah-tengah pluralitas masyarakat seperti ini, baik dakwah itu ditujukan ke dalam tubuh umat Islam sendiri atau pun ditujukan kepada kelompok-kelompok non-Muslim?

Islam dan Etika Dakwah

Secara umum, setiap aktivitas dakwah haruslah berpegang teguh kepada etika dan prinsip dakwah sebagaimana telah digariskan oleh Allah: ”Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan cara bijaksana dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik pula.” (QS Annahl: 125). Dalam ayat yang lain Allah berfirman: ”Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali Imran: 159). Jadi ada tiga etika dan prinsip dakwah yang harus dikembangkan oleh umat Islam dalam melakukan dakwah, yaitu dengan cara yang bijaksana, memberikan pelajaran dan ketauladanan yang baik, dan apabila diperlukan mengajukan argumen dan bantahan dengan cara yang baik dan bijaksana pula. Cara-cara paksaan dan kekerasan dalam melaksanakan dakwah (baik bersifat nyata atau pun terselubung) sudah seyogyanya dihindari dan dijauhi karena Allah melarang untuk melakukan hal itu sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya: ”Tidak ada paksaan dalam (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah.” (QS Albaqarah: 256).

Dakwah, pada prinsipnya, adalah merupakan ajakan, seruan atau panggilan. Sebagai kewajiban agama dan tugas suci agama, sudah selayaknya dakwah itu dijauhkan dari unsur-unsur dan motif-motif paksaan baik dalam bentuk terang-terangan atau pun terselubung. Menghadapi kelompok-kelompok non-Muslim, umat Islam harus tetap berpegang teguh kepada etika dakwah sebagaimana telah digariskan oleh Allah. Hal yang perlu diubah oleh umat Islam adalah penyajian materi dakwah yang kelihatan kurang menarik menjadi (lebih) menarik. Materi dakwah sebaiknya tidak saja dapat menyentuh lubuk hati orang-orang yang didakwahi, tetapi juga harus mampu menggugah akal pikiran mereka. Jadi emosionalitas dan rasionalitas orang-orang yang didakwahi perlu secara serentak disentuh agar pemahaman dan penerimaan mereka terhadap Islam berjalan secara seimbang dan simultan.

Dalam masyarakat pluralistik di masa moderen sekarang ini, para da’i dan organisasi-organisasi dakwah Islam harus terus mengembangkan kiat-kiat baru dalam mengembangkan kiprah dakwahnya. Selain tetap menggunakan media tradisional (yang dipakai untuk kalangan masyarakat tradisional), umat Islam perlu pula menggunakan media moderen dalam mengembangkan dakwahnya. Majalah, surat kabar, radio, film, teve, internet dan media moderen lainnya perlu dimanfaatkan oleh umat Islam dalam mengembangkan dakwahnya. Penggunaan media moderen semacam ini tentunya akan sangat efektif karena dapat menembus jarak yang jauh dan sampai kepada para pendengar, pembaca dan pemirsa di tempat yang jauh pula.

Selain itu, perlu terus dikembangkan pula dakwah bilhal, yang menekankan kepada upaya-upaya peningkatan perbaikan hidup dan kesejahteraan masyarakat lapisan bawah lewat jalur pembangunan panti-panti asuhan, sarana-sarana pendidikan dan polik klinik atau rumah sakit-rumah sakit. Menggaris bawahi pendapat Prof. Dr. Mukti Ali, umat Islam harus mampu berdakwah lewat penyiaran, pengajaran dan penyembuhan (preaching, teaching, dan healing). Dalam masyarakat pluraristik, umat Islam hendaknya menjauhi pendekatan dakwah yang lebih mengedepankan nahi mungkar (melarang kemungkaran) dari pada amar makruf (menyuruh kebaikan).

Pendekatan dakwah seperti ini akan terasa vulgar dan terasa kurang manusiawi bagi orang yang didakwahi. Amar makruflah yang perlu lebih didahulukan, baru kemudian nahi mungkarnya sesuai dengan perintah Allah. Dengan pola dan kebijakan dakwah seperti ini maka orang-orang yang didakwahi akan merasa diperlakukan secara manusiawi dan nilai-nilai insaninya merasa dihargai dan dihormati. Juga, dalam masyarakat pluralistik (seperti masyarakat Indonesia) perlu dihindari materi, tema atau pesan-pesan dakwah yang dapat menimbulkan terjadinya gangguan SARA (suku, agama, ras dan antargolongan).

Dakwah Islam dan Kebebasan Beragama

Sebagaimana dikatakan di atas, dakwah pada dasarnya adalah merupakan ajakan ke jalan Tuhan, bukan paksaan. Allah melarang memaksakan agama Islam untuk dipeluk oleh orang- orang non-Muslim kapan pun dan di mana pun. Tugas umat Islam adalah sekedar menyampaikan dakwah dan bukan memaksa setiap orang untuk memeluk agama Islam. Apakah orang yang didakwahi itu akan menerima ajakan kita atau tidak, itu terpulang sepenuhnya kepada yang bersangkutan. Jadi tidak dibenarkan adanya motif dan unsur paksaan dalam menyampaikan dakwah itu. Segala bentuk pemaksaan (baik secara terselubung maupun secara terang-terangan) tidak dibenarkan dalam Islam karena hal itu bertentangan dengan ajaran Allah. Sebagaimana secara eksplisit dan jelas dinyatakan oleh Allah sendiri dalam firman-Nya:

Dan jika Tuhanmu menghendaki, pastilah (akan) beriman semua orang yang ada di muka bumi ini. Maka apakah engkau (hendak) memaksa para manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS Yunus: 99).

Penegasan Allah di atas sekaligus mengajarkan dan mengakui adanya prinsip kebebasan beragama bagi manusia kapan saja dan di mana saja. Manusia bebas untuk memilih dan menganut suatu agama yang menurut keyakinannya adalah benar. Tentu saja, setiap pilihan keyakinan seseorang dan kepenganutannya terhadap agama tertentu (seperti halnya memilih sesuatu) disertai oleh suatu pertimbangan, kesadaran dan tanggung jawab etis dan teologis. Dalam hubungan ini, setiap pemeluk agama tertentu sudah sewajarnya untuk menghargai dan menghormati para pemeluk agama lain yang memilih dan menganut agama yang berbeda dengan dia. Dengan menggunakan pola dan kerangka berpikir seperti itu, kebebasan beragama akan tetap dijunjung tinggi sejalan dengan prinsip bahwa kebebasan beragama itu adalah merupakan salah satu hak asasi manusia yang paling fundamental, yang realisasinya di negara kita sangat ditekankan dan dijamin oleh UUD 1945.

 

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 27 Februari 1997

Related Post

 

Tags: