oleh Faisal Ismail

O, Timur adalah Timur
Dan Barat adalah Barat Keduanya tak akan pernah bertemu Hingga langit dan bumi melingkup
Di Singgasana Agung Pengadilan Tuhan

Demikianlah penyair terkenal Rudyard Kipling menggoreskan pandangannya dalam sebuah lirik puisinya yang diciptakannya pada tahun 1889 dengan judul The Ballad of East and West (Balada Timur dan Barat). Dari lirik puisi Kipling tadi, ada sesuatu yang secara mudah dan cepat bisa ditangkap, yaitu pesimisme Kipling dalam melihat hubungan dunia Timur dan dunia Barat. Dalam pandangan Kipling, Timur dan Barat selamanya tidak akan bertemu, dan baru akan bertemu ketika langit dan bumi telah hancur dan segalanya kembali menghadap Tuhan. Mari kita coba mencermati guratan pandangan Kipling dan melihatnya dalam konteks era globalisasi sekarang ini.

Masa Lalu: Timur Vs Barat

Suatu hal yang utama dan pertama-tama perlu dicermati adalah bagaimana situasi dunia yang melatarbelakangi dan mengilhami Kipling ketika menulis lirik-lirik puisinya itu? Atau, dengan kata lain, dalam konteks apa Kipling menuangkan visinya dalam untaian bait puisinya itu? Bagaimanakah situasi politik dan sosiokultural dunia ketika Kipling menulis puisinya itu? Bagaimanakah Kipling melihat Timur dan Barat, apakah dalam konteks gejala politik, konteks fenomena militer, atau dalam konteks pergeseran nilai-nilai budaya? Atau justru ketiga-tiganya? Pertanyaan-pertanyaan mendasar di sekitar masalah ini teramat penting karena dapat membantu kita untuk memahami dan mengkritisi pernyataan Rudyard Kipling itu. Namun, suatu hal yang jelas adalah bahwa Timur dan Barat (apapun konteksnya), dalam benak pandangan Kipling, tidak akan pernah bertemu sampai dunia ini lebur (kiamat) menelingkup di Singgasana Agung Tuhan.

Pada abad-abad silam, Timur dan Barat memang pernah terlibat dalam berbagai konflik politik dan ajang pertarungan militer. Masing-masing pihak mempunyai kepentingan militer, politik, ekonomi dan sosial-budaya yang saling bersebrangan. Ekspansi-ekspansi teritorial dan penaklukan-panaklukan pasukan Muslim (sebagai representasi dunia Timur) atas Barat (dengan dikuasainya Andalusia atau Spanyol oleh Umat Islam) pada abad ke-8 hingga abad ke-13 mencerminkan terjadinya gelombang benturan dan badai konflik yang sulit mencapai titik temu atau penyelesaian damai. Antara Timur (Islam) dan Barat sering terjadi saling konfrontasi, saling adu kekuatan, dan saling tekuk untuk mengalahkan lawan-lawan politik dan militernya di berbagai medan laga peperangan. Timur dan Barat terlibat dalam kemelut pertarungan politik dan militer yang berlumuran darah.

Demikian pula, arogansi dan supremasi Barat (dengan superioritas perlengkapan teknologi militernya yang sangat moderen dan canggih) telah menyebabkan mereka melakukan eksploitasi, ekspansi dan penjajahan berabad-abad lamanya (dari abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-20) atas dunia Timur dan negeri-negeri Muslim. Bangsa-bangsa Timur pun (termasuk Indonesia) bereaksi terhadap kekuatan-kekuatan kolonialisme- imperialisme Barat dengan melakukan perang kemerdekaan untuk membebaskan negeri-negeri mereka dari penindasan-penindasan dan penjajahan Barat. Ini membuktikan bahwa Timur dan Barat pada abad-abad silam sering bertemu dalam arena konflik peperangan dan ajang pertarungan militer, dan tidak bertemu dalam forum-forum dialog dan kerjasama.

Pertarungan, benturan dan konflik-konflik antarkekuatan dunia yang tercermin dalam Perang Dingin antara Blok Barat (yang dimotori oleh Amerika Serikat) dan Blok Timur (yang dikomandani oleh Uni Soviet) juga pernah terjadi di pentas percaturan dunia, dan ketegangan politik ini sangat mencemaskan masyarakat internasional. Kegamangan dan kecemasan masyarakat internasional yang sangat mendambakan perdamaian dan kedamaian semakin menjadi-jadi karena peralatan militer yang dimiliki baik oleh Blok Barat dan Blok Timur sangat moderen dan canggih dan dapat memunahkan dan memusnahkan jiwa umat manusia dalam waktu sekejap.

Dialog Peradaban, Bukan Benturan Peradaban

Ketika Perang Dingin berakhir beberapa tahun lalu, Samuel P. Huntington, salah seorang pakar politik dan ahli kajian strategis Amerika Serikat, memperingatkan masyarakat Barat akan adanya ancaman baru, yaitu Islam, terhadap Barat dan sekutu-sekutunya. Peringatan ini diungkap secara jelas oleh Huntington dalam bukunya The Clash of Civillizations (Benturan Peradaban). Dalam bukunya itu, ia mengatakan bahwa setelah ambruknya Uni Soviet, komunisme sekarang ini tidak lagi merupakan ancaman terhadap Barat. Menurut dia, ancaman baru terhadap Barat adalah Islam (dan koalisi antara Islam dan Konfusianisme).

Kita perlu mengkritisi analisis dan pendapat Huntington itu. Studi-studi strategis dan analisis-analisis kebijakan pada tingkat internasional yang dilakukan oleh Huntington telah membawa dia berpendapat bahwa Islam akan menjadi momok dan ancaman terhadap Barat. Pertanyaan kritis yang perlu diajukan adalah: Islam atau Umat Islam mana yang merupakan momok dan ancaman terhadap Barat? Islam atau umat Muslim di Arab Saudi? Islam di Indonesia? Islam di Pakistan? Islam di Qatar? Kita bisa mengatakan secara pasti bahwa Islam di Arab Saudi sama sekali tidak merupakan momok dan ancaman terhadap Barat. Justeru Barat (AS) selalu bermesra-mesraan dengan Arab Saudi karena AS mempunyai kepentingan ekonomi (pasokan minyak) dari Arab Saudi dan juga Arab Saudi sebagai lahan empuk pemasaran produk-produk AS.

Islam di Indonesia juga tidak merupakan momok dan ancaman terhadap kepentingan AS. Rasanya lebih tepat dan beralasan jika Huntington tidak menggeneralisasi Islam atau Umat Islam dan membatasi parnyataannya itu pada kelompok- kelompok fundamentalitas Muslim yang ada di Iran, Aljazair, dan negeri-negeri Muslim lainya (jika ada). Cara berpikir Huntington yang menggeneralisasi Islam sebagai momok dan ancaman terhadap Barat sudah pasti tidah fair. Dan sebagaimana saya pernah baca di sebuah koran Montreal (Kanada), gerakan-gerakan fundamentalis Islam di mata seorang analis politik Barat sebenarnya tidak separah bahayanya sebagaimana digambarkan oleh sementara pengamat Barat sendiri. Menurut dia, akibat gerakan-gerakan fundamentalis Islam tak ubahnya seperti sebuah kecelakaan di suatu jalan raya.

Saya tidak sependapat dengan Kipling yang mengatakan bahwa Timur dan Barat tidak akan pernah bertemu. Saya juga tidak sependapat dengan Huntington yang mengatakan bahwa momok besar dan ancaman baru terhadap Barat adalah Islam. Dalam era globalisasi dewasa ini yang ditandai oleh teknologi transportasi dan komunikasi yang moderen dan canggih, dunia sudah seperti sebuah perkampungan di mana batas-batas wilayah dan geografis sudah terlampaui secara cepat dan mudah. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Barat (atau pun sebaliknya) secara mudah dan cepat bisa diketahui di belahan bumi masing- masing karena proses globalisasi. Ini berarti terjadi proses pertemuan dan kontak-kontak secara intens antara Timur dan Barat.

Saya merasakan hal yang sama ketika menghadiri konferensi internasional yang membicarakan hubungan dan dialog Muslim-Kristen di Jakarta pada bulan Agustus1997 lalu di mana para sarjana Muslim dan para sarjana Barat (yang beragama Kristen) bertemu dan berdialog. Dalam konferensi MESA (Middle East Studies Association) yang saya hadiri di Washington (AS) pada tahun 1991, para sarjana Barat dan para sarjana Muslim bertemu dan menyajikan makalah-makalah mereka yang berbobot tentang Islam dan ilmu-ilmu keislaman. Ini berarti bahwa Timur dan Barat sebenarnya telah berdialog, berinteraksi, saling melakukan kontak, dan bertemu dalam banyak forum dialog dan agenda kerjasama.

Visi Konstruktif Alqur’an

Dengan mengemukakan dan mengutarakan ilustrasi- ilustrasi di atas, saya sebenarnya hendak mengatakan bahwa pandangan pesimistik Kipling dan Huntington perlu dicermati dan dikritisi. Saya lebih menggaris bawahi pandangan penyair Goethe yang lebih optimistik dan konstruktif dalam melihat keberadaan dan hubungan Timur dan Barat sebagaimana terungkap dalam sebuah bait puisinya:

Seantero Timur terbilang kepada Tuhan Seantero Barat terbilang kepada Tuhan Seantero tanah Utara dan Selatannya Berada dalam ketenangan di tangan-Nya

Lebih dari itu, Alqur’an (Surat Albaqarah: 115) dengan nada dan semangat keyakinan yang sangat konstruktif, arif dan optimistik mengatakan:

Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat Ke mana saja kamu mengahadapkan muka Di situ ada rahmat Allah Karena Allah luas rahmat-Nya dan Maha Mengetahui

Ayat Alqur’an itu menegaskan bahwa Timur dan Barat (dan semua yang ada dalam bentangan jarak antara keduanya) adalah milik tunggal Tuhan. Tuhanlah sebagai Pemilik Tunggal yang membawahi dan menguasai segala kekayaan dari arah kutub Timur, Barat, Utara dan Selatan. Lebih jauh Alqur’an (Surat Alhujurat: 13) menyatakan pula bahwa Tuhan telah menciptakan umat manusia di pelataran dunia ini dalam banyak etnis dan bangsa dengan segala ciri khas pluritas etnisitas dan identitas kebangsaan yang beragam dan multikultural. Tujuan Tuhan dalam penciptaan yang demikian adalah agar para manusia saling kenal mengenal, bukan saling bermusuhan, menjegal, menjajah dan membunuh. Ini berarti bahwa baik orang-orang Barat maupun orang-orang Timur adalah sama-sama makhluk Tuhan yang sudah selayaknya perlu bertemu dalam jalinan persahabatan dan jalinan kemanusiaan.

Secara faktual, Timur dan Barat sudah bertemu dalam forum-forum dialog dan program-program agenda kerjasama, dalam hubungan diplomatik, hubungan dagang, pertukaran program pendidikan, pertukaran kesenian dan kebudayaan, dan dalam forum-forum seminar dan konferensi. Realitas-realitas ini dapat dijadikan dasar untuk menepis pandangan pesimistik Kipling dan Huntington. Begitu juga dalam melihat sosok Islam yang sebenarnya bisa digandeng sebagai mitra Barat dan sekutunya-sekutunya, dan tidak perlu mengecap atau menuduh Islam sebagai momok, ancaman atau musuhnya.

Kedaulatan Rakyat, 25 Oktober 1997

Related Post

 

Tags: