oleh Faisal Ismail

Bersamaan dengan pecahnya Revolusi Iran yang mengantarkan Ayatullah Ruhullah Khomeini dan para pendukungnya berhasil merebut kekuasaan dari rezim Shah Reza Pahlevi di tahun 1979, media massa Barat semakin gencar mengekspose berita-berita besar tentang munculnya kebangkitan Islam (Islamic resurgence). Dalam pandangan Barat, Islam sudah mulai bangkit kembali dan kebangkitannya itu dirasakan oleh pihak Barat akan menjadi ancaman serius terhadapnya. Demikianlah, lewat jaringan-jaringan media massa moderen dan canggih yang dikuasainya, Barat menyebarkan opini publik ke seluruh dunia dan sekaligus dimaksudkan sebagai suatu peringatan keras kepada dunia Barat akan munculnya ancaman baru yang datang dari Islam yang sedang bangkit.

Benturan Peradaban

Lebih-lebih setelah Perang Dingin antara Blok Barat (yang dimotori oleh Amerika Serikat) dan Blok Timur (yang dikomandoi oleh Uni Soviet) berakhir, kecemasan Barat terhadap ”ancaman” Islam semakin tebal menggumpal. Di masa depan, sebagaimana diramalkan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations, akan terjadi benturan peradaban antara Barat dan Islam. Menurut analisis Huntington, pola-pola konflik yang sebelumnya terjadi antara Blok Timur dan Blok Barat masih sebatas kawasan Eropa dan lebih merefleksikan konflik ideologis antara Marxisme-Komunisme versus Liberalisme-Kapitalisme. Di masa depan, pola konflik –dalam paradigma Huntingtonian– akan mengalami transformasi secara signifikan yang akan melibatkan kawasan non-Eropa dan akan mengambil pola baru dalam bentuk benturan peradaban.

Pertanyaan kritisnya adalah: mengapa peradaban semakin menjadi faktor yang penting dalam percaturan politik internasional di masa depan? Huntington menyebut beberapa alasan sebagai berikut. Pertama, perbedaan-perbedaan yang ada pada berbagai kebudayaan, di samping merupakan sesuatu yang semestinya harus ada sebagai suatu realitas, juga bersifat mendasar dan substansial. Masyarakat pendukung peradaban yang berbeda-beda itu mempunyai perbedaan persepsi tentang relasi antara Tuhan dan manusia, antara negara dan warganya, dan sekaligus perbedaan persepsi tentang organisasi dan nilai yang melandasi tatanan sosial, seperti keadilan, hak asasi, kebebasan dan responsibilitas.

Kedua, sejalan dengan gerak laju kemajuan dan kecanggihan teknologi informasi, sejalan dengan itu pula telah terjadi eskalasi intensitas interaksi antara kelompok-kelompok masyarakat pendukung peradaban yang berbeda-beda. Eskalasi dan intensitas interaksi ini akan semakin mempertinggi rasa peka kesadaran suatu masyarakat akan eksistensi dan nilai nilai peradabannya sendiri dan sekaligus akan semakin mempertajam garis demarkasi perbedaan antara peradaban yang satu dengan peradaban yang lain.

Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial telah mengakibatkan negara-negara mulai kehilangan relevansinya sebagai sumber identitas dan jati diri. Sebagai gantinya, muncullah berbagai fenomena revitalisme agama sebagai dasar justifikasi diri yang melibatkan kelompok-kelompok sosial ekonomi yang justru telah bersifat moderen, seperti kelas menengah, kelas profesional dan lain-lain. Tendensi ini banyak menggejala, misalnya, dalam menopang munculnya format- format gerakan baru yang berbentuk gerakan-gerakan fundamentalisme agama di berbagai negara.

Keempat, menguatnya rasa peka kesadaran pada kelompok-kelompok masyarakat akan eksistensi dan nilai-nilai peradabannya sendiri sebenarnya dipengaruhi oleh dampak ”peran ganda” superioritas adidaya dan kekuasaan Barat. Bersamaan dengan klimaks kekuasaan yang kini dinikmati oleh negara-negara adidaya Barat, bersamaan dengan itu pula per- adaban-peradaban non-Barat mengalami revitalisasi yang signifikan. Kaum elite dan kalangan terpelajar yang sebelumnya terdidik di lingkungan pendidikan Barat dan berpola pikir seperti Barat kini justru berpikir kritis dan tampil vokal sebagai sosok yang mulai curiga terhadap upaya-upaya ingin mengubah dunia menjadi masyarakat dengan model Barat.

Kelima, biasanya perbedaan-perbedaan di bidang peradaban dan kebudayaan dirasakan begitu rumit sehingga lebih sulit untuk dikompromikan dan diselesaikan. Dalam ajang konflik yang melibatkan kebudayaan dan peradaban, persoalan dasar yang dihadapi antarpihak yang terlibat dalam pertarungan adalah tidak lagi terletak pada berada ”di pihak mana” akan tetapi berada ”di pihak siapa.” Dengan alur pendirian seperti ini, jelaslah bahwa konflik dan benturan peradaban berbeda dengan konflik yang dipicu oleh kepentingan-kepentingan lainnya. Dengan kata lain, peradaban adalah merupakan seperangkat atribut atau simbol dan nilai-nilai yang begitu erat melekat pada jati diri atau identitas seseorang (atau sekelompok masyarakat) sehingga sulit untuk dipisahkan dari para manusia pendukung peradaban tadi.

Pijar-Pijar Sentimen Perang Salib

Setelah menyajikan serangkaian analisis sebagaimana diutarakan di atas, Huntington secara terang-terangan menunjuk Islam dan Konfusianisme (dan koalisi keduanya) sebagai ancaman dan musuh bagi Barat. Menurut hemat saya, ciri-ciri pola konflik budaya atau benturan peradaban yang digambarkan oleh Huntington masih terasa merepresentasikan sisa-sisa sentimen Perang Salib (Crusade), yang terjadi antara abad ke-11 hingga abad ke-13 Masehi antara Umat Islam dan Kristen-Barat. Baik disadari atau tidak, perasaan Huntington masih mewarisi dan mewakili percik-percik sentimen Perang Salib yang mungkin hingga kini belum lenyap di kalangan sebagian orang Barat.

Benturan peradaban dan agama antara Barat dan Islam memang sudah pernah terjadi di masa lalu dalam ajang Perang Salib yang berlangsung tidak kurang dari tujuh gelombang antara abad ke-11 M hingga abad ke-13 M. Kedua belah pihak silih berganti mengalami getir kekalahan dan gebyar kemenangan dengan mempertaruhkan kucuran darah dan nyawa di berbagai medan laga peperangan. Sudah seharusnya, baik pihak Barat maupun pihak Muslim, mengambil butir-butir pelajaran berharga dan mutiara hikmah dari peristiwa-peristiwa peperangan yang berkuah darah di masa lalu itu dengan harapan agar peristiwa-peristiwa yang destruktif mengerikan itu tidak akan terulang kembali di masa depan.

Dengan cara ini, baik pihak Barat maupun pihak Muslim, menjadi semakin lebih arif bijaksana dan bisa bekerja sama dalam membangun kehidupan bersama dalam rangka membina ikatan persaudaraan dan perdamaian dunia. ”Masa kanak-kanak” Barat dan ”masa kanak-kanak” Muslim yang suka berseteru, berkelahi dan berperang di masa-masa lalu, seperti terjadi dalam Perang Salib itu, harus sudah berlalu dan tidak perlu terjadi lagi di masa depan. Dewasa ini, setelah lama memasuki era pasca Perang Salib, Barat dan Muslim sudah (seharusnya) meninggalkan masa kanak- kanaknya masing-masing dan memasuki ”masa dewasa” yang ditandai dengan kematangan kepribadian insani yang penuh kearifan, kebijaksanaan dan kedewasaan pribadi untuk saling berdialog dan bekerja sama dengan baik di segala bidang kehidupan.

Sosok Islam yang Mana?

Membaca tesis Huntington di atas, kita seperti tersambar petir di siang bolong. Benarkah Islam akan menjadi ancaman atau musuh bagi Barat? Islam atau umat Islam mana yang dimaksud oleh Huntington itu? Islam di Arab Saudi? Islam di Mesir? Islam di Kuwait? Islam di Emirat Arab? Atau Islam di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu diajukan agar terdapat klarifikasi agar terjauh dari cara pandang dan cara berpikir yang mengeneralisasikan Islam atau Umat Islam. Dengan demikian, kita bisa berpikir jernih dan menempatkan Islam atau umat Islam dalam kerangka pemikiran seperti itu.

Menurut hemat saya, ”kerisauan” Barat akan munculnya ”ancaman” Islam sebenarnya lebih ditujukan kepada gerakan-gerakan radikal Muslim di berbagai negara Islam, seperti gerakan radikal Jihad Islam (terkenal dengan serangan bom bunuh dirinya), gerakan-gerakan radikal Muslim di Aljazair, Afghanistan dan Pakistan. Sebenarnya, bukan hanya Barat yang merasa resah dan risau terhadap munculnya ancaman radikalisme (dan terorisme) yang mengatasnamakan atau memakai label Islam itu. Akan tetapi, masyarakat dan pemerintah di berbagai negeri Muslim sendiri juga merasa cemas dan tidak aman berhadapan dengan gerakan- gerakan radikal Muslim itu. Misalnya, pemerintah Mesir pernah merasa tidak aman dan merasa terancam ketika berhadapan dengan gerakan fundamentalis Ikhwanul Muslimin. Begitu juga yang terjadi di negara-negara Muslim lainnya.

Barangkali tesis Huntington itu sedikit banyak dipengaruhi pula oleh bara konflik Iran-AS dan Irak-AS, di mana baik Iran maupun Irak (yang nota bene keduanya sama-sama negeri Muslim) tidak mau didikte oleh AS. Dalam Perang Teluk I, AS dan Iran terlibat dalam peperangan yang banyak menelan korban. Konflik tersebut secara diam-diam hingga kini masih berlangsung. Selanjutnya dalam Perang Teluk II, AS dan Irak juga terlibat peperangan dan sampai kini Irak tetap terkena sanksi ekonomi yang begitu ketat sehingga mendatangkan keprihatinan dan penderitaan di kalangan rakyat Irak. Jika kita mengikuti paradigma Huntingtonian, boleh jadi Islam atau umat Islam di Iran dan Irak dapat dipandang sebagai ’ancaman’ terhadap kepentingan- kepentingan Barat (AS) karena keduanya tidak menunjukkan sikap bersahabat terhadap AS karena secara nyata AS sendiri mau mendikte mereka.

Tetapi bagaimana dengan Islam di Arab Saudi atau Islam di Indonesia, misalnya? Apakah Islam di Arab Saudi dan Indonesia merupakan ancaman atau musuh bagi Barat (AS)? Secara pasti kita dapat mengatakan bahwa Islam atau umat Islam di Arab Saudi sama sekali tidak merupakan ancaman atau musuh bagi Barat. Selama ini Barat (AS) selalu bermesraan dengan Arab Saudi karena AS mempunyai kepentingan ekonomi (pasokan minyak) dari Arab Saudi dan produk-produk AS mendapat pasaran yang bagus di Arab Saudi. Kita yakin sepenuhnya bahwa Islam di Indonesia juga tidak (akan) merupakan ancaman atau musuh bagi Barat (AS). Dengan karakteristik dan ekspresi temperamennya yang khas, Islam di Indonesia justru bisa dan telah menjadi sahabat yang baik bagi Barat.

Dari uraian-uraian di atas adalah bahwa Barat dan Islam – walaupun memiliki latar belakang sejarah, tradisi dan peradaban yang berbeda-beda– bisa melakukan dialog dan kerjasama dalam rangka memupuk dan membina saling pengertian untuk mencapai kebaikan dan kemaslahatan hidup bersama. Perbedaan- perbedaan antara Barat dan Islam tidak perlu menjadi perintang dalam melakukan dialog dan kerja sama. Kedua belah pihak sudah sepantasnya untuk selalu hidup berdampingan secara damai, bergandengan tangan dan bahu-membahu dalam jalinan kemanusiaan, persahabatan dan kemitraan, pihak yang satu tidak usah mencurigai atau menganggap pihak lainnya sebagai ancaman atau musuhnya.

 

Pikiran Rakyat, 14 Nopember 1997

Related Post

 

Tags: