oleh Faisal Ismail

Konflik antarumat beragama biasanya terjadi apabila kepentingan-kepentingan tertentu (misi/dakwah, sosial, budaya, ekonomi, politik, dll) lebih diutamakan daripada misi pembinaan internal keimanan umat beragama. Konflik antarumat beragama di suatu negara akan ikut menyebabkan terjadinya proses disintegrasi nasional. Dengan kata lain, benturan antarumat beragama di suatu negara akan menimbulkan gangguan serius tehadap pembinaan integrasi nasional yang stabil dan dinamis. Fenomena seperti ini dapat dilihat, misalnya, dari konflik antara pemeluk agama Hindu dan penganut agama Islam yang (pernah) terjadi di India yang dipicu oleh persoalan dan kepentingan sosial keagamaan dan politik antara kedua belah pihak. Umat Islam yang merupakan kelompok lebih kecil daripada umat Hindu di India sering menjadi sasaran tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok mayoritas umat Hindu.

Tindakan-tindakan kekerasan yang bermotif agama sering juga kita dengar di Inggris. Dalam upayanya memisahkan diri dari Inggris (Protestan), IRA (Tentara Republik Irlandia/Katolik) sering melakukan tindak kekerasan dan teror yang menewaskan dan melukai banyak korban dan merusak fasilitas umum. Sementara itu, Ulster Defence Forces (didukung oleh para pendeta Protestan) yang hendak mempertahankan Irlandia Utara sebagai bagian dari Inggris juga melakukan kekerasan. Serangkaian perang dan kekerasan berkuah darah antara Israel dan Palestina sering mencuat ke permukaan disebabkan oleh sentimen-sentimen politis, etnis, dan keagamaan yang berkepanjangan. Di Srilangka, konflik yang bermotif agama dan politik juga sering terjadi antara pasukan pemerintah dan pihak pemberontak (pasukan Elang Tamil) dan konflik ini menjadi masalah nasional yang mengancam integrasi nasional.

Agama, apa pun namanya, pada hakekatnya merupakan kekuatan positif, inspiratif, kreatif, konstruktif, sublimatif dan integratif. Ia mengajarkan perdamaian dan kedamaian, cinta asih dan kasih sayang, persahabatan, persaudaraan dan rasa prikemanusiaan yang sangat mendalam antarmanusia. Namun begitu, agama akan berubah menjadi kekuatan negatif, disintegratif dan destruktif apabila nilai-nilai positif dari agama tadi dikesampingkan karena lebih mengutamakan kepentingan- kepentingan di luar ajaran-ajaran humanis agama yang positif dan konstruktif itu.

Sering kita mendengar terjadinya serangkaian tindakan kekerasan yang diberi label agama atau atas nama agama yang dilakukan oleh sekelompok radikal pemeluk agama tertentu. Oleh karena itu, yang sangat perlu dilakukan oleh setiap kelompok pemeluk agama adalah melaksanakan secara konsisten nilai-nilai luhur dan positif ajaran-ajaran agama yang mereka peluk dan menerapkan nilai-nilai luhur tadi dalam hubungan dengan kelompok-kelompok penganut agama lain. Di samping upaya-upaya lain yang bisa dilakukan, perlu dilakukan serangkaian dialog yang lebih intensif antarumat beragama. Dengan melakukan dialog, hal itu berarti ada kemauan baik dan kesedian yang sungguh-sungguh dari pihak-pihak yang berkepentingan untuk mencari dan sekaligus menemukan solusi terbaik bagi persoalan yang mereka hadapi. Sebelum membicarakan masalah ini, ada baiknya kita menurunkan beberapa permasalahan yang selama ini bisa dianggap sebagai gangguan dalam hubungan antarumat beragama, khususnya hubungan antara umat Islam dan umat Kristiani.

Dengan membeberkan kasus-kasus tadi, kita menjadi semakin sadar bahwa kita memang sedang dihadapkan pada ”pekerjaan rumah” bersama yang meminta kadar perhatian kita secara serius untuk secara bersama-sama menanggulangi persoalan-persoalan tersebut dalam kerangka pembinaan dan pengembangan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara demi terciptanya integrasi nasional yang stabil, mantap dan dinamis.

Beberapa Gangguan Hubungan Muslim-Kristen

Di atas telah ditegaskan bahwa relasi Muslim-Kristen di Tanah Air pada umumnya berlangsung dalam kondisi baik. Akan tetapi kita harus akui juga bahwa ada kalanya hubungan tadi terganggu oleh hal-hal di luar ajaran murni agama masing-masing. Antara tahun 1960-an sampai 1970-an, polemik-polemik eksesif apologetis antara Muslim-Kristen sering mencuat ke permukaan. Berbagai tulisan atau karangan dari para penulis Muslim yang isinya mengritik ajaran-ajaran Kristen (terutama seputar doktrin Trinitas dan originalitas kewahyuan Injil) dan respons para penulis Kristen terhadap kritik itu banyak bermunculan. Dari kalangan Muslim karya-karya polemis apologetis ini diwakili antara lain oleh Sidi Gazalba dan Bey Arifin. Polemik semacam ini terasa kurang menguntungkan bagi terciptanya hubungan harmonis antara kedua belah pihak. Lebih-lebih kalau disadari sejak semula bahwa, secara konseptual doktrinal teologis, ajaran-ajaran Islam dan Krsiten memang berbeda. Tradisi dialog antarumat beragama, khususnya antara Muslim dan Kristen, pada kurun waktu itu belum tercipta.

Di tahun 1970-an, atas inisiatif Menteri Agama KH Mohammad Dachlan, Musyawarah Antarumat Beragama diselenggarakan di ibu kota Jakarta. Musyawarah itu bertujuan untuk membina kerukunan antara Muslim-Kristen yang menyangkut persoalan dakwah dan misi. Musyawarah itu gagal karena pihak Kristen tidak mau menandatangani piagam yang isinya menetapkan bahwa penyiaran agama tidak boleh dilakukan kepada orang-orang sudah mempunyai identitas agama tertentu. Masa suram ini ditandai pula oleh sikap tak terkendali sekelompok orang Islam yang membakar gereja di Meulaboh (Aceh) dan kemudian penolakan keras umat Islam terhadap rencana penyelenggaraan Sidang Raya Gereja-Gereja Sedunia di Indonesia. Umat Islam menolak rencana Sidang Raya itu karena akan dilaksanakan di Indonesia yang dikenal berpenduduk mayoritas Muslim.

Memasuki dekade 90-an, hubungan Muslim-Kristen terganggu lagi dengan terjadinya insiden Situbondo. Dalam kasus Situbondo (1997) sekelompok umat Islam, terutama warga Nahdlatul Ulama (NU), secara tak terkendali membakar beberapa gereja sehingga mengakibatkan kerusakan berat. Peristiwa ini dipicu oleh vonis pengadilan setempat kepada seseorang yang menghina seorang ustaz/kiai. Para santri memprotes pengadilan karena mereka menilai hukuman yang dijatuhkan kepada penghina kiai tadi tidak adil/terlalu ringan. Protes ini memanas dan akhirnya memicu kemarahan dan kerusuhan massa yang mengakibatkan terjadinya perusakan beberapa gereja di Situbondo. Menyusul kasus ini, Ketua Umum Tanfidziyah PBNU saat itu, KH Abdurrahman Wahid, secara tulus meminta maaf kepada umat Kristiani dan menyerukan kepada umat Islam (khususnya warga NU) di kota itu untuk ikut membangun kembali gereja-gereja yang dirusak tadi. Seruan dan himbauan Gus Dur mendapat respons positif dari para warga NU. Karena itu, mereka berpartisipasi dalam memperbaiki gereja-gereja yang rusak karena didorong oleh tanggung jawab moral yang besar.

Pada bulan Nopember 1998, ada dua peristiwa yang memprihatinkan dalam hubungan Muslim-Kristen. Peristiwa Ketapang (Jakarta) telah meyebabkan sejumlah gereja (dan bangunan-bangunan lain) dirusak dan dibakar oleh massa (orang- orang Islam). Sebaliknya, dalam Peristiwa Kupang (Nusa Tenggara Timur) sejumlah masjid (dan bangunan-bangunan lain) dirusak dan dibakar oleh sekelompok massa Kristen. Dilaporkan, kedua peristiwa itu terjadi setelah terlebih dahulu ada provokasi dari para provokator yang menyusup dan menggunakan isu agama untuk kepentingan politiknya. Baik para pemimpin Muslim maupun para pemimpin Kristen sama-sama menyerukan agar umat beragama, khususnya Muslim dan Kristen, tidak mudah terpancing untuk diadu domba. Kendatipun kedua kasus ini diyakini ada yang menunggangi, tetapi patut disayangkan masih adanya kekurangdewasaan berpikir atau kekurangmatangan sikap dari masing‹masing pihak sehingga mengakibatkan jumlah rumah ibadat yang hancur dibakar cukup banyak. Sikap pengendalian diri yang diajarkan oleh Islam dan Kristen belum mengakar kuat dalam benak kesadaran para pelaku pembakaran rumah-rumah ibadat itu.

Kasus-kasus di atas hanyalah sederet contoh yang memprihatinkan kita semua sebagai suatu bangsa yang ingin terus menata diri menuju kehidupan bangsa yang moderen. Semua itu menyadarkan kita bagaimana sebaiknya kita sebagai bangsa bersikap toleran dan hidup berdampingan secara damai sehingga terbina pilar-pilar kerukunan dan keharmonisan antarumat beragama, khususnya antara Muslim-Kristen, yang semakin mantap di waktu-waktu yang akan datang. Hubungan yang harmonis antarumat beragama di negeri ini tentunya akan ikut memperkukuh sendi-sendi sosial dan memperkuat pilar-pilar integrasi nasional.

Intensifikasi Dialog Antarumat Beragama

Memulai dialog antarumat beragama, sebaimana layaknya memulai sesuatu, akan menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan. Salah satu penyebabnya adalah karena kendala-kendala perbedaan teologis dan muatan psikologis, serta sikap antipati antarpenganut agama yang akan berdialog. Sebagaimana dikatakan oleh Charles Kinball:

Gerakan dialog yang terorganisasi merepresentasikan sebuah bab baru dalam sejarah panjang hubungan Muslim dan Kristen. Upaya-upaya internasional untuk saling memahami dan bekerja sama adalah merupakan pertanda yang memberikan penuh harapan, utamanya bagi komunitas-komunitas agama yang interaksinya sering ditandai oleh sikap saling tidak percaya, salah paham dan antipati. Umat Islam dan umat Kristiani yang membela dan terlibat dalam dialog masih menghadapi banyak kendala.1

Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, dialog antarumat beragama menemukan momentum historisnya ketika Menteri Agama Mukti Ali pada awal 1980-an menyerukan perlunya dilakukan dialog secara lebih intensif. Seruan Mukti Ali ini mendapat respons sangat positif. Banyak pemuka, pemimpin dan fungsionaris dari berbagai organisasi dan majelis agama yang memulai dialog dengan tujuan untuk saling memahami ajaran dan tradisi agama-agama lain. Dengan memahami ajaran, sejarah dan tradisi agama-agama lain di luar agamanya sendiri, hal itu akan membawa para penganut agama tadi bisa hidup berdampingan secara rukun dan damai dengan para penganut agama-agama lain. Dalam hubungan ini Mukti Ali ini menyatakan:

… [dialog antara-pemeluk agama adalah] mempertemukan antara orang-orang atau kelompok dari agama atau ideologi yang berbeda untuk sampai pada pengertian bersama tentang berbagai isu tertentu untuk setuju dan tidak setuju dengan sikap yang penuh apresiasi dan, karena itu, untuk bekerja sama dengan mereka untuk menemukan rahasia makna kehidupan ini. Dialog adalah suatu proses di mana para individu dan kelompok berupaya untuk menghilangkan rasa takut dan rasa tidak percaya satu sama lain dan mengembangkan hubungan baru berdasarkan rasa saling percaya. Dialog adalah suatu kontak dinamis antara kehidupan dengan kehidupan–tidak saja antara satu pandangan rasional yang berlawanan satu sama lain– yang ditujukan untuk membangun dunia baru secara bersama-sama.2

Dialog tidak saja penting tetapi harus dirasakan sebagai suatu kebutuhan bersama dalam hubungan antarpemeluk agama. Tanpa dialog, umat beragama yang satu akan merasa sulit untuk memahami dan mengerti ajaran, sejarah perkembangan dan tradisi umat agama lain. Dengan kata lain, dialog merupakan salah satu cara yang efektif dan produktif untuk mencapai terciptanya saling pengertian antarpemeluk agama. Dialog bisa dilakukan baik secara formal maupun secara informal, dan yang paling penting adalah bahwa tujuan dialog itu tercapai dengan baik. Salah satu caranya adalah melalui studi terhadap agama lain sehingga tercipta dialog iman atau dialog batin seperti dikatakan oleh Montgomery Watt:

Dialog bisa saja dilakukan dengan menggunakan cara-cara formal dan informal. Bahkan seperti cara saya sendiri yang selama bertahun-tahun bergumul dalam studi akademis tentang agama lain, bisa dikatakan terlibat dalam suatu dialog batin (inner dialogue). Kondisi esensial suatu dialog adalah bahwa para peserta hendaknya bertemu dalam posisi yang setara, dan juga bahwa, sementara masing-masing pihak harus terikat kepada agama sendiri, mereka merasa bahwa dalam dialog itu mereka akan menerima dan memberi sesuatu. Tujuan dialog adalah bahwa masing-masing kelompok hendaknya memperoleh pengertian terhadap agama lain; tetapi pengalaman menunjukkan bahwa, dalam melakukan yang demikian itu, mereka sepertinya memperoleh wawasan yang lebih mendalam tentang keyakinan mereka sendiri.3

Model-model Dialog

Dewasa ini dialog antarumat beragama di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, memperlihatkan intensitasnya yang semakin luas dan melibatkan berbagai kelompok komunitas agama. Ini merupakan suatu hal yang sangat positif dan perlu terus ditingkatkan dan digalakkan agar tujuan dialog yang hendak dicapai dapat diwujudkan. Bentuk-bentuk dialog ini dapat dilihat dalam kerangka Kimball4 yang mengajukan cara atau pola-pola dialog yang beragam, namun dimensi-dimensinya masih saling mengait.

Pertama, dialog parlementer (parliamentary dialogue). Bentuk dialog ini melibatkan ratusan peserta dan contoh yang paling awal adalah World’s Parliament of Religions yang berlangsung di Chicago pada tahun 1893. Dalam dasawarsa 1980- an dan 1990-an dialog-dialog parlementer ini semakin sering diselenggarakan di bawah pengawasan organisasi-organisasi multiagama seperti Conference on Religions and Peace dan The World Congress of Faiths. Ratusan peserta hadir dalam pertemuan- pertemuan parlementer ini dengan tujuan untuk mengembangkan kerja sama yang lebih baik dan sekaligus untuk menggalang perdamaian di antara para pemeluk agama. Dalam dialog parlementer ini, wakil-wakil Indonesia dari berbagai agama mengambil bagian baik sebagai peserta atau sebagai penyaji makalah.

Kedua, dialog kelembagaan (institutional dialogue), yakni dialog antara wakil-wakil institusi dari berbagai organisasi agama. Bentuk dialog ini dilaksanakan untuk mendiskusikan dan memecahkan persoalan-persoalan mendesak yang dihadapi oleh komunitas agama yang berbeda. Selain itu, bentuk dialog ini juga berupaya mengembangkan komunikasi di antara wakil-wakil kelembagaan dari organisasi-organisasi berbagai agama. Dialog kelembagaan ini melibatkan majelis-majelis agama yang diakui oleh pemerintah, seperti MUI (Majelis Ulama Indonesia), PGI (Persekutuan Gerejangereja di Indonesia), KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), PHDI (Parisadha Hindu Dharma Indonesia), Walubi (Perwakilan Umat Budha Indonesia), dan MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia).

Ketiga, dialog teologi (theological dialogue) yang formatnya antara lain berbentuk pertemuan-pertemuan, baik reguler maupun tidak reguler, untuk membahas persoalan- persoalan teologis dan filosofis. Tema-tema yang pernah diangkat dalam dialog ini antara lain pemahaman kaum Muslimin dan Kristen tentang Tuhan masing-masing, sifat wahyu Ilahi, tanggung jawab manusia dalam hidup bermasyarakat. Jangkauan lebih luas dalam dialog model ini, misalnya makna tradisi keagamaan seseorang dalam konteks pluralisme keagamaan dapat dimasukkan dalam dialog teologis ini. Pada umumnya, dialog teologis ini dilakukan di kalangan intelektual atau organisasi- organisasi yang dibentuk untuk mengembangkan dialog antarumat beragama, seperti Institut Dian (Dialog Antar Iman), Paramadina, MADIA, dll.

Keempat, dialog dalam masyarakat (dialogue in community) dan dialog kehidupan (dialogue of life). Pada umumnya, bentuk dialog ini bertujuan untuk menggarap dan menyelesaikan hal-hal praktis dan aktual dalam kehidupan yang menjadi fokus perhatian bersama. Misalnya, hubungan yang lebih patut antara agama dan negara, hak-hak minoritas agama, kemiskinan, masalahrmasalah yang timbul dari perkawinan antarumat beragama, pendekatan yang lebih pantas dalam penyebaran agama atau nilai-nilai agama dalam pendidikan. Bentuk-bentuk dialog seperti ini pada umumnya dilaksanakan oleh organisasi-organisasi agama yang bergerak di bidang dialog dan Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya.

Kelima, dialog kerohanian (spiritual dialog) yang bertujuan untuk mengembangkan dan memperdalam kehidupan spiritual di antara berbagai agama. Bentuk dialog spiritual melalui aspek esoteris agama seperti yang diusulkan oleh Schuon, Schimmel, Falaturi dan Sayyed Hoesein Nasr dalam buku-buku mereka. Bentuk dan format dialog seperti ini banyak diminati dan terasa lebih bisa diterima.

Menggarisbawahi pendapat-pendapat di atas, kita berkesimpulan bahwa agenda dialog antarumat beragama di Indonesia adalah penting untuk menghilangkan rasa saling curiga, rasa saling tidak percaya dan rasa saling antipati di kalangan para pemeluk agama-agama. Hasil-hasil dialog antarpemuka agama hendaknya disosialisasikan ke kalangan akar rumput (lapisan umat tingkat bawah) agar mereka ikut saling mengetahui dan saling memahami ajaran dan tradisi agama di luar agama yang mereka peluk. Dengan demikian, dialog diharapkan tidak saja tumbuh di kalangan atas (para elit agama) akan tetapi juga muncul dari lapaisan bawah (akar rumput). Dengan demikian pula, ke depan pilar-pilar kerukunan dan sendi-sendi keharmonisan antarpemeluk agama dapat dikembangkan secara lebih kuat dan lebih mantap.

Kondisi ini sekaligus akan ikut memperkukuh sendi-sendi sosial dan memperkuat integrasi nasional. Terciptanya situasi dan kondisi semacam ini sudah pasti akan membawa keyakinan kepada kita bahwa agama-agama pada hakikatnya menjadi salah satu unsur utama perekat kesatuan nasional atau merupakan daya dorong kekuatan integrasi nasional.

Catatan Kaki

  1. Charles Kinball, ”Muslim-Christian Dialogue,” dalam J. L. Esposito, ed., The Oxford Encyclopedia of the Modern WorlD, vol. 3 (New York: Oxford University Press, 1995), hlm. 204.
  2. Mukti Ali, ”Dialogue between Muslims and Christians in Indonesia,” dalam Mukti Ali, Dialog Antaragama (Yogyakarta: Yayasan Nida, 1981), hlm. 37.
  3. Montgomery W. Watt, Muslim-Christian Encounters: Perceptions and Misperceptions (London: Routledge, 1991), hlm. 144.
  4. Kinball, ”Muslim-Christian Dialogue,” hlm. 204.

 

Makalah disampaikan dalam Program Internship Ketahanan Nasional yang dilaksanakan oleh Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta, 6 Oktober 1999.

Related Post

 

Tags: