oleh Faisal Ismail

Walaupun usia Presiden Barack Hussein Obama jauh lebih muda daripada George W Bush, tetapi sosok penampilan dan gaya kepemimpinan presiden baru Amerika Serikat (AS) itu tampak lebih arif, simpatik dan bijak dari pendahulunya. Jika Bush sering sekali mengumbar jualan politik ”war on terror,” tidak satu pun kata “War on terror” diucapkan oleh Obama. Beberapa hari setelah dilantik, dalam suatu wawancara dengan TV Al-Arabia, Presiden Obama mengatakan kepada Dunia Muslim: “Orang-orang AS bukan musuhmu, tetapi sahabatmu.” Telah terjadi pergeseran paradigma kepemimpinan secara signifikan di Gedung Putih. Jualan dan dagangan politik Bush berupa “perang melawan teror” yang secara masif dan agitatif dikampanyekan terhadap kelompok-kelompok Muslim garis keras telah di-reset oleh Obama dengan mengutamakan dialog. Sebenarnya, Presiden Obama – seperti presiden-presiden AS lainnya– juga menentang dan hendak memerangi segala bentuk terorisme di dunia ini, akan tetapi Obama mengatakannya dengan ungkapan bahasa yang lebih lunak dan gaya kepemimpinan yang lebih ”smart” dan menyejukkan. Itu saja perbedaannya. Konon Obama lebih mementingkan ”smart power” dan ”smart diplomacy,” suatu kebijakan yang masih memerlukan pembuktian secara riil dan kongkret.

Sesuai dengan janjinya ketika berkampanye sebagai capres dari Partai Demokrat, Obama mulai mengambil langkah- langkah konkrit menarik pasukan AS dari Irak, menutup penjara Guantanamo dan menghentikan proses peradilan terhadap para penghuninya yang dicurigai dan ditahan dengan tuduhan sebagai para pentolan ’teroris’ Alqaeda. Semua upaya positif ini dapat mengangkat kembali citra baik AS, terutama di kalangan Dunia Muslim, di bawah kepemimpinan Obama. Dunia Muslim sudah selayaknya menyambut baik langkah-langkah dan perubahan baru yang ditempuh oleh Obama. Dia menugasi Menlu AS Hillary Clinton untuk berkunjung ke Indonesia selain ke China, Jepang dan Korea Selatan. Dalam agenda Clinton, semula Indonesia tidak termasuk salah satu tujuan lawatannya. Tetapi Presiden Obama menugasi Clinton untuk berkunjung ke Indonesia sebagai salah satu agenda lawatannya di Asia. Kunjungan Menlu Clinton dijadwalkan selama dua hari, yaitu dari 18-19 Februari 2009. Itu berarti Obama memandang penting posisi dan peranan strategis Indonesia, suatu negara yang pernah dia tinggali dari 1967-1971 bersama ibunya (Stanley Ann Dunham) dan ayah tirinya Lolo Soetoro di kawasan Menteng Dalam, Jakarta.

Dunia Muslim hendaknya segera menangkap secara antusias kebijakan-kebijakan positif-konstruktif Obama dengan pendekatan-pendekatan baru yang lebih menekankan kepada dialog dan kerja sama atas dasar kemitraan komprehensif dan kepentingan bersama yang saling menguntungkan. Indonesia sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia dan mempunyai wibawa dan pengaruh yang luas di kalangan Dunia Muslim dapat berperan aktif dan positif dalam menjembatani hubungan baru AS (dan Barat pada umumnya) dengan Dunia Muslim.

Peranan Indonesia

Kita yakin bahwa Indonesia, baik secara sendiri maupun dengan bekerja sama dengan OKI (Organisasi Konferensi Islam), dapat memainkan peranan penting dalam menjembatani hubungan baru antara AS-Dunia Muslim karena beberapa faktor. Pertama, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia dan dikenal sebagai Muslim moderat sangat diperhitungkan peranannya dalam percaturan internasional, termasuk dalam membangun hubungan AS-Dunia Muslim yang lebih baik ke depan. Kedua, Dunia Muslim sendiri memandang Indonesia sebagai memilki potensi dan kapasitas untuk menjembatani hubungan baru AS-Dunia Muslim karena posisi dan peranan Indonesia yang penting dalam percaturan internasional.

Ketiga, modal politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif (tidak berpihak kepada blok mana pun tetapi aktif dalam mengupayakan perdamaian dunia). Hal ini antara lain dibuktikan oleh keaktivan dan partisipasi Indonesia dalam mengirimkan pasukan penjaga perdamaian seperti di Congo dan Lebanon di bawah bendera PBB. Keempat, Indonesia telah berhasil menyelesaikan konflik-konflik kawasan seperti konflik di Kamboja di tahun 1980-an. Sekedar catatan, beberapa minggu lalu Dubes baru Kambodja mengadakan courtesy call kepada saya (sebagai duta besar RI untuk Kuwait) di KBRI Kuwait. Dia mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas sumbangsih dan peranan aktif

Indonesia (pada masa Menlu Ali Alatas dan Mochtar Kusumaatmadja) dalam menyelesaikan konflik panjang antara PM Hun Sen dan Pangeran Ranaridh. Kelima, keberhasilan Indonesia dalam menyelesaikan konflik-konflik dalam negerinya sendiri seperti konflik Ambon, Poso, Sambas dan Aceh. Keberhasilan ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk meningkatkan rasa percaya dirinya untuk ikut membangun hubungan lebih baik antara Barat dan Islam.

Pamor dan citra AS di bawah kepemimpinan Obama semakin terangkat di mata Dunia Muslim. Jika pendahulunya, Presiden Bush, disambut dengan berbagai hiruk pikuk unjuk rasa ketika berkunjung ke Indonesia (Bogor) beberapa tahun lalu, kita yakin unjuk rasa yang serupa itu tidak akan terjadi jika di kemudian hari Presiden Obama berkunjung ke negeri ini. Kunjungan Presiden Obama akan disambut dengan baik, senang, simpatik, dan meriah, lebih-lebih karena dia sudah tidak melanjutkan kampanye war on teror yang secara masif dan agitatif dijual oleh pendahulunya.

Lembaran Baru

Ke depan lembaran baru hubungan AS (Barat pada umumnya) dan Dunia Muslim harus dibina dan dikembangkan agar lebih dekat, lebih bersahabat, lebih baik dan lebih bermanfaat untuk kepentingan dan kemaslahatan kedua belah pihak dan untuk kepentingan dan kemaslahatan masyarakat internasional pada umumnya. Dalam konteks ini, Indonesia dapat secara aktif- konstruktif memainkan peranan pentingnya dalam menjembatani hubungan baru AS (dunia Barat pada umumnya) dan Dunia Muslim itu. Kita berharap misi Indonesia ini dapat terwujud secara kongret dan nyata dalam bangunan dialog, kerja sama dan kemitraan strategis antara AS (Barat) dan Dunia Muslim sehingga dampak positif dan manfaat besarnya dapat dirasakan bersama. Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia, baik secara sendiri maupun secara bersama dengan Organisasi Konferensi Islam (OKI), diharapkan dapat mengembangkan kemitraan strategis dan kerja sama antara Barat dan Islam. Ke depan Dialog of Civilizations antara Barat dan Dunia Muslim lebih diutamakan dan dilaksanakan dalam rangka mencegah terjadinya Clash of Civilizations yang diramalkan oleh Samuel P. Huntington.

Kedaulatan Rakyat, 12 Februari 2000

Related Post

 

Tags: