YOGYA (KR) – Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Prof A Malik Fadjar mengingatkan, keinginan Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (IAIN Suka) Yogyakarta untuk menjadi universitas perlu dipikirkan lagi. Sebab, selain membutuhkan dana besar, juga memerlukan design yang matang secara keseluruhan. Menunjuk contoh, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang kini menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), ternyata masih memunculkan persoalan-persoalan.

Menteri mengemukakan hal itu dalam ceramahnya tentang ‘Kebijakan Pendidikan Nasional pada Pendidikan Tinggi Agama Islam’, Selasa (22/1) sore di IAIN Suka Yogyakarta. Hadir pada kesempatan itu, Rektor IAIN Suka, Prof Dr Amin Abdullah dan para dosen di perguruan tinggi tersebut.

Menurut Malik Fajar, pihaknya takkan menghalangi niat IAIN Suka untuk berubah menjadi universitas. Hanya saja, untuk menuju ke arah itu dibutuhkan konsep, dana dan sarana yang tidak sedikit. Selain itu, niat berubah juga jangan karena iri dengan perguruan tinggi lain. Saat IAIN Syarif Hidayatullah berencana menjadi universitas, misalnya, kata Malik Fajar, perlu dana Rp 10 miliar. “Karena, kita harus menggunakan tenaga dosen dari perguruan tinggi lain yang biayanya tidak murah. Sekali dua kali memang masih lillahita’ala, tetapi setelah itu tetap harus dihitung,” katanya.

Kalaupun ada rencana kucuran dana dari Islamic Development Bank untuk keperluan tersebut, menurut Malik Fajar, perlu ada pembicaraan serius. Karena, berdasarkan pengalaman yang pernah dialami, mengurus dana di lembaga tersebut tidak mudah.

Menjawab pertanyaan salah seorang dosen di IAIN Suka, Abdul Munir Mulkan yang menyatakan, niat perubahan itu ide dasarnya untuk Islamic Studies, Malik Fadjar menyatakan, untuk keperluan itu IAIN Suka bisa melakukannya. Apalagi, perguruan tinggi Islam ini memiliki nama besar. Sejak awal, kata Mendiknas, Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) ini sarat dengan gagasan dan idiologi besar. Begitu pula saat menjadi Institut, juga memuat sinyal-sinyal besar. Namun, sinyal-sinyal itu tak mampu ditangkap, sehingga IAIN menjadi seperti terpinggirkan.

“Kita ini punya lembaga pendidikan besar yang mestinya bisa menjadi kekuatan dan inspirasi untuk mengembangkan ke depan. Namun, pengembangan itu tentunya bukan dari sisi fisiknya,” tandas Malik Fadjar.

Menurut Mendiknas, ke depan IAIN ini harus memantapkan brand marking. Keunggulan yang dipunyai harus dikembangkan. Dengan begitu, IAIN tidak terkesnn terasing. Selain itu, IAIN Suka harus memhangun citra (image building). Fakultas-fakultas yang ada harus dimantapkan, sehingga monciptakan kepercayaan semakin kuat kepada masyarakat. “Kita khawatir, kalau kelak jadi universitas, jualannya malah susah, sehingga perlu pemikiran serius,” kata Menteri.

Menanggapi seorang penanya yang merasa pesimis terhadap pembahan IAIN Suka menjadi universitas setelah mendengar penuturan Mendiknas, Malik Fadjar menyatakan jangan shock dulu. “Maksud saya, ketika IAIN mau jadi universitas jangan tanggung-tanggung, hanya saja perlu design yang matang. Pendidikan di sini berat, sehingga perlu ada perbaikan-perbaikan,” ujarnya lagi. (Obi/Ugi)-n

KEDAULATAN RAKYAT, RABU WAGE 23 JANUARI 2002