INSTITUT Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan Kampus Putih, kini siap-siap berubah menjadi universitas. Untuk mengupas lebih jauh masalah tersebut, KR menuliskannya secara bersambung mulai hari ini.

BUKAN karena latah atau sekadar ikut-ikutan jika IAIN Suka Yogyakarta berencana menjadi sebuah universitas. Gagasan tersebut melalui proses yang memakan waktu cukup lama. Di sisi lain, latar belakang perubahan itu juga karena faktor sudah lamanya perguruan tinggi (PT) ini menjadi institut.

“Pembicaraan untuk mengubah IAIN menjadi universitas sudah cukup lama, namun baru merasa matang pada Januari 2002  ini,” ujar Rektor  IAIN  Suka Yogyakarta, Prof Dr Amin Abdullah, dalam suatu perbincangan di ruang kerjanya, belum lama ini.

Meski  rencana  tersebut  sudah  dimatangkan, kata Prof Amin Abdullah, bukan berarti perubahan itu dilakukan seketika. Namun, tetap melalui tahapan-tahapan. “Perubahan itu tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan,” katanya, seraya menyatakan, bisa jadi perubahan IAIN menjadi universitas baru bisa dilakukan setelah dirinya tidak lagi menjabat rektor. Dengan kata lain, bisa 2-3 tahun lagi baru dapat direalisasikan.

Hal itu perlu dilakukan, karena pihaknya tak ingin setelah IAIN berubah menjadi universitas, PT ini justru ‘tenggelam’. “Kami harus yakin, setelah menjadi universitas, basic IAIN sebagai perguruan tinggi Islam harus dipertahankan dan lebih kokoh,” tegas Prof Amin.

Karena itulah, katanya, perubahan itu tidak dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan masih perlu waktu. Sambil menunggu waktu yang tepat, pihaknya jauh-jauh hari melakukan persiapan-persiapan, terutama dari sisi sumber daya manusia (SDM).

Menjawab pertanyaan soal kekhawatiran Mendiknas A Malik Fadjar agar perubahan itu dipikirkan lagi, karena memerlukan dana besar dan konsep yang jelas, Prof Amin Abdullah menilai, apa yang disampaikan Mendiknas itu hal yang wajar. Di sisi lain, pemyataan Mendiknas juga semakin memacu Senat IAIN Suka untuk lebih serius. “Soal dana yang besar itu realita yang harus dihadapi,” katanya.

Begitu pula, jika kelak setelah berubah menjadi universitas, PT ini menjadi lebih mahal dari sekarang, merupakan konsekuensi. Meski begitu, Rektor IAIN optimistis masyarakat bisa memahami, apalagi kaitannya untuk memajukan pendidikan. “Jer basuki kan mawa bea,” katanya mengutip peribahasa Jawa. Artinya, proses pendidikan untuk menghasilkan produk yang berkualitas membutuhkan biaya yang tidak bisa sekadar pas-pasan. (Obi)-o

KEDAULATAN RAKYAT, SELASA KLIWON 29 JANUARI 2002 (15 DULKANGIDAH 1934)