Okrisal Eka Putra, Alumnus Al Azhar dengan Tesis Marital Rape dan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

PERBINCANGAN mengenai wanita dan persoalannya adalah hal yang sangat menarik, selalu segar dan aktual serta tidak mengenai batas usia, etnis dan status sosial, baik itu dibicarakan di kalangan laki-laki sendiri sebagai pemerhati mutlak ataupun oleh perempuan sendiri sebagai objek, maka tidak heran majalah dan tabloid wanita jauh lebih banyak dari tabloid yang membicarakan persoalan laki-laki. Dan ini tidak berarti laki-laki bukan merupakan objek menarik tapi harus diakui bahwa kaum hawa lebih memiliki nilai pesona jual yang tinggi di setiap pemberitaan.

Fenomena kekerasan terhadap wanita (baca: istri) mulai menggeliat ke permukaan sebagai gejala masyarakat lebih disebabkan adanya pemikiran modern tentang hak-hak perempuan, yang melahirkan suatu revolusi reformatif untuk perlindungan terhadap perempuan dari tindak pidana kekerasan yang dilakukan oleh siapapun.

Tentu saja ini lahir akibat faktor-faktor yang melatarbelakangi timbulnya gejala tersebut yang memberikan gambaran tentang suatu perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Harus diakui problematika kekerasan terhadap wanita menimbulkan aspek-aspek negatif dan positif bagi masyarakat. Juga lebih jauh menimbulkan permasalahan dengan perumusan peraturan pidananya, agar memberikan gambaran yang jelas tentang hak-hak seorang wanita dan agar pandangan masyarakat tentang kekerasan terhadap istri bisa berubah dan menganggap itu sebagai sebuah kiminal bukan kejadian biasa atau paling tidak laki-laki menyadai bahwa menyakiti perempuan adalah perbuatan tercela dengan berbagai alasan apapun.

Kekerasan terhadap istri yang dilakukan suami selalu terjadi dalam praktik namun tak pemah dan jarang dipersoalkan secara terbuka, selain karena tidak adanya legal action yang menjaminnya juga budaya kita yang patriarkhi belum mendukung para istri untuk mempersoalkannya, (Media Indonesia, 6 Februari 1993).

Perbedaan pandangan yang terjadi dalam masyarakat itu dapat dipastikan karena perbedaan paradigma yang berkaitan dengan sistem nilai yang dianut, seperti pertimbangan atas moal dan kepribadian, adat, budaya, agama dan hal-hal yang dianggap prinsip yang seing dijadikan argumentasi sehingga persoalan ini hanya hangat dalam tataran wacana.

Padahal saat ini, kekerasan terhadap wanita sudah merupakan masalah sosial yang serius, tetapi kurang mendapat perhatian dan tanggapan dari masyarakat. Kasus-kasus kekerasan terhadap wanita tidak terungkap secara terbuka karena ada anggapan bahwa keluarga sebagai sebuah institusi yang merupakan wilayah pibadi sehingga tidak seorang pun bisa mencampurinya. Di samping itu, nilai yang berkembang bahwa memperlakukan istri sekehendak suami merupakan hak mutlak suami sebagai pemimpin dan kepala rumah tangga. Ditambah faktor malu jika peristriwa semacam ini diketahui oleh orang lain membuat mereka memilih diam dengan alasan klise, demi menjaga keutuhan keluarga.

Jelas, kondisi demikian membuat para istri memilih memendam persoalan itu sendirian dan melegitimasi pandangan yang keliru bahwa suami adalah pengontrol istri, sistem patiarkhi masyarakat sudah telanjur mengkulturkan norma feminin yang melekat pada perempuan. Faktor agama juga menjadi pihak tertuduh menjadi faktor yang membuat subur kekerasan terhadap istri. Persoalan Kekerasan Terhadap Wanita dan kekerasan dalam rumah tangga dianggap mendapat legitimasi agama (dalam hal ini agama Islam). Abdurrahman Wahid pernah menyinggung dalam sebuah tulisannya tentang persoalan ini bahwa kebudayaan adalah suatu yang subordinat kepada kebenaran ajaran agama.

Dari kutipan itu kita sampai pada kesimpulan, jika kita berbicara tentang sesuatu dari kaca mata agama, itu berarti sudah mencakup pembicaraan mengenai kebudayaan. Artinya bila kita membicarakan kedudukan perempuan dan laki-laki menurut perspektif agama, itu berarti kita pun telah bicara mengenai budaya tentang hal yang sama, jadi jika mengatakan bahwa budaya kita adalah patiarkhi berarti itu salah satu faktor yang tercermin tentang pemahaman agama. Padahal agama Islam yang dianut sebagian besar masyarakat Indonesia, mengandung ajaran-ajaran tentang bagaimana  menghormati dan memuliakan serta memperlakukan wanita dan istri dengan  baik dan lemah lembut.

Alquranlah yang pertama kali telah memproklamasikan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang merupakan sebuah aksi reformatif revolusionaristrik pada masa ketika diturunkannya, saat agama dan sosio kultur begitu mengecam eksistensi perempuan, kemuliaannya dirobohkan, dibiarkan dalam belenggu tradisi yang sengaja dibentuk dengan mencari legitimasi dai teks-teks suci bahwa perempuan adalah makhluk kedua (secondary creation). Dengan demikian Alquran membeikan prinsip-prinsip persamaan dan keadilan yang sangat relevan untuk melakukan tafsir ulang pada relasi jender antara laki-laki dan perempuan. Bahkan di banyak riwayat ditemukan bagaimana Rasulullah dan para sahabat sangat lembut mempergauli istri dalam kehidupan berumah tangga.

Persoalan ini erat kaitannya dengan sikap bagaimana memahami ajaran-ajaran suatu agama. Bagi kalangan yang menganggap bahwa ajaran agama adalah serangkaian tuntutan yuridis yang formalis seperti yang tergambar dalam kitab-kitab fiqh yang sarat dengan aspek-aspek kultural tertentu kekerasan dalam rumah tangga menjadi sesuatu yang biasa. Akan tetapi bagi mereka yang melihat agama sebagai tuntutan moralitas yang mengarahkan manusia untuk mengoptimalkan nilai kemanusiaannya, maka kekerasan terhadap istri adalah suatu hal yang tercela dan sangat tidak dianjurkan.

Dalam literatur ajaran Islam ditemukan norma yang mengajarkan penghormatan kepada kaum perempuan. Alquran dan Hadis menjelaskan bahwa perempuan mempunyai kedudukan yang sama ketika kita berbicara tentang nilai kebahagiaan yang dituju dalam sebuah rumah tangga (Al Baqarah: 187). Suami digambarkan sebagai pengayom dan pelindung istri. Bahkan dalam sebuah hadis ditegaskan bahwa seorang suami yang baik adalah suami yang perlakuannya paling baik terhadap istrinya.

Perlakuan ini dicontohkan sendiri oleh Rasulullah salallahu alahi wasalam, sebagaimana diiwayatkan Beliau selalu membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, sehingga beliau tidak segan-segan menjahit baju dan memperbaiki terompah dengan kedua tangan beliau yang penuh berkah. Dan inipun diikuti oleh sahabat-sahabat Rasulullah.

Jadi, nilai perkawinan dalam ajaran Islam merupakan hubungan seorang laki-laki dan wanita berdasarkan landasan mawaddah wa rahmah, saling mengasihi dan saling menempatkan masing-masing individu sebagai subjek dari setiap relasi yang mereka bina. Dan kedua pasangan sama-sama memiliki hak untuk memperoleh kebahagiaan.

Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga juga mengalami stagnasi ketika berhadapan dengan kultur dan kebudayaan masyarakat. Perlakuan keras suami terhadap istri sering mendapat legitimasi dengan anggapan itu merupakan hak suami untuk mendidik istrinya. Anggapan yang berkembang di tengah masyarakat bahwa perempuan posisinya dalam rumah tangga hanyalah pemuas nafsu belaka. Anggapan ini muncul karena wanita selalu diletakkan di bawah kekuasaan laki-laki, perempuan hanyalah objek sedangkan pria adalah subjek. Di samping konsep marjinalisasi, konsep lain yang serupa dalam wacana perempuan adalah domestikasi, yang berarti pembatasan ruang gerak perempuan karena domestik saja, ini bisa kita artikan dengan konsep Peng-iburumahtangga-an, implikasi dari pendeinisian ini adalah bahwa mereka dianggap secara ekonomis tergantung pada suami.

Pada akhirnya persoalan wanita dan perkosaan hak-hak mereka merupakan diskursus yang belum bisa dikatakan inal, untuk memahami realita kekerasan dalam rumah tangga sebagai salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan (violence against women) diperlukan kajian mendalam yang beroientasi kepada perempuan agar mitos-mitos yang menggiring pada pelestarian budaya viktimasi terhadap perempuan bisa hilang.   – o

KEDAULATAN RAKYAT, RABU LEGI 10 APRIL 2002 (27 SURA 1935)

Related Post

 

Tags: