YOGYA (KR) -Konsep perubahan IAIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) terus dimatangkan. Perubahan tersebut, bukan hanya secara fisik, tetapi juga keilmuan. Para mahasiswa juga turut dilibatkan, seperti dalam diskusi panel yang berlangsung Rabu (29/5) di Aula kampus setempat.

Diskusi  yang diprakarsai Dewan Mahasiswa (Dema) IAIN itu, dimaksudkan untuk mempertajam visi perubahan IAIN menjadi UIN. Hadir sebagai pembicara Rektor IAIN Suka, Prof Dr HM Amin Abdullah, Pembantu Rektor (PR) I, Dr Ahmad Minhaji MA dan sejumlah nara sumber seperti Dr Abdul Munir Mulkan, Dr Abdul  Rasjid dan lain-lain.

Mahasiswa IAIN begitu antusias, terbukti tempat duduk yang disediakan di ruang Aula I tak mencukupi, sehingga banyak peserta yang terpaksa berdiri. Soal ruangan diskusi yang kurang representatif itu, juga menjadi bahan pembicaraan Rektor IAIN yang tampil pertama dalam diskusi tersebut. Kelak jika sudah berubah, kata Amin Abdullah, kampus ini harus memiliki ruang seminar yang memadai, sehingga tidak ada peserta yang berdiri.

la mengaku prihatin, karena kampus putih itu tampak kumuh. Amin Abdullah kemudian menunjuk contoh bangunan Fakultas Ushulluddin yang dirasakan sangat memprihatinkan. Pihaknya berharap, setelah berubah menjadi UIN, kampus tersebut secara fisik juga mendukung untuk kenyamanan belajar dan lebih humanis. “Institusi manapun yang tidak mau mengembangkan diri bisa mati,” ujar Amin Abdullah.

Secara terpisah Guru Besar (Emiritus) Fakultas Syariah IAIN Suka Prof Drs H Asjmuni Abdurrahman, mengatakan perubahan status IAIN Suka Yogyakarta menjadi universitas merupakan kebutuhan masa depan. Demi perkembangan serta mengantisipasi tantangan masa depan, umat Islam memerlukan SDM yang mampu menerjemahkan ayat-ayat qauniyah yang terdapat dalam Alquran. (Obi/No)-o

KR, Kamis Legi, 30 Mei 2002 (17 Mulud 1935)