Gondokusuman, Bernas
Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan dan perkembangan yang terjadi, Departemen Agama (Depag) diharapkan dapat menyusun rencana kebijakan baru dan jelas ke depan. Langkah itu penting, terutama karena Depag sekarang ini tidak lagi menjadi induk semang IAIN dan STAIN, tetapi juga Universitas Islam Negeri (UIN).

Harapan tersebut disampaikan Rektor IAIN Suka (Sunan Kalijaga) Yogyakarta, Prof Dr Amin Abdullah, dalam seminar ‘Pengembangan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta’ di kampus setempat, Jalan Laksda Adi Sutjipo Yogyakarta. Seminar diadakan untuk mendiskusikan seputar kesiapan IAIN yang akan berubah menjadi UIN.

“Khususnya setelah diresmikannya IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai UIN pada bulan Mei 2002, seluruh komponen bangsa dan lebih-lebih Depag dirasa perlu menyusun blue print baru,” katanya di hadapan peserta seminar yang terdiri dari kalangan pimpinan fakultas, dosen dan pengurus lembaga kamahasiswaan.

Amin menambahkan, sebagai induk IAIN, STAIN dan UIN, Depag perlu berpikir lebih sungguh-sungguh dan sistematis dalam kerangka menata ulang lalu lintas pendidikan agama dan pendidikan umum di bawah Depag. Hal itu menurutnya, tidak semudah ketika Depag menata tingkat sekolah dasar hingga sekolah lanjutan tingkat atas.

“Untuk tingkat sekolah dasar dan menengah atas, secara kelembagaan tampaknya sudah cukup mapan, meskipun masih ada yang disebut dengan Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Namun untuk tingkat perguruan tinggi, persoalannya jauh lebih kompleks lagi,” paparnya.

Semua itu, lanutnya, merupakan bagian dari catatan sejarah panjang yang hendak diukir umat Islam Indonesia dalam menghadapi era globalisasi dan informasi. la mengingatkan umat Islam telah tertinggal dalam dua peristiwa penting peradaban dunia, yaitu apa yang dinamakan Revolusi Hijau dan Revolusi Industri.

“Apakah umat Islam sekarang ini akan tertinggal oleh revolusi di bidang informasi?” tanyanya.

Karena itu, Amin menyarankan agar diambil langkah strategis ke depan dengan melakukan tindakan korektif-evaluatif terhadap paradigma keilmuan yang dimiliki sekarang ini dan memberikan tawaran-tawaran baru bagi perjalanan yang masih jauh ke depan.

Selain Amin, tampil sebagai pemateri beberapa pakar dari dalam dan luar IAIN Sunan Kalijaga. Di antaranya Prof Dr
Machasin, Umar A Janie, Mochtar Naim, Prof Dr Musya Asy’ari, Kuntowijoyo, Kamsul Abraha, Dr Mulyadi Kartanegara dan dan Dr Abdul Munir Mulkhan SU.

Dalam makalah berjudul ‘Pengembangan Fungsi Kesalehan dalam Ilmu Rekayasa Sosial’, Munir Mulkhan menjelaskan pentingnya ilmu. Selain berfungsi ibadah, ilmu juga berguna bagi pencapaian tujuan-tujuan ideal kehidupan manusia sehingga dapat memenuhi tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi. (idy)

BERNAS, KAMIS PON 19 SEPTEMBER 2002