Grand Desain Fisik Sudah Dibahas

SLEMAN- Tanpa kajian dan rencana, dikhawatirkan pengembangan IAIN Sunan Kalijaga dapat terjebak dalam bentuk yang bersifat ad hoc atau tambal sulam. Jika ini sampai terjadi, bakal menimbulkan masalah baru.

Selain itu, kata Amin, juga perlu dilakukan studi analisis kelayakan terhadap pengembangan IAIN dan langkah-langkah pengembangan jangka pendek, menengah maupun panjang.

Amin optimistis, upaya pengembangan IAIN secara keseluruhan merupakan keniscayan yang memerlukan proses pengkajian yang seksama dan perencanaan sistematis.

Menyinggung perubahan IAIN menjadi UIN, Amin menjelaskan, pada Agustus dan September 2002 telah dilakukan pembahasan intensif bersama dekan-dekan fakultas, pimpinan IAIN, dan konsultan perencana. Pembahasan ini untuk menentukan grand desain pengembangan fisik IAIN di masa depan.

Pembahasan meliputi tiga hal,yakni bangunan umum, bangunan fakultas dan bangunan pendukung. Bangunan itu diintegrasikan tiga simbol budaya, yakni Islam, Jawa dan modern. Pada Oktober dan November direncanakan akan
memasuki tahap detail desain.

Pada bagian lain, Amin juga memaparkan pengembangan bidang perpustakaan dan sistem informasi. Setelah didata, ternyata perpustakaan IAIN masih jauh dari rasio ideal.

Menurut Amin, rasio jumlah koleksi dan mahasiswa, idealnya 1:150 eksemplar. Artinya, dengan jumlah mahasiswa 10.744 dan jumlah koleksi 119.733 eksemplar, rasionya adalah 1:11 eksemplar. Sedangkan rasio ruang baca untuk mahasiswa dan luas adalah 1: 1,25 m2.

“Tetapi, saat ini, rasio mahasiswa dan luas sarana ruang baca baru mencapai 1 banding 0,437,”jelas Kata Amin. (uki)

Radar Jogja,  Jumat Legi 27 September 2002