Drs Hamdan Daulay MSi, Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah IAIN Suka Yogyakarta.

EKSISTENSI IAIN Sunan Kalijaga tampak-nya terus menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat. Di satu sisi, sering dipuja sebagai lembaga pendidikan Islam yang diharapkan mampu menjadi benteng moralitas. Namun di sisi lain sering dinilai sinis sebagai pendidikan kelas kedua (second class). Penilaian sinis itu adalah beralasan. Sebab, perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Departemen Agama ini boleh dikatakan perguruan tinggi yang termiskin. Bahkan ada anggapan, bahwa mahasiswa yang kuliah di IAIN orang-orang desa yang miskin. Keinginan untuk meningkatkan kualitas dengan menaikkan uang SPP sering mendapat hambatan dari mahasiswa lewat berbagai demonstrasi.

Kini kualitas IAIN Sunan Kalijaga menjadi sorotan masyarakat. Kejayaannya tatkala Prof Dr Mukti Ali masih aktif di dalamnya sudah berubah dibanding dengan kondisi saat ini. Barangkali kalau dilhat dari pembangunan gedung-gedung perkuliahan ada kemajuan, namun dari gairah keilmuan barangkali ada kemunduran. Dibanding dengan IAIN Sumatera Utara saja sebagai IAIN termuda, IAIN Suka tampaknya tertinggal. Kalau misalnya ukuran kemajuan dilihat dari jumlah dosen yang berpredikat doktor, jelas IAIN Suka harus mengakui ketertinggalannya.

Di tengah ketertinggalan tersebut tentu IAIN Suka harus berpikir keras membenahi diri. Predikat sebagai IAIN tertua tentu menjadi beban berat sekaligus tanggung jawab besar untuk menunjukkan kualitas yang bisa dibanggakan. Tatkala IAIN Jakarta sudah melangkah lebih maju dengan berubah nama menjadi Universitas Islam Negei (UIN), IAIN Suka juga harus melakukan perubahan. Budaya lamban dan konflik internal yang ada selama ini harus ditinggalkan agar IAIN Suka bisa mengejar ketertinggalannya. Apakah IAIN Suka akan berubah nama menjadi UIN atau tetap IAIN, yang jelas pengembangan keilmuan di IAIN harus segera dilakukan.

Gagasan mengubah IAIN menjadi UIN sesungguhnya sudah lama dilontarkan Menteri Agama Tarmizi Taher. Namun dari kalangan Departemen Agama sendiri masih ada pendapat yang pro dan kontra. Bahkan pada tahun 1993, Tarmizi Taher pernah mengusulkan agar di perguruan tinggi umum negeri dibuka Fakultas Agama. Ide ini pun hingga kini masih belum teraktualisasikan.

Keinginan mengubah IAIN ke UIN memang mempunyai alasan logis, yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam yang dikelola Departemen Agama. Sebab dengan memakai nama UIN, berarti fakultas-fakultas umum pun akan dibuka di UIN. Bagi pihak yang kontra, dengan dibukanya fakultas umum di UIN, akan menjadi bencana bagi fakultas-fakultas agama. Sebab dengan hadimya fakultas umum di UIN, akan membuat fakultas agama menjadi kelas kedua (second class).

Rencana perubahan IAIN ke UIN adalah kajian yang menaik. Perubahan tersebut bukanlah sekadar perubahan nama, namun juga mengubah jumlah fakultas yang ada. Apakah perubahan IAIN ke UIN bukan suatu tindakan yang latah? Sebab IAIN saja hanya memiliki fakultas agama (Adab, Dakwah, Tarbiyah, Syai’ah dan Ushuluddin), tampaknya kualitasnya masih berada di bawah perguruan tinggi umum negeri. Berbagai persoalan inilah yang akan diuraikan dalam tulisan ini.

Pusat Pengkajian Islam

Ketika IAIN didiikan 51 tahun lalu diharapkan menjadi pusat pengkajian Islam di tanah air. Hal ini sesuai dengan pendapat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam buku Muslim di Tengah Pergumulan, bahwa Indonesia yang memiliki umat Islam terbesar di dunia diramalkan akan menjadi pelopor kebangkitan Islam. Fenomena yang ada saat ini tampaknya sudah mulai mendukung pendapat Gus Dur tersebut. Fenomenanya dapat dilihat pada pendidikan Islam yang sudah mulai berkembang pesat dewasa ini. Dalam hal ini IAIN merupakan motor penggeraknya.

Pendapat yang sama juga dikemukakan Deliar Noer dalam bukunya Pendidikan Islam di Indonesia. la berpendapat bahwa IAIN mempunyai peran yang cukup besar dalam usaha mengembangkan pemikiran keislaman. Namun Deliar Noer masih khawatir terhadap kemampuan IAIN untuk mengembangkan tugas besar tersebut. Sebab bukanlah hal yang mudah untuk mewujudkan IAIN sebagai pusat pengkajian Islam. IAIN jelas masih menghadapi kendala untuk melangkah ke sana.

Fakultas Pelengkap

Keinginan untuk mewujudkan IAIN sebagai pusat pengkajian Islam haruslah ditopang oleh kualitas akademik yang baik. Dalam hal ini minimal ada dua faktor yang dominan untuk meningkatkan kualitas akademik tersebut. Yaitu, tenaga pengajar yang berkualitas dan perpustakaan yang lengkap. Apabila kedua faktor tersebut sudah dapat menunjukkan kualitas yang baik, maka IAIN pun diharapkan mampu menjadi pusat pengkajian Islam di tanah air.

IAIN sebagai perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Departemen Agama tampaknya masih banyak menghadapi kendala. Salah satunya karena keringnya dana Departemen Agama dibanding departemen-departemen yang lain. Sehingga ide-ide cemerlang yang dibuat departemen agama sering kandas di tengah jalan karena alasan kekurangan dana.

Adanya rencana Departemen Agama mengubah IAIN sesungguhnya tidak mendukung realisasi dari pengembangan pusat pengkajian Islam di tanah air. Justru dengan lahirnya UIN akan memperlambat proses pengembangan pusat pengkajian Islam. Sebab dapat dibayangkan fakultas-fakultas agama yang ada di UIN akan terlambat perkembangannya dibandingkan fakultas umum walaupun sama-sama berada di bawah UIN. Ini dapat dilihat dari kasus yang ada di beberapa perguruan tinggi Islam seperti UII, UMY, UMS, dan lain-lain. Pemakaian nama Islam di perguruan tinggi tersebut hanyalah sekadar label saja. Justru fakultas yang maju perkembangannya adalah fakultas-fakultas umum. Sedangkan fakultas-fakultas agama tak ubahnya sebagai pelengkap penderita saja.

Kalau memang pemerintah mempunyai keinginan yang sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam di tanah air, merupakan conditio sin qua non bagi pemerintah untuk membei dana yang layak kepada IAIN (Departemen Agama). Dengan demikian kemiskinan yang diderita IAIN, yang konon dana untuk 14 IAIN sama dengan dana untuk 1 IKIP, bisa lebih adil dan merata. Sebab bagaimanapun, civitas akademika IAIN adalah putra-putra bangsa yang turut bahu-membahu dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan membina moral umat yang dilanda krisis moral.

Sesungguhnya bukanlah suatu keniscayaan apabila IAIN diharapkan mampu menjadi pelopor kebangkitan Islam di tanah air. Dan untuk mewujudkan cita-cita tersebut haruslah ditopang oleh dua faktor yang dominan. Yaitu, tenaga edukatif yang berkualias dan perpustakaan yang lengkap. Ini semua bisa terwujud manakala ada niat yang tulus dan dukungan nyata dari semua lapisan masyarakat.   – k

KEDAULATAN RAKYAT, RABU WAGE 25 SEPTEMBER 2002 (18 REJEB 1935)

Related Post

 

Tags: