SIVITAS akademika Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mendukung upaya Pemkab/Pemkot di Propinsi DIY khususnya, dalam memberantas berbagai penyakit masyarakat (pekat). Dukungan itu diberikan karena di antara misi fakultas sangat terkait dengan amar makruf nahi munkar, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.

“Kalaupun ada Pemkab/Pemkot yang mengajak kerjasama dengan kami dalam hal pemberantasan pekat insya Allah kami siap sesuai dengan kemampuan yang ada pada kami,” kata Dekan Fakultas Dakwah Drs Syukriyanto AR MHum ketika ditemui di kantornya, Rabu (4/12).

Menurut Syukriyanto, sesuai misi yang diembannya, segenap sivitas akademika secara melekat (built-in) telah ikut berupaya melakukan pemberantasan pekat. Sejumlah dosen dan beberapa mahasiswa secara teratur melakukannya lewat tulisan di berbagai media massa. Bahkan bekerja sama dengan pihak eksternal, dalam beberapa kali kesempatan Fakultas Dakwah ikut mengisi rubrik debat opini yang diselenggarakan harian ini.

Sedang para mahasiswa melakukannya secara langsung berhadap-hadapan dengan masyarakat baik untuk tujuan yang bersifat preventif maupun kuratif. “Fakultas Dakwah mempunyai dua jurusan yang selalu berhubungan dengan kelompok-kelompok masyarakat yang punya masalah,” tutumya.

Para mahasiswa jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) selama bulan Ramadan lalu berpraktik sebagai tenaga bimbingan dan konseling dengan mendatangi keluarga-keluarga miskin, broken home, anak jalanan di rumah-rumah singgah, serta penduduk yang bermukim di pinggiran kali (girli). Kepada komunitas masyarakat yang cukup rentan terhadap pengaruh berbagai jenis pekat ini para mahasiswa melakukan tindakan yang bersifat preventif dalam bentuk memberikan bimbingan moral dan mental.

Ada kalanya juga tindakan yang dilakukan bersifat kuratif karena ada di antara anggota keluarga yang bersangkutan telah terlibat dalam berbagai jenis kejahatan, termasuk menjadi pecandu narkoba. Sedang para mahasiswa jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) lebih menitikberatkan upaya pemberantasan pekat lewat ceramah-ceramah di sejumlah desa binaan.  “Jadi kalau mahasiswa BPI selalu kita dorong ikut melakukan pemberantasan pekat terhadap individu-individu secara kasus per kasus, sementara mahasiswa PMI melakukannya secara kelompok di di desa-desa binaan,” ujar Syukri.

Karena mahasiswa tidak imun terhadap berbagai pekat, mahasiswa Fakultas Dakwah pun merasa perlu membentengi diri. Lewat organisasi internal, BEM maupun SM, secara berkala diselenggarakanlah ceramah dan diskusi yang bertujuan ganda. Selain dalam kerangka membentengi diri, sekaligus dapat menambah wawasan sebagai bekal ketika mereka terjun ke masyarakat. (No)-c

KEDAULATAN RAKYAT, RABU LEGI 11 DESEMBER 2002 (6 SAWAL 1935)