Hamdan Daulay, Dosen Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

DI tengah penderitaan yang menimpa Aceh ternyata muncul semangat nasionalisme dan ukhuwah islamiyah yang luar biasa dari segenap komponen bangsa. Konsep ukhuwah islamiyah mengibaratkan bahwa umat islam bagaikan satu tubuh. Manakala ada satu bagian yang merasa sakit, maka bagian yang lain ikut merasa sakit. Konsep ukhuwah islamiyah sekarang tidak lagi sekedar retorika, tapi sudah menjadi realita. Demikian pula dengan semangat nasionalisme dari sesama anak bangsa, tanpa membedakan suku, agama, bahasa dan adat-istiadat, kini benar-benar teruji lewat tragedi Aceh.

Sebagai wujud nyata dari semangat nasionalisme dan ukhuwah islamiyah, segenap warga negara dari berbagai pelosok di tanah air dan juga luar negeri, bahu-membahu memberi bantuan. Masyarakat Aceh tidak perlu berkecil hati dan curiga terhadap nilai persaudaraan dari saudara sebangsa dan setanah air. Kecintaan dan ketulusikhlasan segenap komponen bangsa terhadap masyarakat Aceh dengan sendirinya teruji lewat momentum musibah ini. Ternyata betapa besar perhatian dan kecintaan segenap rakyat Indonesia terhadap masyarakat Aceh. Ini berarti semakin memperjelas bahwa Aceh bukanlah anak tiri, melainkan anak kandung dari ibu pertiwi ini. Nilai ukhuwah islamiyah bisa diukur dari kerelaan berkorban dan mengorbankan sesuatu yang dimiliki untuk kepentingan sesama saudara. Pengorbanan yang tulus tentu memiliki nilai yang tak terhingga besarnya, sehingga membuat esensi persaudaraan semakin kokoh.

Terkait dengan ukhuwah islamiyah, Islam juga mengenal konsep kurban. Esensi yang terkandung dalam ajaran kurbin ini memiliki banyak persamaan dengan nilai-nilai ukhuwah islamiyah. Kurban juga mengandung arti untuk merealisasikan nilai-nilai ukhuwah islamiyah. Seseorang yang melaksanakan kurban berarti memiliki kerelaan untuk mengorbankan yang ia miliki bagi kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan. Lazimnya mereka yang berkurban adalah tergolong memiliki kemampuan lebih, dan kurban itu diberikan kepada mereka yang membutuhkan, seperti anak yatim dan fakir miskin.

Ketika gempa dan tsunami melanda ratusan ribu umat Islam yang ada di Aceh, bagaimana aktualisasi kurban dalam menyikapi realita ini. Tatkala Aceh memiliki banyak anak yatim, janda, fakir miskin, hingga orang yang tak memiliki apa-apa lagi, sepantasnyalah mereka yang lebih diprioritaskan menikmati kurban yang kita miliki. Apalagi bagi umat Islam yang sudah pernah berkurban, untuk kegiatan kurban berikutnya sepantasnyalah disalurkan bagi saudara yang dilanda musibah di Aceh.

Seandainya kambing, sapi dan hewan kurban lainnya yang akan dikurbankan umat Islam di tanah air tahun ini ditukarkan dengan uang, barangkali bisa mencapai ratusan miliar rupiah. Manakala dana sebesar itu disalurkan untuk umat Islam yang ada di Aceh, tentu sangat besar artinya dan akan bisa mengurangi beban penderitaan mereka. Pengorbanan untuk mereka tentu tidak harus berwujud hewan kurban, melainkan harus disesuaikan dengan prioritas kebutuhan mereka. Bisa saja dana kurban itu dalam bentuk pakaian, makanan, biaya pendidikan hingga biaya untuk pembuatan rumah tempat tinggal.

Sungguh semakin nyata aktualisasi kurban dan nilai ukhuwah islamiyah manakala ada perhatian dengan skala pioritas bagi umat yang sangat membutuhkan bantuan. Apalagi dalam tragedi Aceh yang memilukan ini, tentu bisa dibayangkan betapa banyak anak yatim dan fakir miskin yang sangat mengharapkan uluran tangan dari sesama saudaranya. Ketika mereka dalam kondisi kelaparan, kedinginan dan ketakutan, sepantasnyalah kita memberi pengorbanan untuk mereka. Apalagi dalam momentum hari raya kurban,  tentu setiap muslim diuji keikhlasannya untuk berkorban sebagai bukti nyata kecintaannya kepada Tuhan.

Teladan kurban sudah tercatat dalam sejarah tatkala Nabi Ibrahim begitu ikhlas mengorbankan anaknya (Ismail) demi kecintaannya kepada Tuhan. Demikian pula dengan teladan pengorbanan yang muncul sepanjang sejarah, esensinya adalah pada keikhlasan untuk berkorban, bukan pada besar kecilnya nilai pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan memiliki nilai yang jauh lebih lebih dibanding dengan pengorbanan yang diikuti pamrih atau muatan politik.

Pengorbanan yang ikhlas berarti tidak ada pamrih di dalamnya, atau dalam kata lain pengorbanan murni sebagai pengorbanan. Bentuk pengorbanan seperti inilah yang sesungguhnya yang sesuai dengan konsep ukhuwah islamiyah. Seseorang yang rela berkorban karena menganggap orang yang membutuhkan pengorbanan itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Kalau konsep ukhuwah, islamiyah ini bisa dipahami dengan baik, maka sesungguhnya tidak ada lagi keengganan untuk berkorban demi menolong sesama saudara, sekaligus sebagai aktualisasi kecintaan pada Tuhan.   c

Kedaulatan Rakyat, 20 Januari 2005

Related Post

 

Tags: