Hamdan Daulay, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

BENCANA alam yang melanda umat manusia sesungguhnya bisa dianalisis dari berbagai sudut pandang. Dari tinjauan ilmiah bisa diuraikan berbagai penyebab terjadinya bencana alam seperti gempa, tsunami, badai dan banjir. Namun di sisi lain, berbagai bencana yang melanda umat Islam juga bisa dianalisis dari aspek agama. Karena antara ilmu agama dan ilmu umum sesungguhnya bukanlah bertentangan, justru saling melengkapi antara satu dengan yang lain.

Ketika terjadi bencana gempa dan tsunami di Aceh banyak analisis dari tokoh-tokoh agama yang mengatakan bencana itu adalah ujian dan cobaan tuhan. Kemudian ketika muncul imbauan Sri Sultan HB X belum lama ini agar masyarakat Yogyakarta waspada terhadap ancaman badai tropis, berbagai usaha pun dilakukan untuk keluar dari bencana tersebut. Sri Sultan mengimbau masyarakat agar memanjatkan doa tolak bala. Kalangan agamawan pun mengikuti imbauan Sri Sultan dengan ikhlas. Masyarakat Yogyakarta memanjatkan doa  dengan cara dan keyakinannya masing-masing. Ada yang melakukan doa dengan kepercayaan  adat istiadat yang mereka yakini selama ini dengan mengumpulkan berbagai syarat seperti sayur  lodeh, kemenyan dan lain-lain.

Bagi umat Islam yang taat, doa tentu sepenuhnya dipanjatkan  kepada Tuhan, karena dalam  pandangan Islam bencana dan  kebahagiaan semata-mata datangnya dari Tuhan. Dalam menyikapi imbauan Sri Sultan tentang akan adanya bencana badai tropis melanda Yogyakarta, umat Islam memanjatkan doa sesuai ajaran Islam. Ada yang memperbanyak zikir, membaca Alquran, istighfar untuk mohon ampun kepada Tuhan atas berbagai kesalahan yang diperbuat selama ini. Bagaimanapun bentuk doa yang dilakukan oleh masyarakat, esensi dari doa itu sudah jelas adalah untuk mohon ampun kepada Tuhan dan memohon agar Tuhan menjauhkan bencana dari manusia. Lalu adakah hubungan doa dengan terjadi tidaknya bencana yang melanda umat manusia? Apakah orang yang berdoa bisa lepas dai bencana, dan apakah orang yang kena bencana karena kurang banyak berdoa. Lalu di mana kekuatan doa dalam pandangan agama?

Bicara tentang kekuatan doa, agama jelas mengajarkan agar setiap umatnya banyak berdoa. Soal apakah doa seseorang diteima atau tidak tentu hanya Tuhanlah yang mengetahui. Namun yang jelas ada syarat-syarat yang harus dilakukan sebagai usaha agar doa seseorang diterima. Di antaranya, doa dilakukan dengan penuh kekhusukan dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Sebab orang yang bergelimang dengan dosa, kecil peluang doanya bisa diterima. Agama justru menjelaskan bahwa doa orang-orang saleh, tetindas dan teraniayalah yang paling cepat terkabul.

Terkait dengan doa dan berbagai bencana yang menimpa umat manusia dewasa ini, tampaknya perlu direnungkan firman Tuhan yang berbunyi:
“Sungguh kejadian langit, bumi dan pergantian malam dan siang merupakan bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir, yaitu mereka yang selalu mengingat Allah sewaktu tegak, duduk dan ketika berbaring dan memikirkan kejadian langit dan bumi. Semua itu bukanlah Kau jadikan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka jagalah kami dari siksa neraka.”

Merenungkan ayat di atas betapa jelas peringatan Tuhan kepada umat manusia agar senantiasa berpikir atas berbagai kejadian, termasuk bencana alam yang melanda. Di balik semua musibah yang terjadi tentu ada hikmah yang patut direnungkan, sebagai bagian dari kekuasaan Allah. Untuk itu dalam setiap detik kehidupan, baik nikmat maupun bencana yang dihadapi manusia hams senantiasa dikembalikan kepada Tuhan lewat kekuatan doa.
Karena sesungguhnya doa yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan akan diterima atau dikabulkan Tuhan. Termasuk doa untuk keluar dari bencana. Hal ini sesuai dengan firman Tuhan: Hai orang-orang mukmin jika kamu takut kepada Allah, pasti Dia beri petunjuk kepadamu, serta mengampuni dosamu. Allah mempunyai karunia sangat besar. (QS. Al Anfal: 29)-a

KEDAULATAN RAKYAT, SELASA PON 15 FEBRUARI 2005

Related Post

 

Tags: