Hamdan Daulay, Dosen jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Di tengah kegersangan spiritual yang melanda umat manusia dewasa ini, peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, adalah bagaikan cahaya batin. Umat manusia yang terpuruk dalam krisis moral, sungguh sangat membutuhkan kesejukan dan pelita untuk menerangi jalan dari kegelapan. Jalan yang seolah dilanda kegelapan akan terasa terang benderang manakala keluhuran akhlak Nabi mampu diteladani. Betapa banyak keteladanan yang ditunjukkan nabi, mulai dari aspek kesederhanaan, kejujuran, keadilan dan keberpihakan kepada kaum miskin. Keteladanan nabi tidak hanya sekadar retorika, namun beliau mampu mewujudkan satunya kata dengan tindakan.

Sepanjang hidup nabi penuh dengan keteladanan, dan yang lebih utama dari sekian banyak teladanan itu adalah dari akhlak. Ahli sejarah telah mencatat bahwa nabi memiliki akhlak yang luhur, yang relevan diteladani sepanjang masa. Nabi mempunyai komitmen yang kuat pada kejujuran, kesederhanaan, keadilan, dan perdamaian. Ketika nabi mendapat tugas isra mikraj, yaitu perjalanan dari masjidil haram ke masjidil aqsha, kemudian naik ke langit, banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Peristiwa ini merupakan momentum sejarah yang sangat besar bagi umat Islam, karena dari perjalanan inilah turun kewajiban melaksanakan salat bagi umat Islam.

Salat sebagai esensi dari peristiwa isra mikraj tentu mengandung makna yang sangat luas. Di dalamnya terkandung ajaran ketaatan, kejujuran, keadilan dan segala sifat-sifat luhur lainnya. Ibadah salat sendiri bukanlah sekadar gerakan badan dengan berdiri, rukuk dan sujud, namun ayat-ayat yang dibaca dalam ibadah salat mencakup banyak hal. Idealnya, setiap muslim yang melaksanakan salat, ucapan dan tindakannya senantiasa dalam kebaikan. Sungguh sangat aneh manakala orang yang rajin salat justru bergelimang dengan perbuatan dosa, baik itu perbuatan korupsi, mencuri, berbohong, dan jenis kejahatan lainnya. Ini berarti mereka belum mampu memahami esensi salat yang menuntut satunya ucapan dengan tindakan.

Ketika praktik korupsi merajalela di Indonesia yang note bene penduduknya mayoritas muslim, sungguh sangat memprihatinkan dan kontras dengan esensi ibadah salat. Lebih memprihatinkan lagi pelaku kejahatan korupsi itu justru mencakup kalangan tokoh agama (departemen agama) yang semestinya bisa menjadi teladan moral di tengah masyarakat. Di sisi lain fenomena keagamaan di tengah masyarakat menunjukkan peningkatan, mulai dari bertambahnya tempat ibadah, banyaknya orang naik haji, suburnya majelis taklim. Namun gairah keagamaan tersebut, barulah sebatas ‘kulit’ yang belum mampu diaktualisasikan dalam tindakan. Nyatanya hingga saat ini begitu banyak kejahatan yang terjadi di tengah masyarakat. Padahal semua kejahatan tersebut bertentangan dengan ajaran agama. Ironisnya lagi, pelaku kejahatan itu justru banyak dai mereka yang memiliki wawasan luas tentang agama.

Adalah benar pendapat Annemarie Schimmel, dalam buku Dan Muhammad adalah Utusan Allah, tentang ketulusan cinta dan keluhuran akhlak Nabi. Nabi mencintai semua orang tanpa membedakan harta dan pangkat yang dimiliki. Bahkan Nabi mencurahkan cinta dan kasih sayangnya kepada anak yatim dan fakir miskin yang sering teraniaya dan tertindas oleh keserakahan dan keangkuhan orang lain. Nabi adalah penguasa yang jujur, adil, egaliter dan tegas dalam menegakkan kebenaran. Keluhuran akhlaknya dicatat dalam sejarah. Nabi berhasil membangun peradaban, dari peradaban jahiliah menjadi masyarakat yang berakhlak luhur. Semua tugas berat itu dilakukan Nabi dengan penuh ketabahan dan kesabaran. Sejarah mencatat, bahwa dalam mengemban tugas dakwah tersebut Nabi menghadapi tantangan yang cukup berat.

Di tengah beratnya tugas dakwah yang dihadapi nabi, dua tokoh besar yang selama ini banyak membantu perjuangannya wafat. Pamannya (Abu Thalib) dan istrinya (Chadijah) adalah orang yang banyak berjasa dalam perjuangan Nabi. Wafatnya kedua tokoh tersebut membuat Nabi benar-benar sangat berduka. Di tengah duka yang dalam itulah Nabi diperintahkan Allah Swt untuk melakukan Isra dan Mikraj.

Esensi Isra Mikraj
Mengenang kembali peristiwa Isra Milaraj Nabi, sering dijadikan momen kebangkitan moralitas umat yang semakin rapuh. Karena makna Isra Mikraj sesungguhnya tidaklah hanya terbatas pada perjalanan ke langit, namun yang lebih penting adalah hikmah atau pelajaran yang diperoleh dari perjalanan tersebut. Dari peristiwa tersebut turun perintah salat lima waktu sebagai usaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Salat juga adalah sebagai usaha untuk membersihkan diri dari noda dan dosa sekaligus sebagai bentenf dari krisis moral.

Kini, tatkala umat semakin parah dilanda krisis moral yang saigat memprihatinkan, dan tatkala kegersangan spiritual Semakin suram, peristiwa Isra Mikraj bagaikan embut penyejuk. Fenomena dekadensi moral saat ini sudah gemakin nyata dihadapan kita. Kebiadaban, korupsi, keserakahan, kekerasan, hingga pembunuhan antarsesama manusia kini sudah menjadi tontonan sehari-hari. Nilai kejujuran, keadilan, kerukunan, dan kasih sayang, kini menjadi barang langka. Krisis ini muncul seiring dengan diabaikannya nilai-nilai agama. Seandainya ajaran agama diamalkan secara sungguh-sungguh, nispaya tidak akan terjadi tindakan kekerasan.

Dalam memperingati peristiwa Isra Mikraj, membuat kita banyak merenung atas tragedi kisis moral yang terjadi selama ini. Kegersangan spiritual yang melanda umat manusia saat ini tampaknya sudah mencapai titik nadir yang memprihatinkan. Sepintas dari luar seolah ada kegairahan beragama di tengah masyarakat. Dengan melihat ritual-ritual ibadah seperti salat, puasa, haji dan Iain-lain, kita sering silau melihat penampilan isik seseorang. Padahal sesungguhnya kalau mau jujur, saat ini banyak orang berwajah topeng dengan berbagai atribut kesalehan yang melekat dalam diinya. Jelasnya banyak orang yang pura-pura saleh, tapi temyata penipu rakyat, koruptor dan banyak melakukan tindakan tercela.

Nilai Agama
Agama, sebagaimana didefinisikan Rolan Robertson, dalam bukunya Agama dan Analisis Sosiologis, adalah benteng moralitas bagi umat. Lewat agama diatur bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia, dan antara umat manusia dengan Tuhannya. Demikian pula dalam ajaran Islam, agama adalah petunjuk bagi manusia antarmanusia senantiasa terkontrol dalam tingkah laku yang luhur, saling mengasihi dan mencintai.

Dalam ajaran agama dinyatakan, manusia yang beriman adalah bersaudara. Yang kuat harus menolong yang lemah dan yang kaya harus menyantuni yang miskin. Dengan demikian diharapkan, kekayaan pangkat dan berbagai atribut yang membanggakan tidak lagi menjadi sumber konlik dan sumber kesenjangan sosial di tengah masyarakat.

Namun, ironisnya di tengah derasnya arus modernisasi dewasa ini, nilai-nilai agama pun seolah tercerabut dari akamya. Jahiliah baru seolah hadir kembali di tengah-tengah peradaban modern yang diagung-agungkan ini. Hukum rimba yang menganut pinsip homo homini lupus, sepertinya sudah menjadi budaya baru.

Modernisme dan materialisme yang sering membuat kesenjangan sosial, ditambah lagi dengan semakin maraknya penindasan dan ketidakadilan, semakin memperjelas kesenjangan tersebut. Akibatnya, begitu mudah meledak konflik. Rasa kecewa dan rustrasi yang sudah terpendam  lama, membuat orang begitu cepat marah dan melakukan tindakan di luar nalar.

Sungguh sangat relevan memperingati peringatan Isra Mikraj nabi di tengah krisis moral yang semakin memprihatinkan saat ini. Esensi dari peringatan itu tentu diharapkan dapat menyuburkan kembali nilai-nilai agama dalam diri umat. Sebab sesungguhnya terjadinya krisis moral saat ini adalah karena tercerabutnya nilai-nilai  agama di tengah masyarakat.

Kealpaan umat terhadap ajaran agama yang luhur itu membuat mereka buta dan tuli pada nilai kebenaran, sehingga muncul keserakahan, permusuhan, kebencian yang mudah menyulut pada tindakan kekerasan dan konflik.

Akhimya, lewat peingatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, kita hendaknya mampu merenungkan kembali sejarah perjuangan Nabi. Lewat perenungan tersebut kita mampu mengaktualisasikan keluhuran akhlak Nabi. Meneladani
Nabi SAW akan mampu mengikis berbagai kejahatan yang terjadi selama ini. Kebencian dan kekerasan yang melanda umat manusia selama ini, akan berubah menjadi kedamaian, cinta dan kasih sayang. Karena sesungguhnya dengan meneladani akhlak nabi akan mampu memberi kesejukan dan pelita dalam kehidupan.  – o

Kedaulatan Rakyat, Kamis Legi, 1 September 2005

Related Post

 

Tags: