Oleh Hamdan Daulay, dosen UIN Sunan Kalijaga dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Politik UGM Yogyakarta

DI tengah krisis moral yang melanda umat manusia dewasa ini, nilai-nilai agama hadir bagaikan embun penyejuk yang diharapkan mampu memberi kekuatan batin. Pesan-pesan moral di tengah kegersangan spiritual yang semakin memprihatinkan saat ini, bisa dikemas dengan berbagai bentuk. Model dakwah lewat pendekatan budaya yang dilakukan oleh Walisongo ratusan tahun yang lalu, ternyata sangat efektif dan menyentuh masyarakat Jawa. Salah satu karya besar Walisongo dalam bidang dakwah yang hingga kini masih dilestarikan adalah sekaten di Yogyakarta.

Momentun sekaten itu sesungguhnya mengandung nilai dakwah yang sangat tinggi, yang dipadukan dengan pendekatan budaya. Kreativitas Walisongo dalam mengemas dakwah dan budaya itu sungguh luar biasa, sehingga bisa menyentuh masyarakat dari berbagai lapisan dan bertahan hingga saat ini.

Setiap kali bicara sekaten, tentu tidak bisa lepas dari acara peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Karena sesungguhnya esensi sekaten itu sendiri adalah menanamkan semangat juang umat Islam yang digali dari sejarah perjuangan Nabi. Esensi peringatan Maulud Nabi, sesungguhnya untuk membangkitkan kembali moralitas umat yang diwujudkan dengan tumbuhnya raca cinta kepada Nabi.

Kecintaan kepada Nabi, sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada ajarannya yang diwujudkan dengan ketaatan melaksanakan ajaran agama.

Pada awalnya peringatan Maulud Nabi (kelahiran Nabi) digagas oleh pahlawan legendaris Islam dalam Perang Salib, Shalahuddin al-Ayyubi. Peringatan itu dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat juang umat Islam dalam menghadapi pasukan Salib.

Peringatan tersebut ternyata mampu menumbuhkan semangat baru umat Islam, sehingga bisa mengalahkan pasukan Salib.

Media Dakwah

Masih berkaitan dengan momentum Maulud Nabi, dakwah Islam di Pulau Jawa oleh Walisongo juga dalam rangka menyebarluaskan dakwah islamiyah di tengah masyarakat. Walisongo menggagas acara sekaten dengan memadukan peringatan Maulud Nabi dan budaya Jawa. Sekaten adalah media dakwah yang dikemas sedemikian rupa, sehingga masyarakat yang datang ke acara tersebut bisa melihat budaya rakyat sekaligus mendapatkan syiar dakwah.

Keberhasilan Walisongo dalam menyebarkan dakwah Islam di Pulau Jawa, adalah karena kecerdasannya lewat pendekatan budaya (Mohamad Sobary, Kebudayaan Rakyat, 1994: 57).

Dalam peringatan Maulud Nabi, sesungguhnya banyak hikmah yang bisa diperoleh. Lewat peringatan tersebut akan diulas kembali berbagai keteladanan Nabi.

Kini, tatkala moralitas umat dilanda krisis yang memprihatinkan, dan tatkala kegersangan spiritual semakin suram, peringatan sekaten yang mengandung esensi Mauluid Nabi perlu diaktualisasikan.

Sekaten perlu dijadikan momentum kebangkitan moral dengan kembali meneladani akhlak Nabi yang jujur, egaliter, adil, dan berpihak kepada kaum lemah. Ketika penguasa saat ini banyak melakukan korupsi, dan ketika wakil rakyat tidak malu memperkaya diri di tengah penderitaan rakyat, keteladanan akhlak Nabi perlu diwujudkan lewat acara sekaten.

Merenung Kembali

Dalam acara sekaten yang mengandung esensi Maulud Nabi, umat Islam hendaknya perlu merenungkan kembali apa sesungguhnya relevansi peringatan tersebut dengan kondisi moral masyarakat saat ini.

Selain untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah, Maulud Nabi juga mengandung makna untuk meneladani akhlak Nabi. Meminjam istilah Schimmel, Nabi adalah seorang tokoh moral yang tak ada tandingannya sepanjang sejarah. Kepada kaum miskin, wanita lemah, orang yang kelaparan, dan anak yatim, Nabi selalu mencurahkan kasih sayangnya. Bahkan, ia rela menahan lapar asal orang lain tidak menderita kelaparan.

Keadilan dan kejujuran adalah komitmen yang kokoh dalam hidup Nabi. Bahkan terhadap anak kandungnya sendiri, Nabi tidak segan-segan memberi hu-kuman, kalau memang anak itu melakukan kesalahan.

Teladan keadilan dan kejujuran yang diajarkan Nabi, tidak hanya sekadar retorika, namun juga realitas yang tak dapat dibantah. Itu bisa dilihat dalam kehidupan Nabi dan keluarganya yang bersahaja dan penuh kesederhanaan, walaupun sesungguhnya ia bisa mendapatkan harta yang melimpah.

Kalau Shalahuddin dulu memperingati Maulud Nabi untuk membangkitkan semangat juang umat dalam Perang Salib, kini persoalan yang dihadapi justru lebih berat lagi. Musuh yang dihadapi umat Islam saat ini tidak hanya Amerika dan Israel. Krisis akhlak di tengah umat Islam sendiri sungguh merupakan persoalan serius yang harus lebih dahulu diperbaiki. Krisis moral saat ini semakin memprihatinkan karena ketidakmampuan manusia mengendaliakn hawa nafsu. Kuatnya godaan hawa nafsu membuat manusia terjerumus kepada tindakan menghalalkan segala cara.(68)

Suara Merdeka, Jumat, 30 Maret 2007

Related Post

 

Tags: