oleh Hamdan Daulay, dosen UIN Sunan Kalijaga, mhs Program Doktor Ilmu Politik UGM Yogyakarta.

SEBAGIAN masyarakat menyayangkan konflik antara Zaenal Ma’arif (ZM) dengan Presiden SBY yang semakin meruncing dan terkesan semakin banyak muatan politiknya. Pihak yang ingin memperkeruh suasana pun menyusup dalam konflik itu, sehingga inti persoalan pun bergeser dari esensinya. Padahal dari awal, SBY hanya ingin memberi pendidikan hukum kepada masyarakat dengan melaporkan ZM ke polisi, karena ia merasa difitnah terkait dengan isu pernikahan SBY sebelum masuk pendidikan militer.

Di tengah banyaknya persoalan bangsa saat ini, konflik ZM dengan SBY sangat mengganggu karena menyita waktu, tenaga dan pikiran. Walaupun banyak pihak yang memanas-manasi agar konflik semakin tajam, namun ada juga pihak yang berpikir jernih dengan menyarankan agar terjadi islah antara ZM dengan SBY sebagai solusi terbaik.

Ketika terjadi prasangka buruk (su’udzon) dan fitnah pada seseorang yang mengakibatkan terjadinya permusuhan atau konflik, agama mengajarkan agar dilakukan islah sebagai solusi terbaik. Islah itu mendorong pada perdamaian dengan saling memaafkan. Lewat islah dituntut adanya kejujuran dan ketulusan untuk saling memaafkan demi kokohnya ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam).

Sungguh betapa indahnya ajaran agama, manakala setiap umat mau memahami dan mengamalkannya dengan baik. Esensi islah berarti mengandung makna betapa pentingnya kedamaian dalam Islam, dan betapa pentingnya saling memaafkan manakala ada kekhilafan dan kesalahan yang telanjur diperbuat.

Dalam esensi islah, berarti seseorang harus mampu mengutamakan kebersamaan, kedamaian dan kerendahan hati dalam dirinya, dan selanjutnya harus menjauhkan sikap sombong dan ego.

Kini tokoh-tokoh masyarakat di tanah air banyak yang menyarankan agar konflik politik yang terjadi antara ZM dengan Presiden SBY diselesaikan dengan islah. Hal yang sama sudah pernah terjadi ketika ada konflik antara Amien Rais dengan SBY . Lewat islah itu persoalan kedua tokoh tersebut berakhir dengan baik. Mereka saling memaafkan dengan penuh ketulusan dan kejujuran atas dasar ukhuwah Islamiyah. Ternyata persoalan seberat dan serumit apa pun bisa diselesaikan , kalau duduk bersama dan bicara dengan pikiran jernih dan jujur.

Berbeda

Persoalannya sekarang, kasus ZM dengan Amien Rais jauh berbeda. Amien Rais melakukan koreksi dan kritik terhadap SBY bukanlah asal ngomong dan kebencian, melainkan didukung oleh data dan rasa kecintaan. Sementara ZM terkesan emosional atas pe –recall-an dirinya dari DPR. Itu jelas persoalan pribadi menyangkut jabatan yang tidak rela dilepas. Jadi adalah wajar kalau kasus ini menurut SBY sebaiknya diselesaikan secara hukum, sebagai bentuk pembelajaran kepada semua warga.

Agama pun tidak membenarkan adanya fitnah, karena fitnah dianggap lebih kejam dari pada pembunuhan. Ketika seseorang menebar fitnah di masyarakat, berarti ia telah meracuni dan membunuh saudaranya sendiri. Akibat fitnah juga sangat besar daya rusaknya pada masyarakat. Itulah sebabnya dalam agama disebutkan betapa besar dosa orang yang suka menebar fitnah. Orang yang suka menebar fitnah berarti tidak memiliki kejernihan berpikir lagi, melainkan pikirannya sudah dirasuki oleh hawa nafsu.

Bisa karena motivasi ingin mendapatkan harta yang banyak atau jabatan yang tinggi, seseorang menebar fitnah pada pihak yang dianggap sebagai lawan. Padahal dalam konteks agama, sebesar apa pun kebencian pada seseorang, kita tidak boleh memfitnahnya. Agama senantiasa menganjurkan kedamaian, cinta dan kasih sayang antara sesama.

Realitas politik saat ini tampaknya belum begitu kuat dalam memilih islah dalam menyelesaikan setiap konflik. Justru pemandangan politik yang muncul saat ini semakin buram dengan terjebaknya para elite politik pada konflik. Hal ini bisa dilihat misalnya dengan masuknya unsur fitnah dalam konflik ZM dengan Presiden SBY. Konflik itu tentu menyita waktu, tenaga dan pikiran di tengah banyaknya persoalan besar yang harus segera diselesaikan.

Lepas dari siapa yang benar dan salah dalam kasus itu, yang jelas tindakan yang diambil ZM terkesan kekanak-kanakan. Langkah politik yang ditunjukkan ZM selama ini memang terkesan aneh dan tidak pantas diteladani. Ucapannya yang akan mengundurkan diri dari wakil ketua DPR jika tidak terpilih menjadi ketua umum PBR beberapa waktu yang lalu tidak ditepati. Ini berarti suatu kebohongan besar bagi masyarakat.

Langkah berikutnya, ia terkesan ngotot mempertahankan jabatan, walaupun posisinya sudah jelas salah dalam penilaian partai yang mengusungnya. Yang lebih aneh lagi, setelah ia tergusur dari DPR, sepertinya ia mencari-cari alasan dan membuka konflik baru dengan Presiden SBY ketika surat recall terhadap dirinya sebagai anggota DPR disetujui SBY. Muncul kesan, di balik itu semua sesungguhnya inti persoalan adalah ia takut kehilangan jabatan.

Sungguh naif dan sangat memprihatinkan, kalau hanya karena takut kehilangan jabatan kemudian menghalalkan segala cara. Ini jelas tidak sesuai dengan ajaran agama, sehingga janganlah sampai kita mendewakan jabatan, seolah-olah dunia akan kiamat kalau jabatan yang kita duduki selama ini hilang. Padahal sesungguhnya jabatan itu adalah amanah yang harus diemban dengan penuh kejujuran. Jabatan itu hanyalah sementara, sehingga sewaktu-waktu bisa lepas dari kita. Janganlah karena jabatan kita larut dalam konflik dan menebar fitnah.

Lewat islah diharapkan konflik politik bisa berakhir, sehingga waktu, tenaga dan pikiran bisa difokuskan untuk mengerjakan berbagai persoalan yang lebih penting. Kalau kita larut dalam berbagai konflik akan merugikan bagi semua pihak. Padahal bangsa ini menghadapi banyak persoalan, mulai dari kemiskinan, pengangguran, korupsi, krisis moral dan lain-lain. Alangkah indahnya kalau para elite politik di tanah air memilih jalan islah tatkala ada konflik, sehingga mereka bisa saling memaafkan dan melangkah bersama untuk membangun bangsa (11).

Suara Merdeka, Rabu, 8 Agustus 2007

Related Post

 

Tags: