Abdur Rozaki, Dosen PMI Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

PADA tanggal 26 September 2007 nanti, UIN Sunan Kalijaga akan memasuki usia ke-56. Berbagai kegiatan digelar sebagai bentuk mensyukuri kelahirannya. Salah satu kegiatan yang cukup menarik perhatian adalah diadakannya seminar(11/9/07) dengan topik “Islam dan Sunan Kalijaga: mengembangkan dakwah multikultural dalam keindonesiaan”.

Di sepanjang sejarah kelahiran PTAIN tetua di Indonesia ini, baru kali ini Sunan Kalijaga yang sudah melengket sebagai identitas institusi pendidikan keagamaan di Yogyakarta ini diangkat sebagai tema utama di dalam miladnya. Tampaknya civitas akademika UIN menganggap penting agar risalah dakwah Sunan Kalijaga ini dimaknai kembali dalam konteks kekinian. Khususnya untuk menyegarkan kembali ingatan publik akan adanya transformasi keagamaan, yang di masa lalu saling memperhatikan keberagaman kultur, tradisi ke dalam adaptasi budaya antara lain nilai lama dengan yang baru secara santun, tanpa gejolak konflik dan kekerasan.

Di sinilah konteks dan relevansinya, mendedah kembali risalah Sunan Kalijaga dalam perayaan milad UIN kali ini tampaknya sebagai counter atas munculnya fenomena keberagaman di dalam masyarakat yang akhir-akhir ini memiliki kecenderungan sebagaimana berikut ini. Pertama, makin merebaknya gejala Arabisasi sebagai paham keagamaan di masyarakat. Paham ini cenderung resisten terhadap kultur, tradisi atau adat istiadat lokal di masyarakat.

Kedua, menjamurnya komunitas keagamaan yang lebih berorientasi pada internasionalisasi paham keagamaan. Komunitas keagamaan ini selalu mempromosikan ideologi baru untuk menggantikan dasar-dasar nasionalisme kebangsaan dalam keindonesiaan. Ketiga, mulai merebaknya ketegangan baru dinamika keberagamaan antara yang literalis dan liberalis. Keduanya saling berhadapan menebar propaganda saling menyalahkan dan menganggap paling benar. Padahal silent mayority umat sendiri lebih arif dan bijak dalam menjalani aktivitas keagamaan kesehaiannya.

***

Sunan Kalijaga yang hidup dari masa 1478-1580, sebelumnya dikenal dengan nama Raden Said. Dia adalah putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta I Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari desa Kalijaga di Cirebon. Penyebutan Kalijaga karena saat berdiam di istana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.

Sunan Kalijaga sampai dengan saat ini menjadi legenda hidup di dalam pikiran dan batin masyarakat Jawa. Tidak saja peninggalannya, berupa Masjid di Demak yang sangat eksotis yang hingga kini masih terawat dengan baik. Lebih dari itu adalah karena metode dakwahnya yang sangat inovatif, ramah dan memberikan peighormatan yang tinggi terhadap kultur lokal masyarakat. Mi-salnya lewat gamelan, tembang, ukir, dan batik, yang sangat populer pada masa itu.

Babad dan serat mencatat Sunan Kalijaga sebagai penggubah beberapa tembang, di antaranya Dandanggula Semarangan paduan melodi Arab dan Jawa. Tembang lainnya adalah Ilir-Ilir, meski ada yang menyebutnya karya Sunan Bonang. Liriknya punya tafsir yang sarat dengan dakwah. Seperti ‘tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar’. Ungkapan ‘ijo oyo-royo’ bermakna hijau, lambang Islam. Sedangkan Islam, sebagai agama baru, diamsalkan ‘penganten anyar’, alias pengantin baru.

Begitu pula dalam tradisi wayang (an) di dalam masyarakat ahli sejarah mencatat, wayang yang digemari masyarakat sebelum kehadiran Sunan Kalijaga adalah wayang beber. Wayang jenis ini sebatas kertas yang bergambar kisah pewayangan. Sunan Kalijaga kemudian melakukan inovasi dengan menciptakan jenis wayang baru, yakni wayang kulit.

Jadi wayang kulit yang sekarang ini populer diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Setiap tokoh wayang dibuat gambamya dan disungging di atas kulit lembu. Bentuknya berkembang dan disempurnakan pada era kejayaan Kerajaan Demak, 1480-an. Ceita dari mulut ke mulut menyebut, Kalijaga juga piawai mendalang. Bila sedang mendalang di kawasan Tegal, Sunan Kalijaga bersalin nama menjadi Ki Dalang Bengkok. Ketika mendalang itulah Sunan Kalijaga menyisipkan dakwahnya. Lakon yang dimainkan tak lagi bersumber dan kisah Ramayana dan Mahabarata.

Sunan Kalijaga mengangkat kisah-kisah carangan. Beberapa di antara yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu. Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir. Sedangkan Jimat Kalimasada tak lain perlambang dan kalimat syahadat. Bahkan kebiasaan kenduri pun jadi sarana syiarnya.

Upaya Sunan Kalijaga melakukan metode dakwah di atas, didasari pandangan bahwa masyarakat akan berpaling jika diserang pendiriannya. Perlu pendekatan secara bertahap, yakni mengikuti sambil mempengaruhi. Jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Banyak hal yang dapat dipelajari dari risalah dakwah Sunan Kalijaga ini, tidak saja pendekatan dan inovasinya dalam proses penyampaian agama Islam di tengah masyarakat. Namun, juga peran-peran keulamaannya dalam berelasi dengan berbagai perjalanan tata pemerintahan. Mulai dari Kerajaan Demak sampai Kerajaan Mataram awal. Pengaruh Sunan Kalijaga tidak saja bersemayam di hati dan kalbu masyarakat, ia juga memiliki tempat terhormat di kalangan para raja dan punggawanya. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta pajang (sekarang Kotagede-Yogya).

Dari sini sangat terlihat, betapa Sunan Kalijaga adalah sosok pengemban obor dakwah multikultural di tengah masyarakat. Risalah dakwahnya dapat menjadi obat ampuh untuk mengatasi krisis relasi keberagamaan dalam bangunan keindonesiaan. Indonesia yang kaya akan keragaman kultur lokal dapat terajut kembali harmoni kebersamaannya sebagai bangsa, bila para tokoh agamanya menitahi risalah Sunan Kalijaga ini. – c (1927-2007)

 

Kedaulatan rakyat, Jumat Wage, 14 September 2007

Related Post

 

Tags: