oleh Hamdan Daulay, dosen Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

KASUS tertangkapnya jaksa Urip Tri Gunawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam dugaan menerima uang suap miliaran rupiah, semakin memperjelas betapa buramnya praktik korupsi di negeri ini.

Tampaknya, pemberantasan korupsi hanyalah sekadar permainan retorika, karena begitu besar panggung sandiwara yang ada di dalamnya. Rakyat dalam melihat ulah aparat penegak hukum, mulai dari jaksa, polisi, hakim, pengacara, Komisi Yudisial, hingga Mahkamah Agung (MA), dari waktu ke waktu semakin membingungkan.Tekad pemberantasan korupsi di negeri ini begitu luar biasa dalam retorika, namun dalam realita atau action-nya, aparat penegak hukum justru ternoda oleh praktik korupsi. Tragisnya lagi, penegak hukum begitu cerdas merekayasa pasal-pasal yang ada dalam hukum, sehingga yang benar pun bisa dikatakan salah, dan yang salah bisa dikatakan benar.

Rakyat yang awam dalam masalah hukum akhirnya semakin bingung melihat panggung sandiwara yang ditunjukkan penegakan hukum, apalagi dengan kasus-kasus keterlibatan mereka dalam praktik korupsi.

Potret korupsi di negeri ini tampaknya sudah begitu lengkap dengan terungkapnya berbagai kasus yang melibatkan berbagai lapisan. Kasus jaksa Urip Tri Gunawan barangkali hanyalah bagaikan gunung es yang hanya tampak sedikit di permukaan. Namun di balik itu, seandainya dibuka semua, kasus korupsi di negeri ini sungguh sangat mengerikan dan bisa melibatkan banyak pihak.

Siapa Teladan?

Meminjam istilah Syfaiíi Maíarif, penyakit korupsi telah merambah ke semua lini, mulai dari pejabat tinggi hingga rendah, DPRD hingga DPR RI, hakim, jaksa, hingga polisi, Departemen Kesehatan hingga Departemen Agama.
Kalau Departemen Kesehatan tidak sehat lagi karena sudah dilanda korupsi, Departemen Agama sebagai benteng moralitas  tidak jujur lagi karena terlibat korupsi, lalu siapa lagi yang patut diteladani ? Hakim, jaksa, pengacara, dan polisi sebagai penegak hukum, yang semestinya bisa menjadi teladan dalam keadilan, juga sudah ternoda oleh penyakit tersebut. Jumlah korupsi yang dilakukan para koruptor itu juga tidak tanggung-tanggung, mulai dari miliaran rupiah hingga triliunan rupiah.

Di sisi lain, terjadi pemandangan yang kontras berkait dengan penderitaan rakyat yang dilanda kemiskinan. Banyak rakyat yang tak mampu menjangkau harga kebutuhan pokok, tidak mampu menyekolahkan anak, tidak ada uang untuk berobat, dan bahkan ada yang mati kelaparan.

Sungguh ironis, kesenjangan dan ketimpangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Sepertinya hati nurani bangsa ini sudah mati, mata dan telinga koruptor itu telah buta dan tuli terhadap realitas yang diderita sebagian besar rakyat yang dilanda kemiskinan. Di saat rakyat terpuruk dalam penderitaan dan kemiskinan, para koruptor justru bergelimang dengan kemewahan dari hasil korupsi (mencuri uang rakyat). Koruptor memiliki rumah mewah, mobil mewah, deposito, dan berbagai kemewahan lainnya.

Anehnya lagi, semakin besar tekad pemerintah memberantas korupsi, justru semakin banyak kasus korupsi yang terjadi. Bahkan yang lebih gila lagi, pelaku korupsi itu justru melibatkan pihak yang berkait langsung dengan penegakan hukum, seperti polisi, jaksa, hakim, Komisisi Yudisial, hingga MA.

Korupsi memang bagaikan lingkaran setan yang dilakukan begitu rapi dan melibatkan berbagai pihak. Barangkali itulah sebabnya sulit membongkar kasus korupsi di negeri ini, karena akan bisa menyeret banyak pihak, mulai dari pejabat tinggi hingga kekuatan politik yang ada. Akibatnya, setiap ada kasus korupsi, tidak bisa diungkap secara tuntas dan menyentuh pemain utamanya. Hanya sekadar untuk memuaskan hati masyarakat, dikorbankanlah pemain kelas dua atau kelas tiga.

Potret korupsi yang ada di negeri ini, akhirnya bagaikan lingkaran setan yang bisa menyeret banyak orang, dan juga kekuatan politik. Bagaimana bisa menuntaskan kasus korupsi kalau tokoh-tokoh politik, pejabat di kejaksaan, polisi, pengacara, hingga hakim agung juga terlibat dengan permainan itu. Hukum pun akhirnya bisa direkayasa lewat permaian pasal-pasal yang ada sesuai dengan keinginan para penegak hukum.

Akhirnya, yang benar bisa dikatakan salah, dan yang salah bisa dikatakan benar. Dalam berbagai kasus korupsi, kekuatan politik yang ada di Tanah Air  tampaknya tidak pernah berpihak kepada rakyat. Itu terjadi karena dalam banyak kasus korupsi, ada kaitan dengan partai politik, mulai dari ada setoran uang oleh koruptor hingga keterlibatan pengurus partai dalam kasus korupsi tersebut.
Lingkaran setan dalam kasus korupsi akhirnya semakin sulit untuk diurai, dan akhirnya rakyatlah yang paling menderita dan menjadi korban. Betapa tidak, di tengah triliunan rupiah uang negara (rakyat) yang dikorupsi oleh penguasa dan pengusaha, rakyat terpuruk dalam penderitaan dan kemiskinan.

Rakyat saat ini tidak lagi butuh permainan retorika tentang pemberantasan korupsi, karena itu sama saja dengan kebohongan yang sudah sangat membosankan. Justru rakyat saat ini menunggu realisasi dari kesungguhan dengan mewujudkan satunya kata dengan tindakan.

Jangan lagi ada toleransi kepada koruptor, jangan lagi ada pembelaan dan melindungi orang yang salah (koruptor) karena alasan satu korps dan alasan partai politik. Kata kuncinya adalah perlu ada keseriusan memberi tindakan tegas kepada koruptor, sehingga bisa membuat efek jera bagi koruptor-koruptor yang lain.

Kalau jaksa melindungi anggotanya, polisi melindungi anggotanya, hakim melindungi anggotanya, DPR dan partai politik melindungi anggotanya yang sudah jelas-jelas salah, maka pemberantasan korupsi di negeri ini pun tidak akan berarti apa-apa. Sebab, hal itu sama saja dengan panggung sandiwara yang lebih dominan dengan permainan retorika.

Padahal di sisi lain, rakyat yang menjadi korban dari praktik korupsi terus terhimpit dalam penderitaan dan kemiskinan. Sampai kapan rakyat bisa bertahan dan sabar melihat ulah para koruptor yang begitu tega bergelimang dengan kemewahan di atas penderitaan dan kemiskinan yang ditanggung oleh sebagian besar rakyat?

 

Suara Merdeka, 17 Maret 2008

Related Post

 

Tags: