Semenjak meletusnya kerusuhan Ambon dan konflik Poso, masalah kerukunan umat beragama di Indonesia mendapat sorotan tajam. Peristiwa memilukan itu seakan menyadarkan kita semua bahwa masih ada masalah krusial yang harus segera dipecahkan.

Agama dinilai mempunyai peran signifikan untuk memberikan penyadaran kepada masing-masing umat agar mengedepankan kerukunan. Namun di sisi lain, agama kerap dimanfaatkan sebagian kalangan untuk menyulut konflik, yang tak jarang konflik itu memang sengaja dikobarkan demi kepentingan tertentu.

Ada sebagian kalangan berpendapat, pada dasarnya konflik yang terjadi selama ini bukan atas dasar agama, melainkan sebab lain seperti politik dan ekonomi. Tapi menurut Sekretaris Jenderal Departemen Agama RI, Faisal Ismail, apapun alasannya, konflik harus dicegah. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan hubungan antar umat beragama dan kepercayaan.

Menurut Faisal saat ditemui wartawan Republika Yusuf Assidiq, di sela pembukaan “Dialog Pengembangan Wawasan Multikultural Antara Pemuka Agama Pusat dan Daerah” di Samarinda, renggangnya dialog lintas agama bisa menjadi sebab masyarakat mudah terprovokasi. Oleh sebab itu, belajar dari konflik yang sudah terjadi, hendaknya semua pihak memberdayakan lagi tradisi dialog dan komunikasi timbal balik, tak hanya para tokoh agama namun juga masyarakat secara keseluruhan. Berikut petikan wawancaranya:

Menurut pengamatan Anda, bagaimana upaya pembinaan kerukunan antarumat beragama yang sudah dilaksakan selama ini, apakah sudah berjalan sesuai harapan?
Menurut penilaian kami, pembinaan kerukunan umat beragama yang telah dilakukan sudah tepat. Tapi perlu ditekankan, bahwa yang diatur adalah hubungannya, bukan pembinaan agama tertentu, tapi hubungan antar umat beragama agar dalam berinteraksi tidak terjadi permasalahan yang bisa memicu konflik. Oleh karena itu perlu ada ‘wasit’ yang mengatur dan dalam hal ini adalah satu forum dialog bersama. Pada dasarnya, kerukunan itu ingin kami tumbuhkan dari bawah, sehingga benar-benar mengakar dalam keseharian. Dengan demikian keinginan pemerintah dan masyarakat sejalan. Kalau misalnya dari pemerintah saja lantas dari masyarakat tidak jalan, maka akan mubazir.

Tapi kenyataanya konflik di sejumlah daerah sudah terjadi. Lantas apa kebijakan pemerintah untuk daerah-daerah yang terlanjur konflik ini?
Banyak hal yang telah kita lakukan. Misalnya ketika terjadi konflik di Poso dan Ambon, kami bersama-sama para tokoh agama setempat turun ke bawah guna mempromosikan dan menyerukan perlunya dibangun semangat multikultural di antara sesama komponen bangsa. Selain itu juga kita bawa beberapa tokoh nasional, seperti Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU), Goodwill Zubeir (salah satu Ketua PP Muhammadiyah), tokoh umat Kristen, Hindu dan Budha.

Kita di sana bicara dengan bahasa yang sama, juga mengunjungi gereja-gereja, masjid, wihara, maupun pura terutama untuk berdialog dengan masyarakat. Dalam dialog tersebut amat ditekankan pentingnya membina nilai-nilai kerukunan serta multikulturalisme. Dan kegiatan ini disambut baik oleh semua pihak. Perhatian juga kita berikan ketika terjadi konflik dengan bantuan dari APBN yang memang dimaksudkan untuk membangun kembali wilayah yang rusak akibat konflik. Selain merehabilitasi bangunan-bangunan vital, juga rumah-rumah ibadah.

Tapi kenapa sebagian masyarakat sekarang ini nampak mudah terprovokasi hingga menimbulkan konflik?
Kita memang mencoba agar masyarakat dengan kesadaran sendiri maupun melalui tokoh-tokoh agama dihimbau agar jangan mudah terprovokasi. Sebab kalau mudah terprovokasi dan itu di luar kontrol tentu akan menimbulkan konflik kultural. Oleh karenanya semua tokoh agama diharapkan dapat memberikan kesejukan serta pembinaan kepada jemaah masing-masing agar menguatkan semangat kerukunan tadi.

Tentu di samping itu kita sekaligus juga melaksanakan program peningkatan kesejahteraan dan program padat karya agar terjadi keseimbangan.

Selain itu yang menurut saya tak kalah penting, adalah peran tokoh agama untuk dapat meningkatkan kualitas pemahaman masyarakat terhadap ajaran dan nilai-nilai agama. Sebab bukan tidak mungkin, karena pemahaman yang hitam putih, sementara kalangan lantas menggunakan dalil-dalil untuk memukul lawan.

Kami berharap pemahaman yang dimiliki masyarakat menyangkut ajaran agama tadi bisa kontekstual, lebih humanis, dan manusiawi. Dengan demikian pemahaman tersebut akan membawa pada satu kesadaran untuk saling menghargai perbedaan satu dengan yang lain demi mewujudkan kerukunan.

Disebutkan ada tradisi kearifan lokal yang merupakan modal membangun kerukunan. Bagaimana tradisi itu bisa dioptimalkan?
Kearifan lokal memang sudah ada pada masing-masing komunitas di Indonesia ini, jadi bukan barang baru. Itu sudah tumbuh selama berabad-abad lampau dalam keseharian masyarakat dan merupakan asset serta kekayaan kita. Tradisi itu tidak kita nafikan justru harus kita manfaatkan seoptimal mungkin karena sudah terbukti mampu membawa semangat kebersamaan di tengah masyarakat. Pada intinya, yang menjadi anggota dalam kearifan lokal itu adalah masyarakat dari berbagai etnis dan agama.

Mungkin masing-masing anggota masyarakat punya pandangan dan kepentingan yang berbeda-beda, namun karena mereka diikat oleh tradisi kearifan lokal tadi, perbedaan tersebut tidak lantas menjadi sumber perpecahan. Demikian pula dengan begitu kuatnya semangat kebersamaan berlandaskan kearifan lokal, bila suatu ketika muncul potensi konflik, akan mudah dicegah dan diselesaikan bersama-sama.

Tapi di beberapa daerah yang punya tradisi tersebut tak jarang juga timbul konflik?
Ya kita kan hidup di dunia ada sistem politik, ekonomi, sosial budaya yang melingkupinya. Semuanya memiliki persoalan di situ, begitu pula dalam kehidupan umat beragama. Nah, justru dengan adanya persoalan itu kita harus hadapi dan coba diatasi.

Kemudian yang patut digarisbawahi, dengan munculnya kejadian-kejadian itu kita dapat berproses untuk pembelajaran diri. Amerika Serikat yang katanya kampiun demokrasi, tidak tercipta hanya dalam satu malam, ada jalan terjal yang dilalui. Jadi pada intinya tidak mudah untuk mewujudkan satu tatanan sosial masyarakat sebagai satu kesatuan. Tapi melalui proses pembelajaran tadi, kebersamaan yang dicita-citakan dapat terwujud dan kita dapat menjadi lebih bijak.

Dalam jangak pendek ini, apa upaya yang mesti diintensifkan guna menata kembali semangat kerukunan di masyarakat?
Terutama melalui tokoh-tokoh agama harus dikuatkan kembali dialog lintas agama. Mungkin selama ini masih ada yang kurang pas, yang harus dicarikan titik temu. Dialog semacam itu, tidak bisa tidak, mesti diberdayakan kembali, disesuaikan dengan konteks zaman sehingga mampu menjawab segala permasalahan yang berkembang di masyarakat.

REPUBLIKA – Jumat, 22 Juli 2005

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/08/12/17/20942-faisal-ismail-belajarlah-dari-konflik-yang-terjadi-

Related Post

 

Tags: