Hamdan Daulay, kandidat doktor Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada

Namun yang jelas pendukung fanatik Gus Dur tinggal menunggu ”fatwa” dari Gus Dur, ke mana dukungan politik diberikan. Sebab bagi mereka, keputusan politik Gus Dur merupakan fatwa yang harus ditaati dan diikuti.

HARAPAN utama partai politik dalam setiap kali pemilu adalah untuk mendapatkan dukungan suara sebanyak mungkin, agar mereka bisa meraih kursi legislatif. Untuk mewujudkan harapan itu berbagai cara –mulai dari pemasangan iklan politik lewat media massa, memberi janji manis lewat kampanye, bantuan uang kepada masyarakat, hingga bersilaturahim dan mohon doa restu kepada tokoh-tokoh masyarakat– pun dilakukan.

Para tokoh masyarakat, seperti kiai yang memiliki pesantren dan ribuan santri, menjadi langganan yang biasa dikunjungi politikus pada musim kampanye. Elite politik begitu cerdas memanfaatkan berbagai peluang untuk mendapatkan dukungan massa. Apalagi kalau ada partai politik yang dilanda konflik internal, menjadi kesempatan bagi partai lain mendapatkan dukungan suara dari mereka yang tidak terakomodasi dalam konflik internal partai itu.

Di tengah ketidakharmonisan suasana politik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan keberadaan kubu Gus Dur dan Muhaimin, membuat para elite politik di Tanah Air berlomba meraih simpati Gus Dur dan pendukungnya.

Dalam kalkulasi politik, puluhan juta suara NU di Tanah Air (terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah), sebagian besar masih menjadi pendukung fanatik Gus Dur. Mendapat dukungan Gus Dur berarti akan memperoleh suara NU pro-Gus Dur. Karena itu wajar mulai dari Megawati, Taufik Kiemas, Sutrisno Bachir, Prabowo Subiyanto, dan juga elite politik lain berharap bisa mendapat dukungan Gus Dur.

Lepas dari berbagai kontroversi yang ada dalam dirinya, harus diakui Gus Dur adalah bagian dari guru bangsa yang memiliki pengaruh cukup besar. Tidak berlebihan jika Nurcholish Madjid dalam Islam Agama Kemanusiaan, menyebut Gus Dur dengan sebutan dzuu wujuuh (banyak wajah).

Predikat dzuu wujuuh ini bisa terjadi karena banyak profesi dan bakat yang dimiliki Gus Dur, mulai sebagai tokoh politik, kiai, seniman, tokoh HAM, sampai yang lain-lain. Namun penilaian ini juga bisa karena faktor kesulitan menebak dan membaca pemikiran dan gerakan politik Gus Dur.

Soal kesulitan menebak dan membaca pemikiran dan gerakan politik Gus Dur sesungguhnya bukanlah merupakan hal baru. Sudah sejak dulu para pengamat politik juga orang-orang dekat Gus Dur sulit menebak pemikiran dan gerakan politik Gus Dur. Selama ini pemikiran Gus Dur berkesan melawan arus dan sulit ditafsirkan apa makna yang terkandung di balik gerakan politik yang ia lakukan.

Ketika ia mengatakan ”mendukung” belum tentu berarti mendukung sepenuhnya sebagaimana lazimnya kalkulasi politik. Demikian pula sebaliknya, ketika ia mengatakan ”melawan” belum tentu pula sepenuhnya ia memusuhi orang yang dianggap dimusuhi atau dilawan tersebut. Akibatnya, untuk jangka pendek pemikiran dan gerakann politik yang dibuat Gus Dur akan membingungkan masyarakat.

Namun untuk jangka panjang ternyata banyak pemikiran dan gerakan politik Gus Dur yang cukup cemerlang dan memberi pendidikan politik bagi masyarakat luas. Masih tekait dengan gerakan politik Gus Dur, akhir-akhir ini dengan kian harmonis hubungan massa pro Gus Dur dengan Megawati dan Prabowo membuat masyarakat semakin sulit untuk menilai ke mana sesungguhnya arah dukungan politik Gus Dur. Namun yang jelas pendukung fanatik Gus Dur tinggal menunggu ”fatwa” dari Gus Dur, ke mana dukungan politik diberikan. Sebab bagi mereka, keputusan politik Gus Dur merupakan fatwa yang harus ditaati dan diikuti.

Prabowo dengan Partai Gerindra juga belum bisa berpuas diri tatkala Gus Dur memberi dukungan kepadanya. Sebab pada kesempatan lain Gus Dur juga memberi ”doa restu” kepada massa PDI-P dan Sutrisno Bachir.

Lalu siapa sesungguhnya yang lebih berhak mendapat dukungan Gus Dur dan massanya di tengah waktu pemilu legislatif yang sudah semakin dekat. Apakah Gus Dur sebenarnya memberi dukungan yang tulus pada satu partai atau ia hanya membuat model gerakan politik baru dengan dukungan yang mengambang, dan akhirnya di tengah kebingungan massa pendukungnya memilih golput.

Sekali lagi, di sinilah kesulitan menebak dan membaca pemikiran dan gerakan politik Gus Dur. Kalau pun ada tokoh yang melakukan cium tangan dengan Gus Dur, dan dengan spontan Gus Dur memberi dukungan, jangan telalu cepat percaya, sebab makna dukungan itu belum tentu dalam arti sebenarnya.

Karena sesungguhnya sebagai guru bangsa, tokoh demokrasi, kiai, dan budayawan, Gus Dur harus bisa menempatkan diri sebagai sahabat untuk semua. Dengan demikian maka ia begitu mudah memberi dukungan kepada setiap tokoh yang datang untuk mohon doa restu.

Demikian pula dengan orang yang dianggap sebagai musuh Gus Dur, tidak selamanya akan menjadi musuh, karena terkadang di balik permusuhan itu, Gus Dur sesunggunya memberi pendidikan politik agar tokoh yang dianggap ”musuh” itu semakin matang dan dewasa dalam berpolitik.

Akhirnya, bagaimana pun gerakan politik yang dilakukan Gus Dur dengan tidak jelasnya arah dukungan politik yang diberikan, merupakan fenomena tersendiri dalam khazanah politik di Tanah Air. Secara jujur harus diakui bahwa warga NU yang begitu besar jumlahnya merupakan suara potensial, sehingga wajar kalau setiap partai berlomba untuk mendapatkannya.

Namun seiring dengan perkembangan demokrasi dan politik, warga NU juga sudah semakin cerdas dalam menentukan pilihan politik.

Walaupun banyak partai yang mengklaim milik NU, belum tentu warga NU bergabung dengan partai tersebut. Karena yang diharapkan warga NU saat ini bukan sebatas pengakuan-pengakuan semu, melainkan tindakan nyata dari partai yang jujur dan benar-benar bisa menyalurkan aspirasi mereka.

 

Suara Merdeka, 24 Maret 2009

Related Post

 

Tags: