Hamdan Daulay, Dosen UIN Sunan Kalijaga

Dewasa ini tampaknya begitu banyak hujatan, hinaan, cercaan dan kemarahan ditujukan kepada lembaga legislatif (DPR/DPRD). Ini bisa dimaklumi karena begitu banyak kesalahan yang terjadi dan terus terulang di lembaga terhormat tersebut. Kemarahan masyarakat kepada wakil rakyat sepertinya sudah mencapai titik nadir, sehingga seolah tidak ada lagi kepercayaan pada kejujuran wakil rakyat. Berbagai cacian akhirnya ditumpahkan kepada wakil rakyat, mulai dari predikat sebagai pembohong, sarang korupsi, penipu, hingga para caleg akan menjadi penghuni rumah sakit jiwa.

Di tengah terpuruknya citra wakil rakyat saat ini, tentu sangat sulit untuk melakukan pembelaan diri. Caleg dan wakil rakyat Seolah tak berdaya sama sekali untuk melawan opini negatif yang begitu kuat beredar di tengah masyarakat. Walaupun sesungguhnya tidak semua caleg dan wakil rakyat memiliki moral bejat, namun sangat sulit untuk menghindar dari opini yang sudah terlanjur negatif pada wakil rakyat. Bahkan yang paling menyedihkan lagi, opini yang berkembang akhir-akhir ini dengan disiapkannya rumah sakit jiwa di beberapa kota untuk caleg yang gagal meraih kursi legislatif.

Seandainya masyarakat mau berpikir jernih, obyektif dan berprasangka baik, tentu tidak perlu muncul cercaan, hinaan dan hujatan yang begitu keras terhadap wakil rakyat. Janganlah digeneralisasikan semua caleg akan stres akibat kekalahan dan akan masuk rumah sakit jiwa. Dalam pandangan agama dan juga budaya timur, menghina sesama anak bangsa bukanlah cara yang baik.

Biarlah hukum berjalan seadil-adilnya, dengan mengatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar. Bagi wakil rakyat yang melakukan kesalahan, baik yang menipu, berbohong dan melakukan korupsi, biarlah dihukum seberat-beratnya. Namun secara jujur juga harus diakui bahwa masih ada secercah kejujuran, kebenaran, dan nilai-nilai moralitas di lembaga wakil rakyat. Masih ada di antara wakil rakyat yang jujur, memiliki moralitas tinggi, dan memiliki komitmen berjuang untuk rakyat. Sehingga tidaklah arif kalau hinaan dan cercaan begitu saja ditimpakan kepada mereka.

Rumah Sakit Jiwa
Wacana rumah sakit jiwa bagi caleg yang gagal meraih kursi legislatif, sungguh merupakan penghinaan luar biasa bagi mereka. Namun sekali lagi mereka tak berdaya untuk melakukan pembelaan diri tatkala citra wakil rakyat sangat terpuruk saat ini. Rumah sakit jiwa identik sebagai tempat orang gila, stres, dan kelompok patologi sosial lainnya. Begitu tragiskah kejiwaan para caleg manakala mereka gagal dalam meraih kursi legislatif? Apakah semua caleg menghabiskan uang banyak untuk meraih jabatan tersebut? Lalu sehina itukah semua wakil rakyat untuk mendapatkan jabatan yang identik dengan kekuatan uang? Tidak adakah diantara wakil rakyat yang benar-benar berkualitas dan secara jujur dipilih oleh rakyat semata-mata karena kualitasnya? Kalau memang demikian, masyarakat pemilih juga ikut andil dalam penciptakan rusaknya citra wakil rakyat saat ini. Mengapa masyarakat memilih wakil rakyat yang tak berkualitas yang pada akhirnya nanti akan menyengsarakan nasib rakyat sendiri.

Sesungguhnya kalau mau jujur banyak di antara caleg yang berkualitas, memiliki moralitas yang tinggi, jujur dan benar-benar berjuang untuk rakyat. Namun di antara mereka terkadang tidak memiliki dana besar, sehingga tidak mampu membagi-bagi “amplop” kepada masyarakat pemilih. Padahal di tengah masyarakat sudah terlanjur muncul budaya baru dalam politik, bahwa siapa caleg yang memberi “amplop” banyak, maka itulah yang akan dipilih, lepas dari berkualitas atau tidak caleg tersebut. Kalau ini yang terjadi maka benar-benar kerusakan politik sudah bagaikan lingkaran setan. Artinya, kesalahan tidak hanya dilakukan oleh caleg, namun masyarakat pun ikut andil dalam menciptakan kesalahan tersebut.

Caleg yang akan menjadi penghuni rumah sakit jiwa tentu caleg yang benar-benar tidak berkualitas. Caleg yang hanya mengandalkan uang walaupun utang kemana-mana dengan ‘membeli’ suara rakyat. Caleg seperti ini kalau gagal, memang akan menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Namun sebaliknya, bagi caleg yang berkualitas, tentu begitu banyak pilihan dalam hidupnya. Bagi mereka legislatif hanyalah salah satu pilihan dari sekian banyak pilihan untuk mengabdi bagi bangsa dan negara. Dengan demikian mereka akan selalu siap menerima kekalahan dan kemenangan. Kalau mereka menang karena dipilih oleh rakyat, maka mereka akan bersyukur dan menjalankan amanah itu sebaik-baiknya. Demikian pula kalau mereka menerima kekalahan, mereka tidak akan terpuruk dan stres, karena masih banyak pilihan untuk melakukan pengabdian bagi bangsa dan negara. Dengan adanya kebesaran jiwa yang demikian maka tidak perlu menakut-nakuti dan menghina caleg dengan rumah sakit jiwa. Sebab hanya mereka yang berjiwa piciklah yang stres menghadapi kekalahan.

Kalau mau jernih berpikir, menjadi wakil rakyat sesungguhnya bukanlah tempat untuk memperkaya diri, melainkan sebagai tempat perjuangan untuk mengabdi bagi bangsa dan negara. Dengan demikian pengabdian untuk bangsa dan negara bisa dilakukan dalam banyak hal, baik sebagai guru, petani, polisi, buruh, pengusaha dan lain-lain, asal dilakukan dengan penuh kejujuran. Jadi kata kuncinya terletak pada kejujuran dan kejernihan berpikir dalam memaknai arti pengabdian itu. Seandainya setiap caleg bisa berpikir jernih dan jujur dalam perjuangannya, maka tidak perlu disiapkan rumah sakit jiwa untuk mereka. Karena mereka akan siap menerima kekalahan, dan akan melakukan pengabdian di tempat lain untuk kemajuan bangsa ke depan.

Republika, 4 April 2009

Related Post

 

Tags: