oleh Faisal Ismail

Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok (KTT GNB) ke-15 diselenggarakan di Sharm El-Sheikh, Mesir, dari tanggal 14-16 Juli 2009. Pada awalnya, GNB masih merupakan gerakan yang terbatas, tetapi sekarang sudah berkembang dan melibatkan ratusan negara di dunia. Ini merupakan suatu pertanda bahwa GNB didukung oleh banyak negara di dunia ini karena visi dan misinya yang sejalan dengan negara-negara anggotanya. Dewasa ini GNB sudah beranggotakan 118 negara yang kebanyakan berasal dari negara-negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Negara-negara yang tergabung dalam GNB merepresentasikan 55 persen penduduk dunia dan hampir dua pertiga keanggotaan PBB. Sejak tahun 1970, KTT GNB dilaksanakan setiap tiga tahun sekali secara bergiliran di negara-negara anggota yang disepakati sebagai tuan rumah. KTT GNB di Sharm El-Sheikh telah memustuskan bahwa KTT yang akan datang akan dilaksanakan di Teheran, Iran.

Organisasi GNB bersifat lentur dalam arti tidak memiliki markas, konstitusi dan sekretariat internal. Keputusan-keputusan dalam GNB dicapai melalui konsensus di antara negara-negara anggota yang menghadiri KTT. Berhubung anggota GNB terdiri dari berbagai negara yang mempunyai ideologi dan tujuan yang berbeda-beda, maka konsensus yang dicapai dalam KTT dapat memperkuat solidaritas dan unitas GNB itu sendiri. Ada 16 negara dan 9 organisasi yang berstatus sebagai pengamat dalam KTT GNB.

Gagasan Pendirian GNB

Ide tentang pendirian GNB digagas pada tahun 1956 dalam suatu pertemuan antara Presiden Joseph Broz Tito (Yugoslavia), Presiden Gamal Abdel Nasser (Mesir) dan PM Pandit Jawaharlal Nehru (India). Ketiga pemimpin negara ini sangat prihatin dan cemas terhadap meningkatnya konfrontasi militer antara Blok Barat yang dimotori oleh AS (AS) dengan Blok Timur yang dikomandoi oleh Uni Soviet (US). Konfrontasi militer antara Blok Barat dan Blok Timur telah mengakibatkan meningkatnya Perang Dingin yang menyeret juga sekutu-sekutu kedua belah pihak. Salah satu puncak ketegangan yang ditimbulkan oleh Perang Dingin ini adalah ’ancaman’ Presiden AS John F. Kennedy terhadap pemimpin Uni Soviet Nikita Krushchev untuk membongkar pangkalan nuklirnya di Cuba. Seandainya Krushchev tidak membongkar pangkalan nuklirnya di Cuba, perang nuklir AS- US sudah pecah pada waktu itu.

Dalam suasana Perang Dingin seperti itulah GNB lahir, bergerak dan tampil memainkan peranan strategisnya di pentas politik internasional. KTT GNB pertama dilaksanakan pada bulan September 1961 di Belgrade atas inisiatif Yugoslavia, Mesir, India dan Indonesia. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya embrio GNB berasal dari komitmen kuat dari para pemrakarsa Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1955.

Pencetus ide KAA adalah Joseph Broz Tito (presiden Yugoslavia), Soekarno (presiden RI), Gamal Abdel Nasser (presiden Mesir), Pandit Jawaharlal Nehru (PM India) dan Kwame Nkrumah (presiden Ghana). Negara-negara yang tergabung dalam KAA menentang segala bentuk imperialisme dan kolonialisme Barat yang pada waktu itu menguasai negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Negara-negara KAA juga mendeklarasikan diri tidak memihak baik kepada kekuatan militer Blok Barat maupun Blok Timur, tetapi berupaya aktif memelihara dan membina perdamaian dunia. Sejalan dengan garis perjuangan negara- negara KAA yang netral dan berhaluan ’bebas aktif,’ GNB mendeklarasikan lima prinsip perjuangannya: (1) saling menghormati integritas teritorial dan kedaulatan (2) perjanjian non-agresi (3) tidak mengintervensi urusan dalam negeri negara lain (4) kesetaraan dan keuntungan bersama (5) memelihara perdamaian.

Agenda dan Isu Penting

Isu-isu politik sudah pasti menjadi perhatian KTT GNB. Di antaranya adalah resolusi yang diambil dalam KTT Colombo tahun 1976 yang menyerukan penarikan pasukan AS dari Semenanjung Korea dan pembubaran Komando PBB di kawasan itu. Dalam KTT Havana tahun 1979, yang dipimpin oleh Fidel Castro, GNB menelorkan konsep aliansi dengan Uni Soviet melawan kekuatan ’imperialis’ AS. Dalam kaitannya dengan perjuangan rakyat Palestina untuk memperoleh haknya mendirikan negara yang merdeka dan berdaulat, GNB memberikan dukungannya yang sangat kuat. Lebih jauh, GNB dalam KTT-nya ke-8 tahun 1989 di Harare mengeluarkan resolusi mengutuk keras diskriminasi rasial dan politik apartheid yang dilakukan oleh pemerintah kulit putih Afrika Selatan pada waktu itu. Resolusi ini menjadi momentum bersejarah bagi pembebasan Nelson Mandela (Oktober 1989) yang dipenjara selama lebih dari 25 tahun karena menentang diskriminasi rasial dan politik apartheid di negaranya. GNB juga mendukung program nuklir Iran untuk tujuan damai.

Isu ekonomi juga menjadi salah satu perhatian utama KTT GNB. Dalam KTT ke-9 tahun 1989 di Belgrade, GNB menyuarkan pentingnya dibangun tatanan ekonomi yang adil. Tatanan ekonomi yang adil ini harus dicapai melalui dialog dan diskusi tentang isu-isu ekonomi yang penting dan secara sinergis menggalang kerja sama antarnegara anggota GNB di satu pihak dan menggalang kerja sama antara negara-negara GNB dengan negara-negara maju di pihak lain. Isu ekonomi dan keuangan ini menjadi topik dan agenda penting dalam KTT GNB ke-15 di Sharm el-Sheikh, Mesir, 14-16 Juli 2009. Diharapkan dari KTT ini lahir pemikiran-pemikran strategis yang aplikabel dan solutif dalam upaya menanggulangi krisis ekonomi dan keuangan yang memukul banyak negara, termasuk negara-negara anggota GNB.

Memperkuat Diri

Dalam perjalanan sejarahnya yang cukup panjang, GNB bukannya tidak pernah mengalami ’keretakan’ internal di kalangan negara-negara anggotanya yang menganut ideologi dan paham politik yang berbeda-beda. Ketika Uni Soviet menginvasi Afghanistan pada tahun 1979, negara-negara anggota GNB yang menjadi sekutu Uni Soviet mendukung aksi militer dan invasi Uni Soviet itu. Akan tetapi, di pihak lain, negara-negara anggota GNB yang berpenduduk mayoritas Muslim ’menentang’ invasi Uni Soviet. Ketika Uni Soviet menarik pasukannya dari Afghanistan, keretakan ini dapat diperbaiki kembali.

Dalam KTT-nya yang ke-10 pada tahun 1992 di Jakarta (KTT pertama pasca Perang Dingin), GNB mengeluarkan keputusan penting agar GNB terus memperkuat diri, kompak dan berpegang teguh kepada komitmen dan garis perjuangannya menyusul ambruknya Uni Soviet pasca-Perang Dingin (1991). Tiadanya Uni Soviet sebagai kubu kekuatan militer Blok Timur telah menempatkan AS (dan NATO) sebagai satu-satunya panglima militer dan kekuatan tunggal dunia yang mendektekan kemauan dan keinginannya terhadap negara-negara lain di dunia ini. Walaupun demikian, tiadanya Blok Timur justru harus tidak mengendorkan posisi, kiprah dan peranan GNB dalam mengusung perdamaian dunia. GNB harus berperan sebagai kekuatan politik dan gerakan moral yang harus dapat mengerem dan – meminjam kata-kata Ketua Parelemen Kuwait Jassem Al-Khorafi – menyetop AS menjadi ‘polisi dunia’.

 

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 28 Juli 2009

Related Post

 

Tags: