oleh Prof Dr Faisal Ismail MA , Dubes RI di Kuwait

BARU-BARU ini, dalam kunjungan ke Ceko selama tiga hari, Paus Benedict XVI mengadakan upacara misa yang dihadiri 120.000 umat Katolik. Sebagaimana diberitakan dalam International Herald Tribune (28/9), Paus dalam upacara tersebut menyerukan kepada umat Katolik untuk memerangi sekularisme (to combat secularism) dan memperingatkan umat tentang ancaman dan bahaya masyarakat tanpa Tuhan (the dangers of a society without God).

Paus 82 tahun itu menegaskan, alur perkembangan sejarah menunjukkan telah terjadi banyak absurditas di dunia ini yang mengakibatkan manusia tunduk, menyerah, dan tidak berdaya. Dalam keadaan takluk dan tidak berdaya menghadapi berbagai absurditas itu, manusia mencampakkan Tuhan dari horizon pilihan dan perbuatan.

Peringatan Paus itu disampaikan di Ceko, sebuah negara yang dipandang sebagai salah satu pusat kelesuan dan ketidakacuhan agama (religious apathy) di Eropa. Apatisme dan skeptisisme agama yang dipicu daya terjang sekularisme telah mencemaskan dan merisaukan hati Paus.

Sebagai pemimpin spiritual tertinggi dalam hierarki kepemimpinan agama Katolik, peringatan Paus itu terasa sangat tepat dalam menghadapi cekaman sekularisme yang membawa masyarakat Barat pada umumnya menjadi apatis dan tak acuh terhadap Tuhan. Apatisme dan sikap ketidakacuhan terhadap Tuhan dan ajaran-ajaran-Nya pada gilirannya akan dapat menciptakan “masyarakat tanpa Tuhan” seperti yang diperingatkan oleh Paus tersebut.

Akar Sekularisme
Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dari hidup dan kehidupan manusia. Manusia sekuler memandang agama sebagai masalah pribadi dan menolak campur tangan agama dalam ranah publik. Sudah tentu lahirnya sekularisme di Barat memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Akar historis kemunculan dan perkembangan sekularisme di Barat tak dapat dilepaskan dari paham pemisahan agama (church) dari negara (state).

Itu terjadi di Barat bersamaan dengan munculnya era enlightenment (masa pencerahan), humanisme, dan rasionalisme sekitar abad ke-17. Munculnya era pencerahan, humanisme, dan rasionalisme semakin mendewasakan dan mencerahkan alam pikiran masyarakat Barat pada masa itu untuk “membebaskan” kehidupan mereka dari doktrin-doktrin gereja yang dianggap tidak pas lagi dengan perkembangan masalah-masalah keduniawian, termasuk di bidang kenegaraan.

Sebelum lahirnya musim semi sekularisme di Barat, masyarakat Barat dikenal sangat taat beragama. Hal tersebut diindikasikan dengan banyaknya gereja di Barat dan ketaatan mereka melaksanakan kebaktian. Belum ada tanda-tanda dikotomi dan pemisahan agama dari negara (kerajaan) di Barat pada masa itu. Negara (kerajaan) masih menyatu dengan agama.

Bersamaan dengan gerak kemunculan dan derap perkembangan sekularisme di Barat, terjadilah dikotomi antara agama dan negara. Masyarakat Barat menganut doktrin: Serahkan kepada Tuhan segala urusan agamawi yang menjadi wewenang-Nya dan serahkan kepada kaisar segala urusan duniawi yang menjadi tugasnya.

Sejak itu, muncul ide dan paham pemisahan agama dan negara. Agama hanya dianggap sebagai masalah perorangan, tidak diperbolehkan memasuki domain politik dan urusan pemerintahan.

Agama harus dijauhkan dari roda pemerintahan dan kancah kenegaraan. Sejak itu, muncul negara sekuler yang memisahkan agama dari negara, seperti yang kita saksikan sekarang. Para murid berdoa di ruang kelas saja ketika hendak memulai pelajaran tidak diperbolehkan.

Fenomena Indonesia
Dalam hubungan agama dan negara, dikenal negara teokrasi dan sekuler. Negara teokrasi adalah negara yang didasarkan pada agama tertentu dan diperintah kaum clergy. Negara sekuler adalah negara yang tidak didasarkan pada agama, tetapi diasaskan pada paham atau ideologi sekuler. Negara Indonesia yang berdasar Pancasila bukan negara teokrasi, bukan pula negara sekuler.

Eksistensi Departemen Agama dan Pengadilan Agama memperjelas Indonesia sebagai bukan negara sekuler. Bukti gamblang lain yang mengindikasikan Indonesia bukan negara sekuler adalah penyelenggaraan pendidikan agama mulai SD sampai perguruan tinggi. Praktik dan nuansa-nuansa keagamaan yang melekat pada negara Indonesia tidak terdapat di negara-negara sekuler Barat.

Komunitas-komunitas agama di Indoensia memperlihatkan pengamalan agama masing-masing secara taat dan aktif. Masjid, terutama pada Ramadan, dipenuhi para jamaah untuk beribadah. Gereja, pura, klenteng, dan rumah-rumah ibadat lain juga dipenuhi para jemaah dalam rangka melaksanakan ibadat dengan tekun dan giat. Semua fenomena keagamaan itu menunjukkan, terdapat penguatan akidah pada setiap komunitas agama di Indonesia.

Jika asumsi tersebut benar -dan saya yakin di dalamnya mengandung unsur kebenaran-, kita boleh optimistis bahwa rembesan pengaruh sekularisme terhadap masyarakat Indonesia dapat dikurangi, bahkan dibendung.

Secara ideologis, Pancasila pada tataran pemerintahan dan kenegaraan dapat dijadikan tameng untuk menangkal sekularisme. Secara teologis, akidah-akidah dan doktrin-doktrin agama yang dipraktikkan secara benar oleh komunitas-komunitas agama di Indonesia dapat berfungsi menangkal sekularisme pada tataran sosial, kebudayaan, dan kemasyarakatan.

Namun, kerisauan hati dan kecemasan Paus Benedict XVI itu tetap harus mendapat perhatian penuh dan serius dari umat-umat beragama di Indonesia. Masyarakat tanpa Tuhan, apalagi matinya Tuhan seperti yang dikatakan oleh Nietzsche, jangan sampai terjadi di Indonesia.

Jawapos, Senin, 5 Oktober 2009

Related Post

 

Tags: