ISLAM sebenarnya dimulai dengan proses sekularisasi dan ajaran tauhid merupakan pangkal tolak sekularisasi” (Cak Nur).

Teks itulah yang menjadi substansi pemikiran Nurcholis Madjid (Cak Nur) dalam gagasan sekularisasi. Berpangkal dari statement tersebut Cak Nur melahirkan gagasan rasionalisasi dan desakralisasi. Cak Nur merumuskan ide tersebut berdasarkan cara pandang terhadap fenomena peralihan animis ke kepercayaan tauhid (masuk Islam). Cak Nur lantas menjustifikasi idenya itu dengan sekuralisasi yang diperintahkan. Sekularisasi ini, bagi Cak Nur, bukanlah sekularisasi sebagai penerapan sekularisme seperti yang terjadi di Barat yang, bagi Cak Nur, dilarang.

Cara berpikir dan muatan pemikiran Cak Nur seperti itu terasa sangat kontroversial di telinga kebanyakan umat Islam. Karena dalam Alquran maupun hadis tak sedikit pun menjelaskan ihwal sekularisasi. Tak pelak, saat menggelar istilah tersebut pada 1970-an, Cak Nur mendapatkan banyak bantahan dari intelektual Indonesia, termasuk di antaranya adalah HM Rasidji dan Imaduddin Abdurrahim. Dari sinilah kita dibawa oleh Cak Nur ke pengembaraan yang jauh dan masuk ke dalam rimba konfusi semantik dan scientific dengan idenya yang ia klaim sebagai sekularisasi yang diperintahkan oleh Islam.

Du pengkritik Cak Nur adalah  kawan karib dan lawan berpikir. Sekarang pengkritiknya murid Cak Nur sendiri. Dialah Prof Dr Faisal Ismail yang pernah diajar Cak Nur pada mata kuliah ”Modern Islamic Development in Indonesia” di Institute of Islamic Studies, Universitas McGill, Kanada. Sebagai murid yang baik, Faisal Ismail menumpahkan kegundahan pemikiran gurunya dalam buku ini.

Penulis ingin menjadi murid yang baik bagi Cak Nur. Dengan koreksi total pemikiran sekularisasi Cak Nur inilah Faisal ingin menunjukkan diri sebagai murid Cak Nur yang bisa membuat sang guru tersebut bahagia di alam barzakh. Bagi penulis, mengagumi Cak Nur bukanlah dengan menerima pemikirannya secara taken for granted, justru model murid semacam inilah yang dulu sering diejek dan marahi Cak Nur, karena justru akan memitoskan Cak Nur dan membuat pemikiran dan intelektualitas mandek.

Tidak Sepakat
Kembali ihwal masalah sekularisasi, penulis sangat tidak sepakat dengan pemikiran sang guru ini. Baginya gagasan sekularisasi sangat rancu kalau dilekatkan dalam Islam. Islam tidak mengenal sekularisasi, apalagi sekularisasi yang diistilahkan Cak Nur adalah peralihan dari animis menuju tauhid. Islam tidak mengenal sekularisasi, apalagi ada sekularisasi yang diperintahkan. Dalam pembacaan penulis, tidak teks prinsip dalam Alquran maupun hadis yang menjelaskan sekularisasi. Baik itu secara eksplisit maupun implisit. Bagi penulis, Islam dimulai dengan akidah tauhid dan ajaran tauhid merupakan jiwa, semangat, dasar, dan pangkal tolak islamisasi.

Sementara itu, tidak ada bukti empiris-historis-sosiologis yang mengindikasikan, apalagi membuktikan, Nabi dan umatnya pada masa itu telah melakukan sekularisasi.  Baik legitimasi normatif dan legitimasi historis-sosiologis yang ilmiah, tak ada penjelasan sedikitpun sekularisasi dilekatkan dalam Islam. Cak Nur sendiri, kala itu, juga tidak mampu membuktikan dasar epistemologis dalam Alquran yang menjelaskan ihwal sekularisasi. Di berbagai makalah dan bukunya, Cak Nur ”gagal” menjelaskan dasar epistemologis sekularisasi yang melekat dalam Alquran. Begitu juga Cak Nur tidak memberikan contoh-contoh konkret tentang sekularisasi yang, menurut dia, diperintahkan itu. Berbicara tentang ajaran dan perintah dalam Islam, Cak Nur tidak mampu merinci atau menyebut contoh-contoh ayat atau hadits sebagaimana yang sesuai dengan idenya sekularisasi yang diperintahkan.

Pangkal Tolak
Cak Nur hanya mengemukakan, misalnya, suatu ide tauhid merupakan pangkal tolak sekularisasi secara besar-besaran. Itu bukan contoh tentang sekularisasi yang diperintahkan (perintah harus ada nash, seperti shalat). Sekularisasi yang diperintahkan dan ide yang diklaim sebagai sekularisasi yang diperintahkan adalah berbeda (halaman 50).

Karena Cak Nur tidak berangkat dari definisi yang jelas tentang sekularisasi, dan idenya juga lahir dari rahim epistemologi yang ”serampangan”, maka ide sekularisasi yang ditawarkan Cak Nur sebenarnya merupakan ide yang tumpang tindih dalam berbagai gagasan turunannya. Terjadilah inkonsistensi, inkoherensi, dan konfusi dalam pemikiran sekularisasinya. Dari sini, sang murid melihat beberapa kesalahan dalam ide sekularisasi sang guru. Pertama, Cak Nur telah berbuat kesalahan terminologis karena secara ekslusif menggunakan istilah sekularisasi hanya bagi animis yang convert ke kepercayaan tauhid. Kalau orang Islam yang convert ke animis, Cak Nur tidak bisa menjelaskan apa-apa soal ini. Kedua, Cak Nur telah berbuat arbitrary karena memakai istilah sekularisasi untuk suatu peristiwa yang sebenarnya disebut konversi (perpindahan animis pada kepercayaan tauhid). Bukti kerancuannya adalah: tauhid merupakan pangkal tolak sekularisasi secara besar-besaran. Yang benar adalah: tauhid merupakan pangkal tolak islamisasi.

Ketiga, Cak Nur telah membuat kesalahan karena, menurut dia, terjadi sekularisasi pada animis yang masuk Islam. Kesalahan ini berpangkal pada ketidakpahaman Cak Nur bahwa sebenarnya sekularisasi itu hanya dilakukan oleh seseorang (atau sekelompok orang) yang masih terikat kepada kepercayaan atau agama yang sedang ia anut. Keempat, Cak Nur telah berbuat kesalahan karena, bagi dia, terjadi sekularisasi pada animis yang beralih kepada agama Islam (menjadi muallaf). Ini berarti, tauhid telah membuat muallaf mengalami sekularisasi besar-besaran. Padahal, muallaf itu mengalami islamisasi, menjadi Islam, berakidah Islam, dan beridentitas Islam. Bukan menjadi sekuler atau mengalami sekularisasi. (halaman 75-76).

Di sinilah, Faisal Ismail yang sekarang menjadi Guru Besar Islamic Studies di UIN Sunan Kalijaga, membongkar kerancuan pemikiran sang guru. Sekali lagi, penulis hanya ingin menjadi murid yang baik. Dengan saling koreksi dalam dunia intelektual inilah, bagi penulis, terjadi perdebatan dinamis yang bisa menggairahkan iklim keilmuan yang diskursif. Faisal juga menantang publik untuk mendiskusikan ulang ide Cak Nur dan kotrapemikirannya atas sang guru. (Muhammadun AS-35)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2010/02/02/1656/Kerancuan-Pemikiran-Cak-Nur

02 Februari 2010 | 15:35 wib

Related Post

 

Tags: