Prof Dr Faisal Ismail MA, Duta Besar RI di Kuwait

Pancasila yang akan didiskusikan dalam tulisan ini adalah Pancasila yang digagas dan kemudian dicetuskan oleh Soekarno di muka sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di Jakarta pada tanggal 1 Juni 1945.

Kemudian Pancasila gagasan besar Soekarno itu direformulasi oleh Panitia Sembilan (panitia kecil dalam BPUPKI). Setelah tujuh kata (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya) disepakati untuk dihapus atau ditiadakan dari sila Ketuhanan YME, akhirnya Pancasila disetujui, diberlakukan, dan dicantumkan dalam UUD 1945 sebagai dasar falsafah negara kita. Penegasan dan penekanan fragmen sejarah di atas terasa penting diangkat kembali agar wacana dan diskusi kita di seputar Pancasila berikut ini tidak melebar dan salah arah.


Maksud saya,tulisan ini tidak akan mendiskusikan ”Pancasila” (lima prinsip etika) yang terdapat dalam buku karya Empu Prapanca dan Empu Tantular, dua empu yang sangat terkenal pada masa Kerajaan Hindu Majapahit. Jika Pancasila (lima prinsip etika) karya kedua Empu itu disinggung, hal itu hanya dimaksudkan untuk memperkuat argumentasi saya. Ada semacam kegenitan pada sebagian penulis Indonesia untuk memitoskan dan memistifikasi Pancasila.

Salah seorang di antaranya adalah AG Pringgodigdo.Pringgodigdo (bersama Hatta, Ahmad Subardjo Djojoadisurjo,AA Maramis, dan Sunario) adalah anggota Komisi Lima yang menulis buku Uraian Pancasila.Dalam buku Uraian Pancasila tersebut, semua anggota Panitia Lima (tentunya dalam hal ini termasuk Pringgodigdo) menyepakati suatu pendapat bahwa tanggal 1 Juni 1945 merupakan hari lahirnya Pancasila.

Fenomena Pringgodigdo

Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya, Pringgodigdo 100% berubah pikiran dan tidak konsisten dengan pendapat keempat rekannya dalam Panitia Lima. Dalam bukunya yang bertajuk Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara (Balai Pustaka, Jakarta, 1981, hlm 62), Pringgodigdo berargumen bahwa tanggal 1 Juni 1945 bukan merupakan hari lahirnya Pancasila, tetapi merupakan hari lahirnya ”istilah”Pancasila.

Memperkuat dan mempertegas dasar argumennya, Pringgodigdo mengatakan bahwa Pancasila telah ada dan telah dikenal sejak berabad- abad silam dalam kehidupan bangsa Indonesia. Karena itu, dia berdalil, sekarang ini tidak mungkin menentukan dan menetapkan secara pasti tanggal lahir Pancasila. Argumen ini membawa dia pada kesimpulan bahwa tidak ada perlunya memperingati hari lahirnya Pancasila pada setiap tanggal 1 Juni. Sunario (rekannya dalam Panitia Lima) segera mengirim surat kepada Pringgodigdo mempertanyakan pendapatnya yang menyempal dan bertolak belakang dengan pendirian Panitia Lima.Akan tetapi, Pringgodigdo tidak merespons surat Sunario. Sadar atau tidak, Pringgodigdo telah “mengecilkan” peranan Soekarno dengan karya Pancasilanya.

Dengan mengatakan bahwa tanggal 1 Juni 1945 hanya merupakan hari lahirnya “istilah”Pancasila,itu berarti Pringgodigdo telah mereduksi posisi Soekarno sebagai bukan pencipta Pancasila itu sendiri. Posisi dan peranan Soekarno dalam sejarah Indonesia lebih kecil lagi karena dia mendapatkan istilah Pancasila itu dari Muhammad Yamin, rekannya yang ahli bahasa. Pada saat yang sama,Pringgodigdo telah memitoskan dan melakukan mistifikasi Pancasila karena mengatakan bahwa Pancasila telah ada dan telah dikenal sejak berabad- abad yang silam dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Tanpa mengurangi penghargaan dan rasa hormat kepada Pringgodigdo, saya tidak sependapat dengan beliau.

Menurut saya,Pancasila adalah fakta dan realitas historis dalam konteks terciptanya Indonesia sebagai negara bangsa (nation state). Soekarno sebagai (calon) penciptanya terlibat aktif dalam kancah perjuangan dan gelanggang pergerakan nasional, mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI), beberapa kali ditangkap dan dibuang ke pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda. Sebelum mencetuskan ide besarnya, Pancasila,Soekarno merenung secara mendalam dan terobsesi secara intens oleh berbagai aliran pemikiran: Islam,Marxisme,nasionalisme, dan pemikiran Barat.

Hasil Olah Pikir

Hasil olah pikir dan sintesis renungan Soekarno yang intens itu pada akhirnya melahirkan Pancasila yang ia persembahkan kepada bangsanya di muka sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 di Jakarta. Ini adalah fakta dan realitas sejarah. Jelas, Soekarno adalah penggagas dan pencipta Pancasila. Jelas pula, tanggal 1 Juni 1945 adalah hari lahir Pancasila.Pendapat Pringgodigdo yang mengatakan bahwa tanggal 1 Juni 1945 adalah hari lahir istilah Pancasila (bukan lahirnya Pancasila itu sendiri) adalah suatu distorsi sejarah,fabrikasi sejarah,dan karena itu ahistoris.

Mengatakan bahwa Pancasila telah ada dan dikenal sejak berabad-abad silam dalam kehidupan bangsa Indonesia adalah mitos dan mistifikasi Pancasila. Embrio Pancasila dalam pemikiran Soekarno tumbuh dan berkembang bersamaan dengan musim semi nasionalisme Indonesia. Embrio Pancasila tumbuh dan berkembang bersamaan dengan munculnya pergerakan nasional Indonesia yang melahirkan Indonesia sebagai nation state. Saya berpendapat, tidak ada Pancasila sebelum itu.Sebelum itu belum muncul musim semi nasionalisme Indonesia. Kerajaan-kerajaan (Buddha, Hindu, dan Islam) yang berdiri di Nusantara selama berabad-abad adalah bukan nation state. Kerajaan-kerajaan Buddha, Hindu, dan Islam yang ada di berbagai wilayah Nusantara pada abadabad itu adalah kerajaan/pemerintahan dinasti dengan kekuasaan yang diwarisi secara turun-temurun dari kalangan dinastinya.

Benar, kata atau istilah Pancasila sudah dikenal dan dipakai oleh Empu Prapanca dalam karyanya Negarakertagama dan oleh Empu Tantular dalam bukunya Sutasoma pada masa Kerajaan Majapahit.Namun,kedua emputadimemakainya sebagailima prinsipetikaagarparapenguasadan rakyat di Kerajaan Majapahit tidak melakukan kekerasan, tidak mencuri, tidak dendam, tidak bohong, dan tidak mengonsumsi minuman keras. Konsep Pancasila Empu Prapanca- Empu Tantular dan konsep Pancasila Soekarno berbeda dalam gagasan dan substansinya.Kesamaan pemakaian istilah (Pancasila) antara Empu Prapanca-Empu Tantular dan Soekarno tidak harus membawa pada kesimpulan bahwa Pancasila Soekarno sudah ada dan dikenal sejak berabad-abad dalam kehidupan masyarakat Nusantara.

Logika sejarahnya tidak demikian. Pada abad Empu Prapanca dan Empu Tantular hidup, belum dikenal nasionalisme (persatuan dan kebangsaan Indonesia) dan demokrasi (kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan), dua tulang punggung atau pilar Pancasila gagasan Soekarno.Yang ada,dikenal,dan berlaku di Kerajaan Majapahit pada saat itu adalah pemerintahan secara turuntemurun (pemerintahan dinasti), bersifat otoriter, absolut, tidak demokratis yang semua ini merupakan ciri-ciri umum kerajaan pada masa itu.

Mitos dan Mistifikasi

Dengan paparan argumen di atas,saya berpendapat bahwa pandangan Pringgodigdo yang mengatakan bahwa Pancasila telah ada dan telah dikenal sejak berabadabad yang silam dalam kehidupan masyarakat Nusantara adalah mitos dan mistifikasi Pancasila. Sangat fair kalau dikatakan bahwa istilah Pancasila pernah digunakan oleh Empu Prapanca dan Empu Tantular di zaman Kerajaan Majapahit, tetapi sangat berbeda dengan konsep dan gagasan Pancasila Soekarno yang sekarang dijadikan sebagai dasar falsafah negara Republik Indonesia. Argumen saya di atas berlaku pula dalam mengkritisi pendapat Slamet Sutrisno.

Dalam artikelnya yang berjudul “Modalitas Pancasila: Seputar Pancasila ’adalah’ dan Pancasila ’sebagai’ ” (Kedaulatan Rakyat, 22 Mei 2009), Slamet Sutrisno terlebih dulu mengutip pandangan Prof Sudiman Kartohadiprodjo yang berbicara tentang spesies-spesies, yaitu Pancasila sebagai filsafat kenegaraan, filsafat hukum, filsafat politik, filsafat pendidikan,dst.Atas dasar itu,Pak Slamet lantas mantap berdalil bahwa ”ijab kabul Pancasila dengan bangsa Indonesia tidak memerlukan jawaban eksplisit,sebab modalitas Pancasila ini terpaut dengan bagaimana Soekarno menggali Pancasila––yakni sampai ke era Indonesia sebelum Masehi.” Jika Pringgodigdo mengatakan bahwa Pancasila sudah ada dan dikenal sejak berabad-abad yang lalu dalam kehidupan bangsa Indonesia, Pak Slamet lebih jauh lagi dalam melihat “penggalian” Pancasila oleh Soekarno, yaitu sampai ke era Indonesia Sebelum Masehi.

Jelas,ini juga mitos dan mistifikasi Pancasila. Di dalamnya juga terkesan ada idealisasi tidak sehat dalam melihat sosok Soekarno dan karya Pancasilanya yang,menurut Pak Slamet, Soekarno menggali Pancasila itu sampai jauh ke era Indonesia Sebelum Masehi. Saya tidak sependapat dengan Pak Slamet.Menurut perhitungan tahun Masehi (dihitung sejak kelahiran Jesus Kristus/Nabi Isa), sekarang ini (pada saat artikel ini ditulis) adalah tahun 2010. Itu berarti kurun waktunya sudah berlangsung 2010 tahun. Pertanyaan kritis saya kepada Pak Slamet: sudah adakah bangsa dan negara nasional Indonesia pada era Sebelum Masehi? Bukankah makna “era Indonesia Sebelum Masehi” berarti ada bangsa dan negara nasional Indonesia pada era Sebelum Masehi itu? Jelas cara pandang Slamet Sutrisno nglantur.

Selain itu, penggunaan kata “menggali” oleh Pak Slamet dalam ungkapan ”Soekarno menggali Pancasila sampai ke era Indonesia Sebelum Masehi”mengandung pengertian bahwa Soekarno menggali dan “menemukan” Pancasila di perut bumi Nusantara di era Indonesia Sebelum Masehi. Sekali lagi, itu mitos dan mistifikasi Pancasila.Menurut saya,Pancasila itu diciptakan (created), bukan ditemukan (invented). Bukan seperti Columbus menemukan Benua Amerika atau penambang menemukan barang tambang di perut bumi. Pancasila diciptakan oleh Soekarno sebagai hasil olah pikir dari berbagai sumber referensi bersamaan dengan munculnya musim semi nasionalisme Indonesia.

Ahistoris

Hasil penelusuran dan pelacakan Pak Slamet bahwa penggalian Pancasila oleh Soekarno jauh sampai ke era Indonesia Sebelum Masehi masih bisa dikejar.Penggalian Pancasila itu dilakukan oleh Soekarno sampai ke era seratus tahun Sebelum Masehi atau ke era beribu- ribu tahun Sebelum Masehi? Karena ungkapan “sampai ke era Sebelum Masehi” itu sangat luas, masih kabur,dan tidak jelas kurun waktunya. Bisa ke era 100 tahun Sebelum Masehi, bisa juga ke era beribu-ribu tahun Sebelum Masehi.

Apa pun yang Pak Slamet maksud, mengatakan bahwa penggalian Pancasila oleh Soekarno sampai jauh ke era Indonesia Sebelum Masehi adalah pendapat yang sangat ahistoris,mitos dan mistifikasi Pancasila dan penciptanya,Soekarno. Karena sudah kental dengan mitos dan mistifikasi,jalan pikiran Pak Slamet selanjutnya mengatakan bahwa ijab kabul Pancasila dengan bangsa Indonesia tidak memerlukan jawaban eksplisit.Pola berpikir semacam ini juga diliputi mitos, misteri, dan mistifikasi Pancasila. Mengapa saya katakan demikian? Jawaban saya: karena Pancasila sebagai dasar negara sudah secara eksplisit, jelas, dan gamblang tercantum dalam UUD 1945. Dengan kata lain, ijab kabul bangsa Indonesia dengan Pancasila sudah terikrar, sudah terlafazkan,dan sudah terjawab secara eksplisit dalam UUD 1945.

Sudah saatnya kita sebagai ilmuwan dan akademisi menghentikan kegenitan kita untuk memitoskan dan melakukan mistifikasi Pancasila.Kita hendaknya menempatkan Pancasila dan penciptanya, Soekarno, dalam bingkai sejarah yang riil, faktual, dan jauh dari mitos-mitos serta mistifikasi yang tidak sehat.(*)

Seputar Indonesia, 1 Juni 2010

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/328081/

Related Post

 

Tags: