Prof Dr Faisal Ismail MA, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tidak dapat disangkal bahwa akal atau rasio adalah alat yang sangat ampuh bagi manusia. Dengan perangkat akal budinya, manusia menciptakan kebudayaan dan peradaban yang tidak sama di setiap kurun waktu.

Pada mulanya kebudayaan dan peradaban manusia sangat bersahaja, lalu berkembang ke tingkat yang lebih maju,kemudian setelah melalui proses yang panjang kebudayaan dan peradaban manusia meningkat lagi ke taraf yang sangat maju dan canggih. Tidak seperti hewan yang bersifat stereotip, manusia adalah makhluk yang dinamis dan kreatif.Kreativitas manusia dalam mengembangkan kebudayaan dan peradabannya dipicu oleh olah pikir akal budinya yang sangat menakjubkan. Dewasa ini perkembangan sains dan teknologi telah membawa kebudayaan dan peradaban manusia ke tingkat kemajuan yang sangat mengagumkan.

Decak kagum warga dunia tercetus ketika manusia dengan pesawat ruang angkasanya mendarat di bulan untuk pertama kalinya.Pendaratan di bulan terus disusul oleh upaya manusia untuk mengeksplorasi ruang angkasa dengan pesawat yang serba modern dan canggih.Dengan kemajuan sains dan teknologi yang modern dan canggih, kini orang dapat berkomunikasi dari jarak sangat jauh, antarpulau dan bahkan antarbenua, dengan menggunakan alat komunikasi seperti telepon dan satelit. Kemajuan sains dan teknologi modern telah memberikan kemudahan,kenyamanan, akurasi,dan kecepatan yang serbapraktis. Dunia yang luas ini kini telah menjadi global village.

Dalam desa global ini, bagian-bagian dunia yang sangat luas dan amat jauh sekali pun berada dalam jangkauan alat teknologi yang diciptakan manusia. Globalisasi telah membuat komunikasi dan hubungan antarmanusia dan antarbangsa dipermudah dengan peralatan modern yang serbacanggih itu.Di balik halhal positif yang disuguhkan modernisasi dan globalisasi,teknologi modern memiliki efek samping bagi kehidupan keagamaan seseorang. Jika fondasi kepercayaannya tidak kuat, justru kemajuan sains dan teknologi modern dapat menyorongkan skeptisisme agama dalam dirinya.

Berkah Teknologi

Skeptisisme agama menyeruak dalam diri seseorang jika ia hanya melihat sebatas segi kegunaan applied science (ilmu terapan).Ketika terjadi musim kemarau panjang dan agar tanah-tanah pertanian tetap mendapatkan air hujan, teknologi digunakan untuk membuat hujan buatan.Pertanian pun tumbuh subur karena mendapatkan air hujan buatan itu.Hasil pertanian dipanen dan para petaninya sangat puas dengan hujan buatan tadi.Ketika udara di ruang kerja terasa panas,AC dihidupkan.

Udara pun menjadi dingin.Sebaliknya, ketika udara di ruang tamu terasa dingin, heater dinyalakan. Udara pun terasa hangat dan nyaman dirasakan, baik oleh penerima tamu ataupun tamunya. Baik sang tuan rumah maupun tamunya merasa nyaman dengan menggunakan teknologi tadi. Aliran air sungai yang deras dijadikan pembangkit tenaga listrik sehingga kebutuhan listrik masyarakat dapat dipenuhi. Desa-desa dan wilayah luas pemukiman di sekitar kawasan itu menjadi terang benderang.Air laut yang asin telah dapat ditawarkan dengan menggunakan teknologi modern. Ini banyak dilakukan di negara-negara Timur Tengah seperti Kuwait dan Arab Saudi yang tidak mempunyai sungai dan sumber air tawar.

Dengan demikian, kebutuhan harian akan air bersih,segar,dan tawar untuk seluruh rakyat di negara-negara itu dapat dipenuhi. Masyarakat merasa senang dan bahagia dengan tersedianya air tawar dan bersih yang disuling dari air laut yang dulunya sangat asin itu. Pasangan yang sulit memperoleh keturunan kini dapat mengupayakannya dengan menempuh program bayi tabung.Pasangan ini berhasil mempunyai anak yang sudah lama ditunggu-tunggu.Untuk menghitung penjumlahan dan pengalian angka yang pelik,cukup digunakan kalkulator.Tanpa menghitung lama-lama, hasilnya sangat cepat dan sekaligus akurat.

Menangkal Skeptisisme

Jika seseorang hanya melihat aspek luar dan segi kegunaan teknologi seperti digambarkan di atas, dia rentan mengalami skeptisisme agama. Dia terpukau, terpesona, dan kagum dengan sains dan teknologi itu.Dia berpikir,untuk membuat hujan buatan, membuat udara menjadi panas atau sebaliknya, membuat tenaga listrik dari arus sungai, menawarkan air laut yang asin,menghasilkan keturunan,dan menghitung angka, cukup digunakan teknologi saja.

Dengan kemajuan sains dan teknologi yang modern dan canggih,manusia hampir dapat melakukan dan menghasilkan apa saja yang dinginkan dalam hidup ini. Lantas timbullah anggapan atau bahkan kesimpulan bahwa yang paling berperan dalam hidup ini adalah rasio, sains, dan teknologi. Sains dan teknologilah yang menentukan. Tuhan tidak penting dan tidak menentukan. Inilah yang saya maksud dengan skeptisisme agama itu. Tepat sekali sistem pendidikan kita yang berupaya menyeimbangkan antara imtak (iman dan takwa) dan imtek (ilmu dan teknologi). Kebijakan ini dapat dilihat dari pemberian mata pelajaran pendidikan agama dalam sistem pendidikan nasional kita.

Dengan memadukan, mengintegrasikan, dan menyeimbangkan pendidikan agama dan pendidikan umum dalam sistem pendidikan nasional kita, diharapkan skeptisisme agama dapat dicegah dan ditangkal. Kita yakin, sains dan teknologi sebenarnya sebagai alat pelengkap hidup. Akal pikiran yang menghasilkan sains dan teknologi adalah anugerah Tuhan. Karena itu Tuhan-lah, bukan sains dan teknologi, yang paling penting dan menentukan hidup kita.

Rabu, 28 Juli 2010

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/340776/

Related Post

 

Tags: