Okrisal Eka Putra, Dosen UIN Yogyakarta

The Egyptian Scholar of the Sun and Space Reserch Center yang berpusat di Kairo memublikasikan hasil penelitian Prof Hussain Kamel yang menemukan sebuah fakta bahwa Makkah adalah pusat bumi. Dalam penelitiannya, ia menyimpulkan kedudukan Makkah betul-betul berada di tengah-tengah dataran bumi.

Awal penelitiannya hanya untuk mengetahui arah kiblat di kota-kota besar dunia dengan menggunakan perkiraan matematika dan kaidah yang disebut  “spherical triangle” ia mulai menggambar suatu lingkaran dengan Makkah sebuah titik pusatnya, dan garis luar lingkaran adalah benua-benuanya. Dia dibantu dengan topografi tahun 90-an yang telah menjadi teori yang mapan bahwa secara ilmiah lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab.

Lempengan-lempengan itu secara terus-menerus memusat ke arah Makkah. Berdasarkan hasil penelitian ini, Arab Saudi meresponsnya dengan memulai proyek besar untuk mengganti rujukan waktu dunia dari GMT (Greenwich Mean Time) menjadi Makkah Mukarromah Time (MMT). Dengan demikian, Kota Makkah bukan hanya sekadar arah kiblat, tetapi juga sebagai pusat koordinasi hitungan waktu. Jika waktu MMT ini diterapkan, akan memudahkan bagi setiap Muslim untuk mengetahui waktu shalat.

Bagi umat Islam, menghadap kiblat merupakan syarat sah shalat karena adanya perintah dalam Alquran surah Albaqarah ayat 144-149. Kesepakatan ini berlaku pada shalat fardu (wajib) dalam keadaan aman. Ketika dalam keadaan tidak aman dan menakutkan (seperti dalam keadaan perang) atau orang yang sedang dalam perjalanan di atas kendaraan, boleh setelah awalnya menghadap kiblat, selanjutnya mengikuti arah tujuan kendaraan.

Kalau kita berada di Masjidil Haram dan dekat dengan Ka’bah, ulama mengharuskan kita menghadap secara tepat ke bangunan Ka’bah. Dan, kalau kita berada di dalam Ka’bah, kita boleh menghadap ke mana saja kecuali ke arah pintu Ka’bah (menghadap keluar). Ini yang dicontohkan Rasulullah ketika beliau shalat di dalam Ka’bah, beliau diriwayatkan berjalan ke arah dinding dan shalat dua rakaat.

Sejarah Ka’bah
Tidak disebutkan secara pasti dalam sejarah kapan pertama kali Ka’bah dibangun. Dijelaskan dalam surah Ali Imran 96: bahwa rumah peribadatan pertama yang dibangun oleh manusia pertama kali dimuka bumi adalah Ka’bah. Ini menunjukkan isyarat bahwa ia telah ada sejak manusia menginjakkan kaki pertama kali di muka bumi ini, tapi ada juga yang mengartikan bahwa kata “manusia” yang dimaksud dalam ayat itu adalah manusia yang berada di Kota Madinah dan sekitarnya. Mereka mengakui bahwa Nabi Ibrahimlah yang membangun/ meninggikan fondasi Ka’bah. Jika demikian, sangat wajar di namai rumah peribadatan pertama yang dibangun untuk manusia. Sementara itu, ulama berpendapat bahwa Ka’bah dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim mendahului Bait al Maqdis sekitar 9 abad. Nabi Ibrahim meninggi kan fondasinya sekitar 1900 SM, sedang kan petugas-petugas Nabi Sulaiman membangun Bait al Maqdis sekitar 1000 SM. Konon, Masjid Al Aqsha pada mu lanya adalah masjid kecil yang dibangun oleh Nabi Ibrahim yang kemudian punah, lalu dibangun kembali di lokasi itu atas perintah Nabi Sulaiman AS.

Ka’bah sepanjang sejarah keberadaannya selalu dihormati dan diagungkan oleh penduduk sekitarnya, termasuk masyarakat jahiliyah sebelum Islam datang. Pada masa itu, masyarakat jahiliyah sangat menghormati Ka’bah, ini terbukti dengan dua hal. Pertama, mereka tidak mau membuat ba ngunan mirip Ka’bah dengan persegi empat. Kalau membangun rumah berbentuk setengah lingkaran (persis rumah dom korban gempa di Yogya). Kedua, mereka tidak mau membuat rumah lebih tinggi dari Ka’bah. Ini dilakukan karena sangat menghormati Ka’bah. Ini sangat jauh berbeda kalau kita perhatikan pada masa kini, Masjidil Haram yang di dalamnya terdapat bangunan Ka’bah sudah tenggelam di antara gedung-gedung pencakar langit di sekitar Masjidil Haram.

Menghadap Ka’bah dalam shalat hanya untuk menyatukan arah shalat. Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya kalau arah shalat berbeda-beda, tentu saja akan terjadi kekacauan. Jadi, tidak benar tuduhan bahwa umat Islam menyembah Ka’bah. Kalau umat Islam menyembahnya, tentu boleh kita membuat miniatur Ka’bah di rumah dan shalat menghadapnya. Rasulullah pernah shalat tidak menghadap Ka’bah, tetapi shalat menghadap Masjid Al Aqsha selama beberapa bulan. Ini menunjukkan bahwa shalat bukan menyembah Ka’bah. Walaupun ulama berbeda pendapat alasan Rasulullah menghadap Masjid Al Aqsha, ada yang mengatakan karena Ka’bah di Makkah pada saat itu dipenuhi oleh berhala, jadi kurang pantas dijadikan arah shalat, ada juga ulama mengatakan bahwa arah kiblat Rasulullah ke Masjid Al Aqsho untuk menarik simpati orang-orang Yahudi agar mereka masuk Islam.

Pintu Ka’bah yang kita lihat sekarang juga menyimpan cerita menarik. Sebelum Rasulullah wafat pernah beliau berkata kalau beliau ingin Ka’bah memiliki dua pintu, satu di depan dan satu di belakang sebagai pintu keluar, tapi sayang sampai Rasulullah wafat keinginan itu belum terwujud. Barulah pada masa Abdullah Ibnu Jubair (keponakan siti Aisyah) ingin merealisasikan keinginan Rasulullah tersebut. Akhirnya, beliau berkeinginan untuk merenovasi Ka’bah menjadi dua pintu seperti keinginan Rasulullah.

Tapi, penduduk Makkah pada saat itu menentang keinginan tersebut. Mereka takut dan trauma dengan peristiwa burung ababil yang mengancurkan tentara Abraha ketika ingin menghancurkan Ka’bah, tetapi Abdullah ibnu Jubair tetap melaksanakan perenovasian pintu Ka’bah. Dan, akhirnya Ka’bah memiliki dua pintu, setelah beliau wafat. Pada masa Abbasiyah, Ka’bah dirombak lagi dan dikembalikan menjadi satu pintu, khalifah selanjutnya mengubah lagi menjadi dua pintu, akhirnya pada zaman imam Malik, beliau mengusulkan dikembalikan seperti zaman Rasulullah yaitu satu pintu. Karena, kalau dibiarkan seperti itu, akan merusak bangunan Ka’bah karena dirombak terus sesuai dengan keinginan sang khalifah yang berkuasa.

Pada akhirnya, perdebatan tentang arah kiblat muncul pada masa ini karena kemajuan tekonologi sekarang sudah bisa menentukan dengan tepat arah Ka’bah. Dalam surah Yunus disebutkan bahwa Allah SWT menciptakan matahari dan bulan dan menentukan garis-garis edarnya agar manusia bisa menghitung tahun dan menghitung letak tempat dengan ilmu hisab. Ini tentunya perlu kita dukung untuk kesempurnaan arah kiblat sebagai sarat sah ibadah shalat.

Republika, Sabtu, 31 Juli 2010

Related Post

 

Tags: