oleh Faisal Ismail

Sebenarnya, seluruh gerak dan aspek kehidupan seorang Muslim adalah identik dengan amal-amal ibadat. Zikir, iktikaf, membaca Alqur’an (mengaji), berdo’a, infak, sadakah, shalat (wajib dan sunnat), zakat (mal dan fitrah), puasa (wajib dan sunnat), umrah, dan haji adalah merupakan rangkaian ibadat yang dilakukan oleh seorang Muslim dalam gerak dan perilaku hidupnya. Semua aktivitas ibadat ini merupakan kegiatan ritual- agamis dan momentum humanis transendental-Ilahiah yang secara sinergis selalu mengukuhkan dan memperkuat kembali sendi-sendi spiritualitas dan pilar-pilar moralitas Muslim sehingga personalitas sang Muslim tadi mengalami penyegaran dan penguatan imaniah-agamawiah secara berkesinambungan.

Sesungguhnya, setiap saat daya kepekaan spiritualitas dan daya penguatan moralitas Muslim selalu direvitalisasi, didinamisasi, dan dicerahkan (kembali) dalam konstruk totalitas keberimanan dan keberagamaan yang intens. Puasa Ramadan merupakan salah satu ajaran pokok Islam yang dapat mengasah, mempertajam dan memperkuat nilai-nilai Ketuhanan, nilai-nilai kemanusiaan, dan nilai-nilai kefitrian dalam diri seorang Muslim.

Penajaman dan penguatan ini sudah pasti akan menempatkan sosok pribadi Muslim tadi selalu berada dalam suasana dan gerak kesadaran Ketuhanan dalam dirinya. Dia merasa dekat dengan Tuhan. Tuhan selalu bersama dia di mana pun dan kapa pun dia berada.

Muslim yang Kaffah

Puasa Ramadan adalah ibadat wajib yang setahun sekali kita tunaikan. Dasar perintahnya adalah firman Allah yang tercantum dalam Alqur’an Surat Albaqarah ayat 183. Mengambil pengertian dari ayat itu, sebenarnya ibadat puasa telah Allah wajibkan kepada umat-umat terdahulu sebelum Umat Muhammad. Allah mewajibkan puasa Ramadan kepada Umat Islam agar dapat meraih derajat takwa. Puasa Ramadan ditetapkan sebagai rukun Islam ke-4 dalam bangunan lima pilar Islam (syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji). Kelima rukun Islam ini adalah pilar atau penyangga yang fungsinya saling menopang, menunjang dan memperkuat. Kita tidak dibenarkan mengerjakan yang satu tapi meninggalkan yang lain. Kita harus mengamalkannya secara total, terpadu dan utuh agar kita menjadi pemeluk Islam yang kaffah (komplit).

Selain rukun Islam, kita juga harus memegangi rukun Iman: percaya kepada Allah yang Maha Esa, para malaikat-Nya, kitab- kitab suci-Nya, para Rasul-Nya (termasuk Nabi Isa atau Yesus Kristus), Hari kiamat (Hari akhir), dan qada qadar-Nya. Dengan demikian, lengkaplah Islam sebagai agama yang terdiri dari tatanan doktrin kepercayaan (faith) dan ibadat (practice), yang inti tujuannya adalah membentuk sosok pribadi Muslim dengan kualitas iman, amal dan takwa yang prima. Sosok pribadi Muslim yang bertakwa ini pulalah yang menjadi inti dan substansi ajaran puasa Ramadan.

Selain menguatkan (kembali) sendi-sendi spiritualitas dan nilai-nilai moralitas, ajaran puasa Ramadan sekaligus berfungsi sebagai metode untuk memanusiawikan manusia. Seluruh ritus puasa bertujuan untuk memerangi hawa nafsu yang selalu bergejolak dalam diri manusia. Hawa nafsu adalah teman dekat dan sekutu selingkuh setan. Itulah sebabnya, setiap kali kita hendak melakukan suatu pekerjaan yang baik dan terpuji, kita tidak lupa membaca ”a’uzu billahi minasysyaithanirrajim” (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk) yang kemudian kita sambung dengan bacaan basmalah (”bismillahirrahmanirrahim,” dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang).

Identitas Kefitrian

Dalam kitab suci Alqur’an, Allah telah menyatakan bahwa setan adalah makhluk yang terlaknat dan terkutuk yang kerjanya sejak awal sampai hari kiamat hanya menggoda manusia dan menjerumuskannya ke dalam jurang kesesatan, kemaksiaatan dan kemungkaran. Karena setan itu adalah makhluk yang gaib (tak terlihat oleh mata dan tidak terasa oleh panca indra), ia selalu mengintai manusia kapan saja dan di mana saja dan menggunakan setiap celah kesempatan untuk selalu menggoda dan terus menjebak manusia ke dalam perangkap kesesatan, kemaksiatan, keingkaran dan kedurhakaan kepada Allah. Setan adalah musuh bebuyutan manusia, karena itu manusia harus selalu waspada, mawas diri, kontrol diri, dan berani melawan godaan setan ini.

Allah telah mempersenjatai Umat Islam dengan berbagai benteng pertahanan berupa perangkat kepekaan iman dan pengamalan ibadat sebagai cara untuk melawan dan memerangi nafsu syaitaniyah. Mari kita gunakan senjata iman dan ibadat itu dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin agar nafsu syaitaniyah dalam diri kita dapat kita taklukkan kapan pun dan di mana pun kita berada. Iman dan ibadat adalah taming dan benteng yang sangat kuat bagi kita untuk menangkis segala godaan dan jebakan setan.

Lebih-lebih lagi pada bulan suci Ramadan saat para setan dikrangkeng, kita tingkatkan internalisasi iman dan intensitas pengamalan ibadat, baik ibadat yang bersifat wajib maupun ibadat yang bersifat sunnat. Keberhasilan kita menundukkan nafsu syaitaniyah ini akan menjadikan diri kita memilki sifat-sifat insaniah yang sejati dan fitri. Di sinilah sebenarnya letak inti, substansi dan signifikansi ajaran puasa Ramadan itu, yaitu sebagai wujud amalan ubudiyah dan sebagai metode Ilahiah yang sangat efektif untuk memanusiawikan manusia agar dapat menemukan konstruk jati diri kesejatiannya. Memanusiawikan manusia menuju dan merengkuh identitas kefitriannya.***

 

Kedaulatan Rakyat, Kolom Hikmah Ramadhan 2010

Related Post

 

Tags: