Faisal Ismail

Sila kedua Pancasila mengajarkan ”Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.” Ini berarti bahwa filsafat hidup kita mengajarkan agar seluruh bangsa Indonesia menjadi orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, keadaban dan peradaban. Ajaran luhur dan mulia ini sudah seharusnya selalu mendasari segala perilaku masyarakat Indonesia dalam segala aspek hidup dan kehidupannya. Nilai-nilai luhur dan agung yang terkandung dalam ajaran ”Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” ini bersumber dari sistem nilai budaya dan ajaran agama yang berakar kuat dalam struktur kehidupan dan tradisi kemasyarakatan yang kita warisi dari para leluhur kita secara turun-temurun.

Sangat tepat dan bijak para Pendiri Republik ini yang telah menjadikan prinsip ”Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” ini sebagai salah satu sila Pancasila. Lebih-lebih lagi prinsip ”Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” ini disinari oleh dasar ”Ketuhanan Yang Maha Esa,” ajaran yang Ilahiah sebagai prinsip pertama Pancasila. Atas dasar pandangan hidup inilah, sendi-sendi kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan kita ditegakkan dalam rangka membangun pilar-pilar nasionalisme, konstitusionalisme dan pluralisme.

Mari kita coba melakukan evaluasi dan bahkan kritik diri, sejauh mana kita telah melaksanakan prinsip ”Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” ini dengan mengaitkan pada kasus-kasus yang terjadi dalam masyarakat kita dewasa ini. Sejauh yang dapat diamati, tergambar di hadapan kita sebuah potret buram peradaban. Bingkai kebangsaan kita retak. Bingkai peradaban keagamaan kita pecah. Terjadi disharmoni sosial di berbagai wilayah di Tanah Air. Nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban yang diajarkan oleh Pancasila telah terkoyak-koyak dan robek di tangan sebagian orang-orang Indonesia sendiri. Konflik, tawuran, perseteruan dan bentrokan berdarah sebagaimana akan diutarakan berikut ini dapat dijadikan indikator.

Tawuran dan Gegeran

Serangkaian tawuran antarpelajar terjadi di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Beberapa korban terluka parah akibat gegeran, perseteruan dan bentrokan berdarah ini. Tawuran serupa terjadi pula antarmahasiswa, kelompok yang lebih terpelajar. Tawuran sengit dan berdarah tadi mengakibatkan beberapa mahasiswa terluka berdarah-darah. Contoh terkini adalah gegeran dan tawuran antarmahasiswa di Universitas Hasanuddin Makassar. Ironisnya, tawuran terjadi antarmahasiswa dari dua fakultas di lingkungan unuiversitas itu sendiri. Banyak fasilitas kampus yang dirusak dan hancur. Gegeran juga pernah terjadi di kalangan anggota DPR. Perilaku tidak simpatik di hadapan publik telah dipertontonkan oleh anggota Dewan yang terhormat.

Konflik dan tawuran antarpelajar dan antarmahasiswa biasanya dipicu oleh hal-hal sepele yang terjadi antara dua orang pelajar atau mahasiswa. Persolan-persoalan pribadi tadi kemudian semakin meluas dan memanas menjadi persoalan kelompok. Dan kelompoknya harus dibela, walaupun mereka harus rela menderita, luka-luka dan bahkan meninggal dunia. Luapan emosi, perseteruan, kebencian, arogansi dan agresivitas lebih banyak berbicara ketimbang bisikan suara hati nurani dan akal sehat yang lebih mengedepankan visi kebenaran.

Fenomena ini bisa disebut sebagai gejala taasub kelompok yang picik, sempit dan chauvinistik. Solidaritas kelompok di kalangan mereka yang terlibat perkelahian, gegeran dan tawuran itu sudah pasti lebih dominan daripada pertimbangan rasionalitas, logika, akal sehat dan hati nurani. Yang penting, bagi mereka, membela kawan secara membabi buta dan tanpa mempertimbangkan lagi siapa yang salah dan siapa yang benar. Irasionalitas, emosionalitas dan sentimen-sentimen egoistik pribadi dan kelompok terasa sangat dominan dan menyulut bara kemarahan yang diletupkan pada pihak yang dianggap lawan.

Konflik Sosial

Tindakan anarkis, agresif dan brutal juga terlihat pada kasus-kasus konflik antaretnis yang bermotif SARA (suku, agama, ras dan antar-golongan). Kasus Sambas, Pontianak, Poso, Ambon dan kasus-kasus lain yang melibatkan perkelahian antaretnis terjadi dalam skala yang luas. Ada kecenderungan penguatan identitas etnis yang chauvinistik di kalangan suatu komunitas tertentu yang dibarengi dengan pengusiran terhadap masyarakat di luar etnisnya. Akar penyebabnya terkait dengan persoalan sosial, ekonomi atau masalah kemasyaratan lainnya. Tampak terjadi kecenderungan yang sangat berlebihan pada etnis tertentu untuk mengusir dan menghabisi etnis lain di luar kelompoknya, walaupun yang disebut terakhir ini sudah beberapa generasi hidup menyatu dengan mereka dan menjadi warga atau penduduk setempat. Bukan hanya pengusiran, akan tetapi etnis setempat tadi sudah melakukan semacam pembunuhan dan pembantaian (ethnic cleansing) terhadap etnis pendatang.

Akibat konflik sosial ini, ribuan rumah tinggal (termasuk rumah-rumah ibadat), kontor-kantor pemerintahan dan gedung-gedung universitas dibakar dan luluh lantak akibat ulah dari kedua belah pihak yang bertikai. Sarana dan prasarana yang telah dibangun dengan biaya yang besar dan memakan waktu yang lama tiba-tiba musnah begitu saja karena aksi saling bakar oleh kedua belah pihak yang berkelahi. Semua jadi arang dan abu. Semua kalah. Tidak ada yang menang. Segalanya sia-sia. Musnah harta, punah jiwa. Akibat konflik ini, satu generasi telah hilang.

Konflik antaretnis ini telah mengakibatkan terjadinya problem kemasyarakatan yang sangat serius dan kompleks. Kelompok etnis yang terusir ini hidup di daerah-daerah pengungsian dan menghadapi masalah-masalah sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan yang sangat memprihatinkan di tenda-tenda penampungan yang serba kekurangan fasilitas. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Depnakertrans (Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi) pada tanggal 31 Agustus 2002, total pengungsi di Indonesia mencapai 1.353.963 jiwa atau 293.228 kepala keluarga.

Amuk Massa

Anarkisme massa juga tercetus antarpendukung cabup (calon bupati)-cawabup (calon wakil bupati) dalam pemilukada di beberap daerah. Para pendukung cabup dan cawabup yang kalah mengamuk melawan para pendukung cabup-cawabup yang menang. Di Sidoarjo, misalnya, massa pendukung cabup-cawabup yang kalah dengan keberingasan dan keganasan yang sangat anarkis membakar kantor, sejumlah mobil dan fasilitas umum lainnya. Agresivitas dan brutalitas massa yang sama tercetus juga di beberapa daerah, baik sebelum atau pun sesudah pilkada. Biaya pilkada yang sangat mahal (miliaran rupiah) masih diperparah oleh kerugian (hancurnya fasilitas umum) akibat amuk massa yang anarkis dan brutal. Pesta democracy berubah menjadi pesta democrazy! Perkelahian dan amuk massa antarpendukung tim sepak bola semakin melengkapi retaknya peradaban kita. Para pendukung tim sepak bola yang kalah mengamuk, berkelahi dan melempar batu para pendukung tim sepak bola yang menang. Beberapa orang terluka dan berdarah-darah. Mereka tidak siap mental untuk kalah, yang ada di benak mereka hanya fanatisme tim.

Kekalahan tim sepak bola kesayangannya membuat mereka marah, berang dan beringas, lantas mengamuk dengan tindakan penuh anarkis dan brutal. Aneh, kaca-kaca jendela kreta api dirusak dan rumah-rumah penduduk yang dilalui dilempar batu dan dirusak. Mereka tidak dapat mengendalikan diri akibat kecewa dan frustasi terhadap tim sepak bola kesayangannya yang kalah dalam pertandingan liga sepak bola. Sadar atau tidak, sendi-sendi peradaban kita telah goyah dan tercoreng-bopeng. Kalau keadaan ini mengalami erosi yang berkepanjangan, tidak mustahil fondasi kemanusiaan dan sendi peradaban kita akan semakin parah. Apa yang retak pada visi keagamaan kita? Apa yang salah dengan sistem sosial kemasyarakatan kita? Apa yang melenceng dengan sistem pendidikan kita? Apa yang pecah pada bingkai peradaban kita? Apa yang bengkok dalam orientasi nilai kebangsaan kita?***

Koran Jakarta, 7 Agustus 2010

Related Post

 

Tags: