oleh Faisal Ismail

Dalam tradisi Islam, ajaran berkurban pada saat Idul Adha (Idul Kurban) bermula dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk mengurbankan putranya Ismail (QS As-Shafat:102-107). Dalam ayat tersebut, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putra tercintanya Ismail. Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail yang sangat dikasihi itu merupakan ujian maha berat terhadap keimanan, kepatuhan, dan ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah. Nabi Ibrahim dengan rasa keimanan yang kuat ternyata benar-benar mematuhi perintah Allah. Nabi Ibrahim pun sudah siap melaksanakan penyembelihan dan meletakkan pisaunya di leher anak kesayangannya. Kemudian ia pun memejamkan matanya untuk tetap tegar dan tabah menyembelih Ismail. Pada momen-momen yang sangat mencekam dan detik-detik yang sangat genting seperti itu, Allah dengan Kemahakuasaan-Nya secepat kilat mengganti Ismail dengan seekor domba, dan domba itulah yang akhirnya disembelih oleh Nabi Ibrahim. Peristiwa inilah yang menjadi dasar dan awal mula perintah berkurban itu, dan perntah ini diteruskan dan dilestarikan oleh Nabi Muhammad sebagai suatu ajaran dan tradisi Islam.

Pelaksanaan pemotongan hewan-hewan kurban ini dilaksanakan setelah selesai salat Idul Adha. Daging hewan-hewan kurban tadi diberikan secara tulus ikhlas kepada orang-orang yang berhak menerimanya (kaum dhu’afa). Setiap kali Hari Raya Kurban datang, kita menyaksikan di seluruh Tanah Air (dan di Dunia Muslim) begitu banyak orang Islam yang melaksanakan perintah berkurban. Mereka menyerahkan hewan-hewan kurban (kambing, domba, lembu) kepada panitia atau takmir masjid agar hewan- hewan kurban itu disembelih dan dagingnya diberikan kepada kaum dhu’afa.

Kadang-kadang ada di antara hewan-hewan kurban itu yang diserahkan dalam keadaan hidup oleh panitia kurban ke masjid-masjid desa atau kampung. Barangkali hal ini merupakan cara yang mudah dan praktis. Ada pula sekelompok mahasiswa Muslim yang mengoordinasi pelaksanaan pemotongan hewan kurban dengan cara membagi-bagikan daging hewan-hewan kurban itu kepada masyarakat di desa-desa binaan mereka. Desa- desa binaan ini biasanya berasal dari desa-desa yang pernah mereka tempati sebagai lokasi kegiatan kuliah kerja nyata (KKN).

Makna Teologis, Simbolik, dan Sosiologis

Ada makna teologis, simbolik dan sosiologis yang sangat esensial yang terkandung dan dapat dipetik dari ajaran kurban itu. Pertama, Allah (dan Rasul-Nya) haruslah lebih kita cintai daripada yang lain dengan cara memperlihatkan kepatuhan dan ketaatan kita kepada perintah-perintah-Nya. Nabi Ibrahim telah menjalankan perintah Allah tanpa syarat, kendatipun beliau harus menyembelih anaknya yang sangat disayangi dan dicintainya. Ismail, sebagai seorang anak yang patuh kepada perintah Allah, juga rela untuk disembelih oleh ayahnya. Ini berarti bahwa urusan-urusan duniawi seperti anak, harta benda, pangkat, kedudukan dan status sosial jangan sampai menjadi kendala bagi Muslim dalam mencintai, berbakti, mengabdi, dan beribadat secara total dan maksimal kepada Allah.

Kedua, kita dididik untuk ikhlas dan rela berkorban dengan memberikan sesuatu yang kita cintai kepada orang (pihak) lain. Logikanya, memberikan sesuatu yang tidak kita cintai kepada orang lain adalah bukan esensi ajaran kurban yang dituntunkan oleh agama. Sesuatu yang tidak kita cintai adalah merupakan sesuatu yang tidak bernilai dan tidak berharga. Oleh karena itu, tidak sepantasnya sesuatu yang tidak bernilai itu kita berikan kepada orang lain. Sebaliknya, apabila yang kita berikan kepada orang lain itu adalah sesuatu yang kita cintai dan bernilai, maka pemberian dan pengorbanan yang demikian itu akan mempunyai makna yang sangat esensial dan memiliki arti yang sangat besar bagi kepentingan manusia dan kemanusiaan.

Contoh yang sangat dekat dengan kehidupan kita sebagai bangsa adalah pengorbanan para pahlawan yang telah mengantarkan kita ke pintu gerbang kemerdekaan. Jiwa, raga dan harta telah mereka korbankan untuk kemerdekaan Tanah Air tercinta. Berkat pengorbanan jiwa, raga dan harta mereka itulah negeri ini akhirnya menjadi bebas merdeka, dan kita pun bisa mereguk udara kebebasan dan kemerdekaan di bumi persada tercinta ini. Karena jiwa, raga dan harta itu adalah sesuatu yang sangat mereka cintai, berharga dan bernilai, maka pengorbanan mereka pun pasti sangat memiliki makna yang esensial dan mempunyai arti besar yang tak terlupakan sepanjang perjalanan sejarah. Pengorbanan mereka adalah sangat berharga dan bernilai yang terus tercatat dalam lembaran emas sejarah perjuangan bangsa.

Ketiga, Idul Kurban adalah simbol tentang kepedulian seseorang kepada orang lain. Idul Kurban adalah lambang kepekaan sosial. Adanya kepedulian dari seseorang (kelompok masyarakat) kepada orang (kelompok) lain adalah merupakan pertanda adanya kebersamaan, kesetiakawanan dan solidaritas sosial. Apabila kepekaan sosial ini luntur atau mati, maka solidaritas dan kesetiakawanan sosial juga akan luntur atau lenyap. Apabila ini terjadi, maka tidak mustahil akan terjadi kecemburuan sosial yang pada gilirannya akan menimbulkan gejolak dan kerusuhan-kerusuhan sosial dalam kehidupan masyarakat. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya disharmoni dan disintegrasi sosial yang tentunya akan berdampak luas dalam kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Keempat, ajaran kurban mendidik manusia untuk senantiasa bersikap ikhlas dan tulus sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail. Melalui ajaran kurban, manusia dididik untuk berkurban secara ikhlas dan tulus dalam hidupnya. Para syuhada’ dan pahlawan kemerdekaan yang telah gugur dalam rangka membela Tanah Air adalah merupakan contoh kongkret yang perlu kita warisi semangat juang dan semangat pengorbanan mereka dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan, keadilan, kebenaran, kejujuran, keikhlasan dan ketulusan. Sifat-sifat terpuji dan kualitas mental dan akhlak seperti inilah yang masih tetap diperlukan oleh umat Islam pada khususya dan bangsa Indonesia pada umumnya dalam mengabdi dan berdedikasi kepada nusa dan bangsa sekarang ini.

Kelima, ajaran kurban memiliki makna simbolik yang sangat tinggi. Manusia dididik untuk ”menyembelih” nafsu-nafsu hewaniyah yang ada dalam dirinya. Nafsu-nafsu hewaniyah yang mewujud dalam bentuk egoisme, ananiyah, keserakahan, ketamakan, perampokan, perkosaan, eksploitasi manusia atas manusia, penindasan, kesewenangan, tirani, nepotisme, perampasan hak-hak asasi dan bentuk-bentuk kemungkaran serta kejahatan lainnya haruslah dikekang dan bahkan harus dilenyapkan dalam diri manusia. Dengan kata lain, perintah Allah untuk menyembelih hewan kurban itu sebenarnya adalah melambangkan penyembelihan nafsu-nafsu hewaniyah yang terdapat dalam diri manusia itu. Makna simbolik ajaran kurban itu bukan terletak pada darah dan daging kurban itu, juga bukan darah dan daging itu yang sampai kepada Allah, akan tetapi terletak pada derajat kemanusiaan dan kualitas takwa dari orang yang berkurban itu, dan kualitas takwa itulah yang pada hakikatnya sampai kepada Tuhan.

Kepekaan dan Kepedulian Sosial

Ajaran berkurban yang terkandung dalam Idul Kurban menggugah kembali daya kepekaan iman dan kepedulian sosial kita kepada saudara-saudara kita yang lemah dan tidak/kurang beruntung secara sosial ekonomi. Orang-orang yang mampu hendaknya memberikan sebagian harta mereka kepada orang- orang yang tidak mampu atau kaum dhu’afa. Lebih-lebih di tengah-tengah gelombang dan guncangan musibah yang terjadi secara bertubi-tubi di banyak daerah di Tanah Air dewasa ini. Musibah banjir Wasior, tsunami Mentawai, erupsi Merapi, dan berbagai musibah dan bencana alam lain di banyak daerah (tanah longsor, banjir bandang, puting beliung, gelombang pasang, dll) telah sangat banyak merenggut korban meninggal dunia, hilang, luka-luka, harta benda ludes dan terhanyut, sawah ladang terendam, dan rumah luluh lantak.

Peristiwa-peristiwa tragis seperti itu sudah selayaknya mengetuk hati nurani kita dan menggugah kepekaan sosial kita untuk mengulurkan tangan, memberikan bantuan dan sumbangan kemanusiaan kepada para korban, keluarga korban dan para pengungsi yang berjumlah puluhan ribu. Mereka adalah saudara-saudara kita sebangsa seTanah Air yang memerlukan bantuan kemanusiaan. Ajaran berkurban selalu dan tetap relevan untuk dimalkan karena ajaran tersebut merupakan cerminan kepekaan dan kepedulian sosial yang menjadi inti sejati pengamalan kemanusian yang adil dan beradab, sila kedua Pancasila.***

Seputar Indonesia, 17 September 2010

Related Post

 

Tags: