oleh Faisal Ismail

”Sesungguhnya rumah suci pertama yang dibangun untuk tempat beribadat bagi manusia adalah Baitullah yang ada di Mekkah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi manusia. Di situ ada tanda-tanda yang nyata tentang kebesaran Allah, di antaranya makam Nabi Ibrahim. Barangsiapa yang masuk ke dalam Baitullah itu, ia merasa aman. Allah mewajibkan kepada manusia untuk mengunjungi (berhaji) ke Baitullah itu. Yaitu, bagi orang-orang yang mampu melakukan perjalanan. Barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah itu Maha Kaya.” (QS Ali Imran: 96-97). Inilah rujukan ayat yang menjadi dasar perintah Allah kepada Umat Islam untuk berhaji ke Tanah Suci Mekkah. Ibadat haji merupakan pilar ke-5 dalam struktur rukun Islam. Jika Muslim sudah berhaji, maka itu berarti lengkaplah dia melaksanakan lima rukun Islam yang diajarkan agamanya.

Ibadat haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup dan hanya diwajibkan bagi Muslim yang mampu. Kemampuan di sini mencakup dua hal, yaitu kemampuan fisikal-mental (sehat rohani dan jasmani) dan kemampuan finansial (keuangan). Muslim yang tidak mampu tidak berkewajiban melaksanakan ibadat haji.

Muslim yang melaksanakan ibadat haji lebih dari sekali, maka haji yang kedua dst dinilai sunnat. Bagi mereka yang sudah haji, sebaiknya tak usah berhaji lagi dalam waktu yang dekat, tetapi memberikan kesempatan kepada Muslim yang belum pernah berhaji. Ide ini dikemukakan mengingat daftar tunggu jama’ah haji di Kementerian Agama yang akan berhaji sangat panjang. Muslim yang sudah berhaji itu akan mendapat pahala yang banyak karena memberikan kesempatan kepada mereka yang belum pernah naik haji.

Ibadat dan Teknologi

Sampai sekitar tahun 1960-an, para jama’ah haji Indonesia berangkat ke Tanah Suci Mekkah dengan kapal laut. Mereka jauh lebih lama menempuh perjalanan seraya menghadapi tantangan, resiko dan bahkan ”ancaman” yang jauh lebih besar. Hal ini menuntut kondisi fisik dan mental yang prima dan tahan banting dari semua jama’ah. Berminggu-minggu mereka di lautan dalam ancaman badai, topan, arus, cuaca buruk, dan gelombang besar yang menakutkan. Mereka dihantui perasaan takut dan bayangan kekhawatiran akan tenggelamnya kapal yang mereka tumpangi. Ada jama’ah yang mabuk, pingsan, sakit dan meninggal dunia. Jenasah mereka ditenggelamkan begitu saja ke dalam lautan. Tapi tantangan dan ancaman seperti itu tidak menyurutkan para jemaah untuk melaksanakan ibadat haji karena mereka sudah mendapat panggilan suci dari Allah.

Sejalan dengan perkembangan teknologi modern, perjalanan ibadat haji dari Indonesia ke Mekkah lantas menggunakan kapal terbang. Perjalanan jama’ah jauh lebih mudah, efisien, dan singkat. Penerbangan dapat dihitung dalam hitungan jam. Kita lihat, ternyata kemajuan teknologi secara teknis dapat membantu pelaksanaan ibadat (haji). Dengan menggunakan teknologi modern (kapal terbang), penerbangan jama’ah haji ke Tanah Suci jauh lebih dipermudah, dipersingkat dan dipernyaman. Secara teknis, teknologi modern sangat membantu dan mempermudah ibadat haji tanpa mengurangi nilai dan substansi ibadat haji itu sendiri.

Ritualisme

Para jama’ah haji itu datang dari berbagai belahan dunia dengan berjalan kaki, melalui daratan, mengarungi lautan, dan melintasi udara. Berbagai kesulitan dan lika liku penderitaan (sejak dari kampung halaman, di tengah perjalanan dan sesampainya di tempat tujuan) mereka hadapi sabar dan tawakkal demi ingin beribadat secara total kepada Allah dan memperoleh pahala-Nya yang besar dan berlipat ganda. Mereka berharap untuk memperoleh predikat dan derajat haji mabrur, haji yang diterima dan diridhai Allah. Sebagian dari jama’ah haji itu ada yang datang bersama anak, isteri atau keluarga mereka, sedang sebagian lainnya ada yang datang dengan meninggalkan anak isteri dan keluarga mereka di kampung halaman yang jauh. Dalam prosesi ibadat haji yang khusyuk, mereka dengan suara gemuruh mengumandangkan kalimah talbiyah “Labbaik, Allahumma Labbaik, la syarika laka labbaik” (Aku datang menunjukkan kataatan kepada-Mu, ya Allah. Tidak ada sesuatu yang menyamai Kekuasaan dan Keagungan-Mu).

Ibadat haji menggambarkan paduan ritualitas dan historisitas. Para jama’ah melakukan ritus-ritus haji seperti ihram, tawaf, sa’ie, wukuf di Arafah, melempar jumrah dan tahallul sebagai suatu rangkaian ibadat yang intens dan khusyu’. Semua ritus ini merupakan pengalaman kerohanian yang mengungkap napak tilas historisitas dan relijiusitas ketakwaan Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail. Horison sejarah kenabian Muhammad, dari Mekkah ke Madinah, terkuak dan terbentang di hadapan para jema’ah. Dari sinilah lahir agama besar dunia, Islam, yang pada waktu itu pengikutnya dapat dihitung dengan jari, kini telah berjumlah lebih dari satu miliar. Ka’bah diyakini sebagai sentrum universe, dan di situlah jutaan jama’ah haji dan seluruh Umat Islam menghadapakan kiblat shalat dan tunduk bersujud ke hadapan- Nya. Makam Nabi Muhammad di Masjid Nabawi, Madinah, menjadi saksi dan bukti nyata bahwa Nabi bukan tokoh yang hidup dalam dongeng-dongeng yang keburannya tidak diketahui, tetapi merupakan realitas historis yang dapat dilihat dengan mata kepala. Kepercayaan Muslim akan kenabian Muhammad dan agama Islam yang dibawanya lebih diperkuat dengan fakta-fatkta historis itu.

Egalitarianisme

Dilihat dari dimensi ritual-keagamaan dan dimensi sosial- kemasyarakatan, ajaran ibadat haji adalah merupakan simbol egalitarianisme, lambang persaudaraan, kesatuan dan persamaan manusia. Para jama’ah dalam melaksanakan ibadat haji telah melupakan dan menanggalkan atribut-atribut duniawiyah mereka (seperti pangkat, gelar, kedudukan, status sosial, kekayaan, jenis kelamin, ras, etnis, kebangsaan, dll). Mereka juga memakai pakaian ihram yang sama (warna serba putih) sehingga benar-benar melambangkan ajaran tentang kesamaan dan persamaan manusia dalam Islam. Derajat, status dan kedudukan mereka adalah sama di hadapan Allah, Sang Maha Pencipta. Hanya bobot muatan ibadat dan kualitas takwa saja yang membedakan seseorang dengan orang lain di hadapan Allah.

Melalui ibadat haji, para jama’ah haji dari seluruh pelosok dunia juga disatukan dan dipersaudarakan di bawah ikatan akidah dan jalinan ukhuwah Islamiyah tanpa mempersoalkan latar belakang etnisitas, ras, nasionalitas, bahasa, sosio-kultural, aliran politik, dan lokalitas-geografis mereka. Mereka semua datang ke tanah suci dengan status yang sama, yakni sebagai tamu-tamu Allah (duyuf Allah) dengan membawa harapan yang sama pula, yaitu ingin mendapatkan keridhaan Allah dalam menjalankan ibadat. Bagi kita yang tidak berhaji, sudah sepantasnya untuk memberikan dukungan moral dan do’a semoga para jama’ah haji itu dapat menyelesaikan rangkaian ibadat mereka dengan sempurna, tenang, tenteram, aman, lancar dan baik, sekaligus mereka memperoleh predikat haji yang mabrur.

Satu-satunya yang membedakan seorang jama’ah haji dengan jama’ah haji lainnya (lebih luas lagi: antarpribadi di kalangan Umat Islam) adalah derajat, bobot dan kualitas takwanya kepada Allah. Manusia secara pribadi bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri kepada Allah di akhirat kelak. Sama sekali tidak ada lagi campur tangan institusi-institusi duniawi seperti partai politik, organisasi sosial, perusahaan, lembaga pemerintahan, aparat negara atau pun lembaga bantuan hukum kepada manusia dalam mempertanggungjawabkan semua perbuatan pribadinya kepada Allah di akhirat kelak. Pertanggungjawaban manusia kepada Allah bersifat individual, bukan institusional dan massal.

Selain dibingkai dan dirangkai oleh pernik-pernik ritualisme, historisme, dan egalitarianisme, ibadat haji juga dicirii oleh simbol perlawanan terhadap setanisme. Para jama’ah haji melempar jamarat sebagai simbol perlawanan terhadap setan, musuh bebuyutan manusia sepanjang sejarah. Karena setan tidak pernah mati dan terus menerus hidup dari nenek moyang sampai ke anak keturunannya sampai sekarang ini, maka godaan dan ancaman setan untuk menjerumuskan manusia ke jurang kemaksiatan dan kemunkaran semakin besar, brutal dan ganas. Di setiap lini kehidupan di dunia ini, iblis dan anak keturunannya yang dinamakan setan itu siap menerkam manusia yang lalai sebagai mangsanya. Bagi Muslim, tak ada kompromi dengan setan dan setanisme. Setan, setanisme dan setanisasi harus ditentang, dilawan dan dikalahkan!***

 

Seputar Indonesia, 27 Oktober 2010

Related Post

 

Tags: