oleh Faisal Ismail

Lewis Mumford, pengarang buku The Condition of Man, menulis: “Today every human being is living through an apocalypse of violence … Now, for the first time in human history there is no spot on earth where the innocent man may find refuge … Something else has been disclosed to our unwary eyes: the rottenness of our civilization itself. If our civilization should perish, this will come about because it was not good enough to survive.” Artinya: Dewasa ini setiap manusia menjalani hidupnya sepanjang bimbingan kekerasan… Sekarang, untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, tidak ada lagi tempat di muka bumi ini untuk berlindung bagi manusia yang tidak berdosa… Sesuatu yang lain telah ditunjukkan di muka mata kita yang nyalang: kebusukan peradaban kita sendiri. Apabila peradaban kita hancur, ini disebabkan peradaban itu sendiri tidak cukup baik untuk mampu bertahan.

Lewis Mumford secara cermat mengamati situasi di atas dalam konteks budaya kekerasan (culture of violence) dalam kehidupan masyarakat Barat. Akan tetapi, apa yang diobservasi secara akurat oleh Mumford itu tidak jauh berbeda dengan keadaan di Tanah Air kita terutama dalam kurun waktu terakhir ini.

Budaya kekerasan, bentrokan, gegeran, tawuran, anarkisme, brutalisme, keberingasan, dan amuk massa terjadi di banyak wilayah di Indonesia. Budaya kekerasan seperti sudah menjadi peristiwa biasa yang hampir setiap hari menggejala dalam kehidupan masyarakat kita. Banyak orang di Indonesia, seperti dikatakan oleh Lewis Mumford, menjalani hidup mereka sepanjang naluri dan nafsu kekerasan. Rasa aman dalam masyarakat menjadi terancam, sampai-sampai orang yang tidak berdosa sekali pun telah menjadi korban akibat tindakan-tindakan kekerasan tadi.

Kekerasan dan Keberingasan

Akar masalah konflik dan kekerasan antarkelompok masyarakat atau antarwarga memiliki latar belakang yang beragam. Bisa berpangkal dari perselisihan pribadi antara dua orang dari etnis yang berbeda, bisa karena faktor sosial budaya, politis, ideologis, dan kecemburuan ekonomi. Etnis setempat terlibat konflik dengan etnis pendatang. Etnis setempat merasa cemburu secara sosial ekonomi terhadap etnis pendatang yang secara sosial ekonomi lebih baik. Konflik sosial dan horisontal menjadi membesar, meluas, memanas, dan mengeras karena melibatkan sentimen kesukuan, ras, politis, ideologis, dan agama. Karena faktor etnis, politis, ideologis, dan agama inilah yang menjadi simbol dan identitas pemersatu, pengikat, dan perekat kelompok-kelompok masyarakat itu. Jika sentimen kesukuan, politis, ideologis, dan agama sudah masuk dalam suatu konflik sosial, maka konflik tadi menjadi lebih membara, eksplosif, masif, dan eskalatif. Di situ anarkisme, brutalisme, keberingasan dan amuk massa menajdi sangat dominan dalam konflik sosial tadi.

Gelombang konflik antaretnis di banyak daerah di Indoensia terjadi sejak 1998 dan beberapa tahun sesudahnya. Eskalasi konflik antaretnis pada kurun waktu itu dapat dicatat antara lain terjadi di Ambon, Poso, Sampit, Samarinda, dan Sambas. Konflik-konflik tadi melibatkan kekerasan, keberingasan, anarkisme, brutalisme dan amuk massa yang eksplosif dan masif dari pihak-pihak yang terlibat konflik. Konflik dan kekerasan antaretnis di Ambon dan Poso, misalnya, diwarnai dengan pembakaran rumah-rumah ibadat dari masing-masing pihak yang terlibat konflik. Kesucian, keagungan dan kehormatan rumah- rumah ibadat tidak digubris oleh masing-masing pihak yang berseteru. Konflik Poso dan Ambon berakhir setelah ditanda tanganinya piagam perdamaian antara kedua belah pihak di Malino.

Konflik yang bermotif politis juga sering terjadi di banyak daerah dewasa ini. Misalnya, kelompok pendukung calon bupati (cabub) yang kalah dalam pemilukada mengamuk dan main hakim sendiri. Mereka menyerang para pendukung cabup yang menang. Tidak hanya itu, mereka membakar mobil, kantor dan fasilitas umum yang ada di daerah itu. Ini dapat dilihat misalnya pada pasca pemilukada di Sidoarjo dan Bima. Perasaan dendam, geram, marah, berang, beringas dan brutal diletupakan semuanya oleh kelompok pendukung cabub yang kalah itu dengan cara-cara main hakim sendiri. Konflik juga terjadi antarpelajar dan antarmahasiswa. Di Universitas Makassar, misalnya, dua kubu mahasiswa bentrok, saling serang dan melakukan tindakan kekerasan. Mahasiswa yang diharapkan menjadi pemimpin bangsa di masa depan karena kebolehan visi akademis dan penalaran ilmiahnya, tapi masih juga terlibat adu otot dan baku hantam. Ajang kekerasan dan keberingasan belum juga usai. Para pendukung tim sepak bola yang kalah mengamuk dan menyerang para pendukung tim sepak bola yang menang. Mereka merusak dan menghancurkan fasilitas umum seraya meletupkan perasaan kecewa dan kegeraman mereka dengan cara-cara anarkis dan brutal menyusul kekalahan tim sepak bola kesayangan mereka.

Ledakan kekerasan antarkelompok masyarakat masih terus membara. Dapat disebut antara lain kasus tanah makam Embah Priuk, peristiwa Tambora, insiden Buol, dan terakhir bentrokan di Tarakan. Kekerasan antaretnis di Tarakan, Kaltim, berasal dari masalah pribadi antara dua orang dari etnis yang berbeda. Tewasnya seseorang dari etnis tertentu memicu konflik semakin luas, panas dan beringas. Pihak etnis yang anggota sukunya terbunuh melakukan perlawanan dan pembalasan. Api konflik pun semakin tersulut dan memijar. Lima orang tewas. Terjadi pembakaran, pengusiran dan pengungsian. Kaum perempuan, orang-orang tua dan anak-anak dalam jumlah ribuan mengungsi dan ditampung di Mapolres dan Mako TNI Tarakan. Saat artikel ini ditulis, situasi masih tegang dan mencekam. Toko-toko tutup. Akibatnya, bahan makanan terutama untuk para pengungsi sulit diperoleh. Tak kurang dari 2000 personil polisi dikerahkan untuk melerai konflik dan menegakkan kembali ketertiban dan keamanan di Tarakan. Kekerasan antaretnis di Tarakan diharapkan dapat segera diakhiri agar kehidupan di sana segera normal kembali.

Mencegah Pembusukan Peradaban

Serangkaian gelombang kekerasan yang disebutkan di atas telah banyak merenggut jiwa orang-orang yang sama sekali tidak bersalah dan tidak berdosa. Rasa aman dalam kehidupan masyarakat benar-benar telah terganggu dan bahkan terancam secara serius. Persis, seperti dikatakan oleh Lewis Mumford, tak ada lagi tempat untuk berlindung bagi orang-orang yang tidak berdosa. Pada batas tertentu, itu semua menunjukkan proses pembusukan nilai-nilai peradaban kita. Dengan perasaan pesimistik barangkali kita akan berucap seperti Mumford: apabila peradaban kita hancur, itu pertanda peradaban kita tidak cukup baik untuk bertahan.

Menyimak berbagai gelombang konflik, kekerasan, keberingasan, dan brutalitas yang mudah terjadi dalam masyarakat, kita lantas bertanya: apa yang salah dengan sistem pendidikan dan peradaban kita? Apa yang keliru dengan sendi- sendi bangunan kebangsaan kita? Pandangan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang ramah, suka senyum, dan penuh bertenggang rasa, harus dipertanyakan kembali. Pandangan ini sudah tidak sepenuhnya berlaku bagi masyarakat kita, paling tidak pada saat sekarang ini di mana kekerasan, keberingasan, dan brutalitas sering terjadi. Sedang ’sakitkah’ bangsa ini? Mengapa bangsa ini bisa mengalami penyakit mental demikian? Kapankah kita sembuh dari penyakit ini? Kapankah kekerasan tidak lagi ’melukai’ republik ini?

Perasaan aman dan bebas dari rasa takut adalah merupakan bagian integral dari HAM yang sangat mendasar, fundamental dan hakiki dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Sudah seharusnya perasaan aman dan bebas dari rasa takut terhadap segala bentuk pelanggaran HAM dan segala bentuk kekerasan ditegakkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita yang multietnik dan multiagama ini. Seluruh aparat keamanan dan komponen masyarakat secara keseluruhan ikut bertanggung jawab untuk saling memberikan jaminan rasa aman sehingga kita terbebas dari rasa takut terhadap segala bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM itu. Dengan demikian, proses pembusukan peradaban dapat kita cegah dan kita kembali menjadi bangsa yang beradab, berkeadaban dan berperadaban dalam arti seutuhnya dan sebenar-benarnya.

 

Dimuat di Seputar Indonesia, 1 Oktober 2010

Related Post

 

Tags: