Prof Dr Faisal Ismail MA, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Menarik sekali melihat babakan perjalanan sejarah pemilihan presiden di Amerika Serikat (AS) yang dikenal sebagai salah satu negara adidaya (super-power) di dunia.

Setelah mengalami beberapa kali perubahan konstitusi secara signifikan, akhirnya masa jabatan Presiden AS ditetapkan selama empat tahun dan seorang presiden hanya diperbolehkan untuk menjabat selama dua periode. Artinya, kekuasaan Presiden AS hanya dibatasi selama dua periode, tidak lebih. Pembatasan kekuasaan presiden seperti ini sangat penting agar seorang presiden tidak menyalahgunakan kekuasaan, tidak otoriter,dan tidak korup. Sistem politik dan demokrasi di AS inilah yang barangkali mengilhami kita di Indonesia (dan negara-negara lain di dunia) untuk merevisi Undang-Undang Dasar 1945 agar relevan dengan sistem politik yang menekankan pada checks and balances yang lebih terukur dan terkendali.

Menyusul lahirnya era Reformasi di Indonesia pada tahun 1998, periode jabatan Presiden RI dibatasi hanya sebanyak dua kali (masing-masing selama lima tahun). Sebelum Reformasi, periode jabatan Presiden Indonesia belum diatur sehingga seorang presiden cenderung menyalahgunakan kekuasaan, otoriter dan korup.Berlindung di balik ketentuan UUD 1945 (sebelum revisi) yang berbunyi “selama rakyat memilihnya kembali,”seorang presiden melakukan rekayasa politik sehingga dapat berkuasa selama 33 tahun. Sejak pemilihan Presiden AS yang pertama sampai dengan pemilihan Presiden AS yang ke-34, terdapat mitos yang sangat mengakar kuat di kalangan masyarakat AS bahwa seorang presiden harus dipilih dari alur tradisi dan “darah biru”dengan latar belakang WASP (White, Anglo Saxon, Protestant).

Sakralisasi tradisi dan mitos identitas WASP ini sudah menjadi pendapat publik dan pandangan umum di kalangan masyarakat AS sehingga tidak ada satu pun calon presiden (capres) AS yang terpilih berasal dari luar kultur WASP.Hal ini berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang di Negara Paman Sam. Tanpa identitas dan kultur dari latar belakang WASP, seseorang sangat sulit untuk maju sebagai capres.
Ia tidak akan dilirik, tidak diperhitungkan,dan bahkan tidak diterima oleh masyarakat AS. Itulah sebabnya, Presiden AS yang pertama sampai dengan Presiden AS yang ke-34, semuanya terpilih dari latar belakang kultur WASP. Tak satu pun dari 34 Presiden AS itu yang berasal dari luar kultur WASP.

Fenomena JFK

Akan tetapi, dalam babakan perkembangan sejarah selanjutnya, akhirnya mitos WASP di negara adidaya itu runtuh seiring dengan bergulirnya demokratisasi di AS. Masyarakat AS menjadi lebih dewasa, lebih matang, dan lebih terbuka dalam memandang sosok diri mereka dalam berhadapan dengan proses demokratisasi politik dan nilai-nilai demokrasi yang terus menggelinding di negara mereka. Hasilnya, mitos WASP lantas dipatahkan oleh dua Presiden AS, yaitu Presiden John F Kennedy (JFK) dan Presiden Barrack Hussein Obama.

JFK adalah Presiden AS pertama (dan satu-satunya sampai saat ini) yang berasal dari kalangan masyarakat Katolik (non-Protestan), sedang Obama adalah Presiden AS pertama (dan satu-satunya sampai saat ini) yang dari kalangan masyarakat kulit berwarna (kulit hitam/non-kulit putih).
JFK diusung dan didukung sebagai capres oleh Partai Demokrat,dan partai ini pun berhasil mengantarkan JFK ke kursi kepresidenan di Gedung Putih.Partai Demokrat patut diacungi jempol karena berhasil mendobrak belenggu tradisi dan kultur WASP yang selama itu menguasai alam pikiran kebanyakan masyarakat AS.

JFK menjabat Presiden AS ke-35 selama kurang dari tiga tahun (20 Januari 1961-22 November 1963). Ia secara tragis ditembak mati di Dallas, Texas, pada hari Jumat tanggal 22 November 1963. Tragedi kematian yang mengenaskan ini tidak seharusnya terjadi di negara yang menjadi kampiun demokrasi dan pembela ulung HAM di dunia. Lee Harvey Oswald dituduh sebagai biang keladi pembunuhan Kennedy. Fenomena terpilihnya JFK sebagai Presiden AS dari non-WASP terjadi pula pada diri Barrack Hussein Obama.Obama terpilih sebagai Presiden AS ke-44 dan dilantik pada tanggal 20 Januari 2009 di Gedung Putih.

Jika selama ini presiden-presiden AS berasal dari orang-orang kulit putih (dari kultur WASP),maka Obama telah meruntuhkan dan sekaligus menjadi sang “penakluk”mitos WASP itu.Ia adalah presiden pertama (dan satu-satunya sementara ini) dari kalangan masyarakat kulit hitam.
Perjalanan Obama ke Gedung Putih tidak mudah. Banyak pengamat yang berspekulasi ketika itu, AS belum siap untuk diperintah oleh pemimpin dari kulit hitam. Tapi Obama, dengan kampanyenya yang meyakinkan, berhasil menembus tradisi dan kultur WASP. Sekali lagi, Partai Demokrat perlu diapresiasi dan diacungi jempol karena partai itu benar-benar sangat bersikap demokratis, egaliter dan memiliki komitmen yang kuat untuk mengusung Obama sebagai capres.

Ketika berkampanye sebagai capres, Obama diancam hendak dibunuh oleh seorang pemuda asal Tennessee yang diidentifikasi bernama Daniel Coward (20 tahun).Berkat pengamanan yang sangat profesional dan ketat dari pihak keamanan,ancaman pembunuhan terhadap Obama dapat ditangkal dan Obama pun aman.

Fenomena Obama

Barrack Husein Obama lahir dari seorang ayah berkulit hitam (berkebangsaan Kenya) dan ibu berkulit putih berkebangsaan AS (Stanley Ann Dunham). Setelah bercerai dari suaminya,Ann Dunham menikah dengan Lolo Soetoro (orang Indonesia) ketika yang disebut belakangan ini studi di Hawaii. Dengan Soetoro, Ann Dunham mempunyai anak perempuan bernama Maya Soetoro.

Selama kurang lebih lima tahun (1967-1971), Obama tinggal di Indonesia bersama ibu kandung dan ayah tirinya di kawasan Menteng Dalam, Jakarta.
Selama tinggal di Menteng Dalam, Obama pernah belajar di SDN 01 Menteng. Di SDN 01 Menteng inilah, Patung Obama kecil ditempatkan sebagai tanda kenangan terhadapnya yang tercatat sebagai salah seorang murid di sekolah dasar itu. Secara kultural dan edukasional, Obama mempunyai hubungan dekat dengan Indonesia. Menurut pengakuan Obama sendiri, selama tinggal di Indonesia dia banyak meresapi kehidupan masyarakat yang multietnis,multikultur, dan multireligi yang ikut membentuk sosok kepribadian dan pandangan hidupnya sampai menjadi pemimpin dan presiden negara adidaya AS saat ini.

Keberhasilan Obama menduduki kursi kepresidenan AS dan menjadi orang pertama di Gedung Putih bukan tanpa mimpi dan citacita. Semasa kecil tinggal di Menteng Dalam, Obama dikabarkan sudah sering membaca biografi orang-orang besar, terutama presiden-presiden AS. Ia sangat terkesan,terobsesi dan terinspirasi oleh liku-liku perjalanan sejarah hidup presiden-presiden AS itu. Dari situlah tampaknya mimpi dan cita-cita Obama terbangun secara kuat. Setelah saatnya matang untuk terjun ke dunia politik, ia menyertai Partai Demokrat.Ketika Partai Demokrat menyelenggarakan preliminary (pemilihan pendahuluan) untuk memilih capres yang hendak diusung dalam pilpres AS tahun 2008, Obama menyisihkan Hillary Clinton.

Obama mengalahkan John McCain (capres dari Partai Republik) dalam pilpres AS tahun 2008. Obama pun terpilih sebagai Presiden AS ke-44, presiden pertama dari kalangan masyarakat kulit hitam dan sekaligus menjadi sang “penakluk” mitos WASP. Cita-cita awalnya, Obama ingin jadi fire fighter (pemadam kebakaran).Tapi jalan hidupnya berbelok ke Gedung Putih, menjadi Presiden AS di luar kultur WASP. Selamat datang Presiden Obama di Indonesia!
Senin, 8 November 2010

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/362763/

Related Post

 

Tags: