oleh Faisal Ismail

Setiap kali tahun baru Hijriah datang, harapan-harapan baru selalu membersit di hati Umat Islam. Tahun baru ditengarai akan membawa harapan-harapan baru dalam kehidupan umat. Sebenarnya bukan hanya harapan-harapan baru yang membentang di hadapan Umat Islam, tetapi sekaligus juga tantangan-tantangan baru yang menghadang di setiap lini kehidupan umat. Hidup memang merupakan pergulatan keras antara harapan dan tantangan. Harapan harus dibumikan dengan kerja-kerja keras agar menjadi kenyataan. Harapan harus diraih melalui keberhasilan mengatasi berbagai tantangan. Tak ada pergumulan hidup tanpa tantangan. Tantangan adalah suatu keniscayaan. Setiap tantangan harus direspons dengan tepat untuk menggapai harapan (baru) yang dipertaruhkan oleh Umat Islam.

Inilah secercah pengantar yang perlu kita resapi dalam rangka memasuki tahun baru Hijriah, 1 Muharram 1432 H, yang jatuh pada tanggal 7 Desember 2010. Secara historis, tahun Hijriah ditetapkan oleh Umar ibnul Khattab yang menjabat sebagai khalifah ar-Rasyidin ke-2 (13-23 H/634-644 M). Penetapan tahun baru Hijriah bermula dari sepucuk surat penting yang dikirim oleh seorang gubernur kepada Khalifah Umar. Surat itu ternyata tidak bertanggal. Menurut pengamatan Umar, ada sesuatu yang tidak lengkap pada surat itu karena surat itu tidak disertai tanggal pengiriman. Surat yang tidak bertanggal itu ternyata pada gilirannya membawa hikmah besar dalam penetapan kalender Islam.

Peristiwa Hijrah

Setelah mengadakan sidang dengan jajaran pemerintahannya, Khalifah Umar menetapkan bahwa awal penanggalan Islam (tahun Hijriah) didasarkan pada momentum peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Tahun Hijriah tidak dihitung berdasarkan peristiwa kelahiran Nabi. Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tahun 622 Masehi. Hijrah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya karena pada saat itu kaum kafir Quraisy berkomplot hendak membunuh Nabi dan para pengikutnya. Kaum Quraisy menentang keras penyiaran Islam yang dilakukan oleh Nabi karena gerakan Nabi itu dianggap sebagai ancaman yang hendak meruntuhkan tradisi dan kepercayaan politeistik kaum Quraisy. Nabi Muhammad dan para sahabatnya yang jumlahnya sangat sedikit lantas melaksanakan hijrah dari Mekkah ke Madinah, mencari tempat yang aman dan strategis dalam rangka menyebarkan agama Islam.

Di Madinah, Nabi benar-benar berhasil melaksanakan dakwah dan membangun komunitas (umat) Islam. Ketika masih di Mekkah, Nabi belum secara maksimal melaksanakan misi dakwahnya dan belum dapat membangun komunitas karena oposisi keras dan sengit yang dilancarkan oleh pihak Quraisy. Ini berarti, dengan melakukan hijrah, Nabi berhasil melaksanakan misi dakwahnya dan sekaligus berhasil pula membangun komunitas muslim yang diidam-idamkan. Selain didasarkan pada momentum hijrah Nabi, perhitungan tahun Hijriah juga didasarkan pada peredaran bulan. Pergantian hari terjadi pada saat tenggelamnya matahari (Maghrib).

Ajaran, Makna dan Pesan Hijrah

Merayakan tahun baru Hijriah bukan sekedar menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seremonial yang hanya bersifat instan-dekoratif, setelah itu usai. Tetapi peringatan dan perayaan tahun baru Hijriah itu hendaknya lebih substantif dan bermakna. Umat Islam hendaknya dapat mengambil butir-butir makna dan pesan yang terkandung dalam persitiwa hijrah Nabi itu. Makna dan pesan ini hendaknya diterapkan dalam kehidupan umat dan sekaligus dijadikan sebagai kontribusi Umat Islam bagi kehidupan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Ada beberapa makna dan pesan yang terkandung dalam momentum hijrah Nabi.

Pertama, Umat Islam hendaknya berhijrah dari alam kebodohan ke alam kecerdasan, pencerahan, kepandaian, dan keterampilan. Ini berarti, lembaga-lembaga pendidikan Islam di setiap tingkat dan satuan hendaknya ditata secara lebih baik agar menghasilkan keluaran yang lebih baik, lebih pandai, lebih terampil dan lebih cerdas sehingga mampu memasuki dunia kerja di era persaingan global. Perbaikan mutu pendidikan Islam berarti ikut memperbaiki pendidikan bangsa Indonesia. Kedua, Umat Islam hendaknya berhijrah dari keburukan ke kebaikan. Segala perilaku tercela dan perilaku koruptif harus ditinggalkan, sebaliknya perilaku terpuji, kebaikan, dan kebajikan harus dilaksanakan. Sifat-sifat jahili harus ditinggalkan, sedang sifat-sifat Islami harus dilakukan.

Ketiga, Umat Islam harus berhijrah dari konflik ke perdamaian. Segala bentuk tawuran, konflik, kekerasan, brutalisme, dan anarkisme harus dijauhkan. Sedang persatuan, kedamaian, perdamaian, toleransi dan kerukunan harus ditempatkan sebagai bagian integral kehidupan keumatan dan kebangsaan. Keempat, Umat Islam hendaknya berhijrah dari ketidakpedulian ke kepedulian. Bagi yang mampu dan mempunyai kelebihan harta, hendaknya menyisihkan sebagian harta mereka untuk membantu saudara-saudara yang miskin, kaum dhu’afa, dan para korban bencana alam. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, Umat Islam hendaknya dapat mempercepat hijrah dari kemiskinan ke kehidupan yang layak sehingga tingkat kemiskinan dapat dikurangi secara signifikan.

Kelima, Umat Islam hendaknya mempercepat hijrah dari kepekaan moral ke kepekaan sosial. Kalau ada anjing yang masuk ke rumah orang Islam, anjing itu cepat diusir. Sedang kalau melihat orang miskin, ada orang Islam yang tidak mau peduli. Ini berarti, kepekaan sosialnya tumpul dan harus diubah dengan cara berhijrah ke kepekaan sosial yang hidup, aktif dan kreatif. Keenam, Umat Islam hendaknya berhijrah dari sifat egoistis ke sifat sosialistis. Agama melarang dan menutup jalan egoisme, tetapi melatih dan mendidik penganutnya bersifat sosial humanis. Demikian antara lain butir-butir makna dan pesan hijrah Nabi. Kita hendaknya menangkap, meresapi dan melaksanakan pesan dan makna hijrah Nabi itu dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan. Selamat tahun baru 1 Muharram 1432 Hijriah.***

 

Seputar Indonesia, 7 Desember 2010

Related Post

 

Tags: