Faisal Ismail

Di tahun 1980-an, Pancasila diterapkan oleh pemerintah Orde Baru (Orba) sebagai landasan dan sistem kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Saat itu, diperkenalkan sistem ekonomi Pancasila yang oleh pemerintah dipercayakan kepada Profesor Mubiyarto (pakar ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) untuk menyusun dan merumuskannya. Sistem ekonomi Pancasila memuat dasar-dasar etika yang menekankan pentingnya prinsip ekonomi kerakyatan yang berkeadilan, terjauh dari prinsip free fight liberalism, dan tidak menghendaki kalangan kaya bertambah kaya dan kaum miskin bertambah miskin. Pancasila juga diterapkan dalam sistem perburuhan sehingga muncullah sistem perburuhan Pancasila. Sistem perburuhan Pancasila menekankan agar kaum buruh tidak menjadi sapi perah para pengusaha.

Menolak demokrasi terpimpin (guided democracy) ala Presiden Soekarno di zaman Orde Lama (Orla), pemerintahan Orba tampil menerapkan demokrasi Pancasila. Dalam konteks ini, pemerintahan Orba di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto menjadikan Pancasila sebagai dasar, landasan, dan cita-cita demokrasi. Maka lahirlah demokrasi Pancasila di era itu. Pada masa pemerintahannya pula, Presiden Soeharto mendambakan pembangunan kampus berwajah Pancasila. Kampus bercorak Pancasila merefleksikan paduan antara nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadaban, demokrasi, persatuan, dan keadilan sosial dengan nilai-nilai keilmuan di lingkungan akademis. Selanjutnya, Pancasila diterapkan sebagai sistem politik dan sosial kemasyarakatan dalam bentuk asas tunggal. Semua partai politik dan Golkar harus berasas tunggal Pancasila. Begitu pun dengan organisasi kemasyarakatan harus menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal ormas. Kebijakan asas tunggal bertujuan untuk memperkuat komitmen semua parpol dan ormas kepada Pancasila.

Sepak Bola dan Etika Pancasila

Di tengah-tengah maraknya wacana dan kebijakan penguatan komitmen terhadap Pancasila di zaman Orba, muncul pula ide perlunya Pancasila diterapkan dalam permainan sepak bola. Gagasan ini melahirkan sepak bola Pancasila. Adakah hubungan antara sepak bola dengan Pancasila? Sepak bola adalah suatu cabang olah raga yang menggunakan bola dengan tim berjumlah sebelas pemain. Sepak bola termasuk cabang olah raga yang sangat diminati dan digemari oleh masyarakat Indonesia. Banyak para pencandu sepak bola di Tanah Air kita. Konon di Amerika Latin seperti di Brasil, Argentina, dan Kolombia, sepak bola sangat dipuja dan seolah-olah menjadi agama kedua bagi mereka. Itu yang kita ketahui tentang sepak bola.

Sedang Pancasila adalah filsafat, dasar, dan ideolgi negara. Pancasila sebagai dasar negara dicetuskan untuk pertama kalinya oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945. Pancasila merupakan maha karya dan kontribusi Bung Karno kepada bangsa Indonesia sehingga bangsa yang besar ini dapat bersatu walaupun berbeda-beda dalam hal etnis, budaya, agama, dan aliran politik. Di bawah lambang negara kita, burung Garuda, tercantum motto nasional berbunyi ”Bhinneka Tunggal Ika” (berbeda-beda, tetapi tetap satu). Persatuan inilah yang menjadi salah satu sila Pancasila. Itu yang kita ketahui tentang Pancasila. Adakah hubungan korelatif-etis antara sepak bola dan Pancasila?

Sepak bola selain mengandalkan kemampuan fisik, teknik, ketangguhan mental, dan kualitas permainan, ia juga harus menampilkan sportivitas, aturan main, dan etika. Untuk menegakkan aturan main dan etika bermain, maka dalam pertandingan sepak bola diperlukan adanya wasit dan hakim garis yang benar-benar profesional sehingga dapat menegakkan fairness dalam pertandingan. Wasit dan hakim garis inilah yang menegakkan aturan main dan etika bermain di lapangan ketika

pertandingan digelar. Seorang pemain yang diketahui handball, ia dinyatakan bersalah oleh wasit dan tendangan bebas bagi tim lawan. Sebuah gol bisa dianulir oleh wasit kalau si pemain dinyatakan offside. Seorang pemain akan diganjar kartu kuning dan bahkan kartu merah kalau melakukan pelanggaran sangat berat terhadap pemain dari lawan timnya. Pernah juga terjadi seorang pemain sepak bola yang bermain di suatu tim terkenal di Eropa dilarang tampil dalam beberapa kali pertandingan karena pemain tadi diketahui telah mengeluarkan kata-kata rasis terhadap pesepak bola dari lawan timnya yang kebetulan berkulit hitam.

Permainan bersih dan Jujur

Saya yakin Pancasila dapat diterapkan dalam permainan dan pertandingan sepak bola. Bukan hanya berlaku bagi para pemain, tetapi nilai-nilai etis Pancasila harus juga berlaku bagi para penonton (supporters), para pembina dan para pengelola. Pancasila adalah kumpulan nilai-nilai kebaikan, susunan nilai-nilai moral, dan himpunan nilai-nilai etika. Sepak bola Pancasila merefleksikan suatu permainan dan pertandingan yang didasarkan pada nilai-nilai sportivitas dan fairness. Selain sikap sportif dan fair, nilai-nilai Pancasila dalam pertandingan sepak bola harus tercermin pada perilaku para pemain Indonesia. Mereka harus dapat mengendalikan emosi, tidak mudah terprovokasi, dan tidak mudah mengeluarkan kata-kata ejekan.

Kasus Zidane-Materezi yang terjadi dalam World Cup 2006 hendaknya menjadi pelajaran bagi pemain Indonesia. Zidane (pesepak bola Prancis) menanduk Materizi (pemain Italia) karena pemain yang disebut belakangan ini diduga telah menghina Zidane. Para pemain sepak bola Indonesia juga hendaknya tidak sombong dan takabur tatkala menang. Kemenangan justru jadi modal motivasi untuk lebih berprestasi lagi. Mereka juga tidak larut dalam kesedihan, keperihan, kepedihan, dan keputusasaan jika kalah. Kekalahan justru menjadi pembelajaran dan pemicu untuk bangkit dan bangkit kembali. Inilah etika Pancasila dalam sepak bola!

Para penonton dan supporter yang Pancasilais tidak tawuran, tidak mengamuk, dan berbuat anarkis apabila tim kesayangan mereka kalah. Terimalah kekalahan sebagai kenyataan karena dalam suatu pertandingan memang harus ada tim yang menang dan harus ada tim yang kalah. Tidak mungkin kedua tim menang semua atau kalah semua. Yang ada hanya draw. Euforia dan dukungan penuh dan kuat yang kita berikan kepada tim kita tidak perlu membuat sebagian kita merendahkan tim negara lain, mengeluarkan kata-kata rasis, dan melecehkan lagu kebangsaan tim sepak bola negara lain karena itu tidak sesuai dengan nilai-nilai etis Pancasila. Sebaliknya, kita juga mengutuk tim sepak bola negara lain dan para pendukungnya jika ada di antara mereka berbuat rasis dan melecehkan lagu dan lambang kebangsaan kita.

Kita salut kepada timnas sepakbola kita yang saat ini sudah memasuki babak final setelah mampu mengalahkan tim-tim lainnya di ajang AFF (Asian Football Federation) 2010. Di babak final, tim Merah Putih akan berhadapan dengan tim Malaysia. Leg pertama diselenggarakan di stadion olah raga Bukit Jalil, Malaysia, 26 Desember 2010. Leg kedua di Istora Glora Bung Karno, Jakarta, 29 Desember 2010. Di atas kertas, tim Indonesia lebih unggul karena dalam pertandingan babak penyisihan sebelumnya tim Indonesia mampu mengalahkan tim Malaysia dengan skor telak 5-1. Demi bangsa dan demi nasionalisme Indonesia, kita pasti mendukung sepenuhnya tim Garuda –yang diarsiteki oleh Alfred Riedl dan dimotori oleh Christian Gonzales dkk– untuk memenangi pertandingan. Jika tim Garuda menang, sejarah baru terukir karena selama ini tim kita belum pernah merebut piala di ajang kejuaraan AFF. Dengan semangat burung Garuda dan etika Pancasila dalam bersepakbola, tim Merah Putih sudah waktunya mengukir sejarah dan tampil sebagai juara di ajang AFF 2010 ini! Semoga!***

Seputar Indonesia, 23 Desember 2010

Related Post

 

Tags: