oleh Faisal Ismail

Kita sekarang hidup di abad sofistikasi kemajuan sains dan teknologi dan berada dalam pusaran arus gelombang globalisasi yang dari waktu ke waktu terus mendesakkan kompleksitas tantangan yang semakin menggebu-gebu. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, gelombang globalisasi telah, sedang dan akan terus menerpa seluruh belahan dunia, termasuk kawasan Indonesia. Seperti halnya arus industrialisasi dan modernisasi, gelombang globalisasi mendesakkan berbagai pengaruh positif dan negatif dalam berbagai aspek kehidupan manusia, baik sebagai pribadi, sebagai anggota masyarakat, sebagai komponen bangsa maupun sebagai bagian dari masyarakat internasional.

Dihadapkan secara serius dengan berbagai kompleksitas tantangan globalisasi dewasa ini, pertanyaan besar dan krusial yang harus kita jawab secara kritis adalah: Bagaimanakah seharusnya bangsa Indonesia –terutama para mahasiswa– menata, membina, dan membangun karakter di tengah-tengah arus dan gelombang globalisasi yang terus bergerak menghadang bangsa Indonesia di setiap lini kehidupan dewasa ini? Inilah persoalan besar yang harus kita respons secara serius jika bangsa Indonesia ingin tetap survive di tengah-tengah gelombang era globalisasi yang terjadi secara gencar di berbagai belahan dunia sekarang ini.

Globalisasi: Arti dan Dampaknya

Istilah globalisasi sudah merupakan sebuah istilah yang banyak dipakai oleh para pakar untuk menjelaskan bahwa kehidupan antar-bangsa di seluruh dunia sekarang ini terjadi secara saling mempengaruhi dan saling berinteraksi satu sama lainnya. Seluruh kawasan dunia dewasa ini sudah menggelobal, menyempit dan mengecil seperti suatu ruangan yang batas- batasnya (hampir) tidak jelas lagi. Apakah sebenarnya makna dan pengertian globalisasi itu? Robertson secara akurat mendefinisikan globalisasi itu sebagai “the compression of the world into a single space and the intensification of consciousness of the world as a whole,” (Mochtar Buchori, Pendidikan Antisipatoris, Yogyakarta: Kanisius, 2001, hlm. 46.). Artinya, pemadatan dunia menjadi satu ruang tunggal dan terjadi peningkatan kesadaran tentang dunia ini sebagai satu kesatuan.

Dunia ini terasa menjadi semakin kecil dan sempit karena terciptanya sarana komunikasi, informasi dan transportasi moderen dan canggih yang bisa dengan cepat dan mudah dapat menghubungkan berbagai tempat di berbagai belahan bumi ini walaupun letaknya saling berjauhan satu sama lain. Jarak dan area sepertinya sudah tidak menjadi masalah karena berada dalam jangkauan yang cepat dan mudah melalui media moderen, teknologi komunikasi, informasi dan transportasi. Dengan demikian, hampir tidak ada bagian dari sisi-sisi kehidupan masyarakat dunia yang luput dari persentuhan dan persinggungan di era global seperti sekarang ini. Segalanya seperti berjalan secara transparan karena mudah tersiar dan tersebar melalui sarana teknologi komunikasi yang moderen dan canggih, baik media cetak maupun media elektronika. Dunia sudah menjadi global village, desa global, suatu desa yang seakan tanpa batas dan amat cepat dan mudah terjangkau karena kemajuan jaringan teknologi komunikasi, informasi dan transportasi yang mendunia.

 

Globalisasi dewasa ini sudah menjadi salah satu isu aktual yang sering diperbincangkan secara luas oleh berbagai pakar, termasuk di negeri ini. Hal ini dapat dimaklumi karena globalisasi itu telah semakin menghadapkan kita kepada berbagai tantangan besar yang bersifat global dan kita dituntut untuk merespons isu- isu dan tantangan itu secara cepat dan akurat. Jika tidak, kita akan terlindas oleh tantangan-tantangan besar dan kompleks yang menyertai gelombang globalisasi itu. Tantangan tersebut sudah tentu meliputi berbagai aspek kehidupan, termasuk di dalamnya aspek ekonomi, sosial budaya, dan kependidikan. Kehidupan antarmanusia dan antar-bangsa menjadi semakin kehilangan batas karena arus dan gelombang globalisasi semakin berdampak luas dan menerpa seluruh aspek kehidupan manusia itu sendiri.

Dalam kehidupan sosial-budaya, misalnya, kita dihadapkan kepada persentuhan nilai-nilai sosial budaya yang majemuk dan sangat intens, yang pada gilirannya, akan membawa dan memberi dampak terhadap pergeseran nilai-nilai budaya yang dianut oleh suatu masyarakat. Globalisasi, menurut Featherstone, melahirkan “global culture which is encompassing the world at the international level” (budaya global yang merambah seluruh dunia pada tingkat internasional) (Mochtar Buchori, Pendidikan Antisipatoris). Pernyataan ini menunjuk pada adanya unsur-unsur dan nilai-nilai budaya yang menggejala dalam skala global dan mondial yang melintasi dinding-dinding budaya umat manusia di dunia ini. Kehidupan masyarakat menjadi ajang benturan nilai-nilai sosial budaya yang bersumber dari ajaran, filsafat, sistem sosial dan pandangan hidup yang berbeda-beda.

Tantangan-tantangan dahsyat era globalisai dengan berbagai dampaknya yang luas tidak dapat dihindarkan lagi oleh seluruh umat manusia di dunia dewasa ini, termasuk oleh bangsa Indonesia. Dalam hal ini, kita secara kritis-selektif harus dapat mengambil segi-segi positif yang dibawa oleh arus globalisasi itu untuk memperkaya nilai-nilai budaya kita. Di sisi lain, yang perlu kita usahakan ialah menyadari adanya tantangan-tantangan eral globalisasi tersebut dan melakukan langkah-langkah antisipatif yang strategis dan tepat agar kita tidak larut dalam arus pengaruh negatif yang ditimbulkannya. Salah satu langkah strategis ke arah itu ialah membentuk daya tahan di kalangan bangsa Indonesia melalui penataan, penguatan dan pemberdayaan institusi-institusi pendidikan.

Tantangan Sosial-Budaya

Globalisasi, pada dasarnya, merupakan suatu proses dinamis yang bersifat dua arah. Artinya, dalam hubungan antarnegara, antarbudaya dan antar-bangsa terdapat kemungkinan besar untuk saling mempengaruhi secara timbal balik. Pada tataran praktik di lapangan, kita menyaksikan bahwa industrialisasi dan teknologi komunikasi berada di tangan bangsa- bangsa yang telah maju secara sosial budaya dan ekonomi. Karena itu, dinamika proses saling mempengaruhi itu akan berlangsung secara tak berimbang atau berat sebelah. Dalam hubungan ini, ada benarnya pendapat pakar yang menyatakan bahwa dalam arti yang amat terbatas, globalisasi dapat ditafsirkan sebagai proses saling mempengaruhi; akan tetapi dalam arti yang luas, globalisasi lebih merupakan proses munculnya berbagai pengaruh dari kubu atau pusat yang kuat terhadap lingkaran yang lemah. Arus globalisasi dalam hubungan antar-bangsa dan antarnegara akan berlangsung satu-arah, yaitu dari negara-negara yang telah maju dan canggih di bidang industri dan teknologi ke negara-negara lain yang dalam kedua bidang ini masih tertinggal (Fuad Hasan, Studium Generale, Jakarta: Pustaka Jaya, 2001, hlm. 16).

Jika kita mengacu pada pernyataan pakar di atas, maka kita dapat mengetahui posisi masyarakat kita dalam percaturan informasi dan pergeseran budaya global dewasa ini. Masyarakat kita lebih banyak menyerap informasi yang dikemas oleh negara- negara maju. Masyarakat kita lebih sering diterpa pengaruh budaya asing. Sedikit atau banyak, lambat atau cepat, hal tersebut akan membawa pengaruh terhadap pola pikir dan perilaku warga masyarakat kita jika mereka tak memiliki daya tahan mental, edukasional dan kultural yang kuat. Akibat dari persentuhan dan persinggungan sosial budaya ini, kita dengan sangat mudah dapat menyaksikan fenomenanya dalam kehidupan sehari-hari, terutama orang-orang yang hidup di kawasan perkotaan. Hal ini terjadi karena kota merupakan pusat lalu lintas pertukaran informasi yang terjadi dengan cepat akibat kemajuan teknologi informasi yang canggih. Media elektronik dan media cetak secara cepat menyuguhkan kepada masyarakat kota berbagai berita, informasi dan peristiwa-peristiwa, baik yang positif maupun yang negatif, yang terjadi di belahan dunia lain. Banyak orang di kota-kota besar yang memperlihatkan gaya hidup dan perilaku yang tidak lagi mengacu pada nilai-nilai budaya yang dianut oleh kebanyakan masyarakatnya. Gejala ini sering disebut sebagai gejala keterasingan dari budaya sendiri.

Gejala seperti disebutkan di atas tampaknya melanda sebagian golongan dan lapisan masyarakat kita, terutama di kota- kota besar. Banyak orang dari golongan kaya, misalnya, memperagakan gaya hidup mewah dan pola hidup konsumtif di tengah masyarakat miskin yang merupakan jumlah mayoritas. Hal yang disebut pertama ini dapat disaksikan, misalnya, pada gaya hidup selebriti dunia yang mempengaruhi para selebriti kita di Tanah Air. Kini banyak lagu yang dinyanyikan oleh para penyanyi dan selebriti dunia yang terkesan vulgar, mengguncang dan menghujat kemapanan. Fenomena ini berbeda dari lirik-lirik lagu yang didendangkan oleh penyanyi tempo dulu yang terkesan santun dan lembut. Demikian pula penampilan sebagian penyanyi dan penari latarnya. Mereka tertular gaya penyanyi dan musisi top dunia. Jika disebut satu demi satu mungkin banyak sekali perilaku warga masyarakat kita yang telah mengalami titik-titik pergeseran dan penyimpangan dari nilai-nilai budaya masyarakat yang semula dijunjung tinggi secara bersama-sama. Salah satu manifestasi dan bentuk pergeseran sistem nilai yang paling menonjol ialah makin longgarnya tata nilai yang menyangkut hubungan antarmanusia yang berbeda jenis, terutama di kota-kota besar di mana kontak- kontak ke dunia luar sangat dipermudah oleh tersedinya media elektronik dan media cetak.

Belum lagi kita berbicara tentang pengaruh cara hidup hedonistis yang hanya menekankan pada kesenangan duniawi semata. Pornografi dalam segala bentuk dan manifestasinya dapat diakses secara cepat dan mudah melalui jejaring sosial. Semua ini merupakan ancaman serius terhadap moralitas dan karakter bangsa, terutama kaum muda. Mereka yang rentan terhadap pengaruh negatif budaya luar adalah mereka yang pada umumnya memiliki kualitas pendidikan agama yang rendah dan lemah. Kebanyakan mereka kurang mampu memahami dan menghayati ajaran dan nilai-nilai agama, wawasan keagamaan mereka dangkal dan sempit, sehingga mereka tidak memiliki daya tahan mental- spiritual dan daya tangkal moral terhadap pengaruh-pengaruh negatif globalisasi kebudayaan.

Daya tangkal yang lemah ini semakin parah apabila tingkat pendidikan mereka sangat rendah dan kehidupan sosial-ekonomi mereka sangat lemah. Akumulasi berbagai kelemahan ini menyebabkan pengaruh budaya luar yang negatif semakin mudah merasuki relung-relung kehidupan masyarakat, terutama kaum muda kita yang secara emosional kejiwaan masih rentan dan labil. Kita, baik sebagai perorangan maupun sebagai anggota masyarakat, tentu tidak ingin kehilangan sosok identitas dan jati diri di tengah-tengah gencarnya arus dan gelombang globalisasi budaya dewasa ini.

Di samping memiliki dampak negatif, era globalisasi tentu saja mempunyai dampak positif. Karena dunia sudah begitu menggelobal berkat kecanggihan teknologi informasi, komunikasi dan media massa, kita dengan sangat mudah dan cepat dapat mengetahui, misalnya, perkembangan sains dan teknologi yang dihasilkan oleh suatu negara. Info tentang perkembangan- perkembangan baru yang terjadi di suatu belahan dunia dapat kita ketahui dengan cepat dan mudah berkat kecanggihan teknologi informasi, komunikasi, jejaring sosial dan media massa. Orang dapat berkomunikasi antar-benua dengan sangat mudah dan cepat berkat kecanggihan teknologi komunikasi. Dunia benar- benar menjadi global village.

Penguatan (Kembali) Karakter Bangsa

Usaha menangkal pengaruh negatif era globalisasi, bangsa Indonesia – terutama para mahasiswa – harus memperkuat (kembali) moralitas dan kararkter agar tidak terbawa arus negative era globalisasi itu. Menurut The Random House Dictionary of the English Language, character adalah ”the aggregate of features and traits that form the individual nature of some persons or things” (keseluruhan ciri khas sifat dan perangai yang membentuk watak sekelompok orang atau barang). Dalam kamus yang sama, morality (moralitas) diartikan sebagai ”conformity to the rule of right conduct ; moral or virtuous conduct”5 (sesuai dengan aturan perilaku yang benar ; moral atau perangai yang baik). Jadi karakter, watak dan moralitas sangat berkaitan melekat pada diri seseorang atau sekelompok orang.

Karena bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang agamis, maka pembentukan moralitas dan karakter bangsa Indonesia banyak diwarnai oleh ajaran agama. Sudah barang tentu agama mempunyai peranan penting dalam membangun dan menguatkan (kembali) moralitas, perilaku dan karakter bangsa Indonesia. Selain didasarkan pada agama, karakter bangsa Indonesia dibentuk oleh sistem nilai budaya dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. Jadi unsur-unsur ajaran agama, Pancasila (sebagai pandangan hidup bangsa) dan sistem nilai budaya yang hidup dan berkembang di Tanah Air ikut membentuk dan mewarnai kepribadian, moralitas dan karakter bangsa Indonesia. Dalam konteks ini, penguatan dan pemberdayaan kembali nilai-nilai moral dan karakter bangsa hendaknya diarahkan kepada :

Pertama, penguatan (kembali) sendi-sendi kepercayaan dan keberagamaan dalam kehidupan masyarakat. Dengan penguatan kembali pilar-pilar kepercayaan agama, diharapkan nilai-nilai kejujuran, kebenaran, keadilan, sifat amanah dan tanggung jawab akan selalu menuntun dan membimbing perilaku bangsa Indonesia. Dengan demikian, para pejabat, polisi dan aparat hukum tidak (lagi) melakukan perilaku koruptif-manipulatif. Kedua, penguatan nilai-nilai moral dan nilai-nilai agama dalam kehidupan bangsa hendaknya dimaksimalkan. Hal ini penting sebagai benteng dan pertahanan moral, mental dan kepribadian bangsa Indonesia agar tidak mudah terhangut ke dalam arus perilaku a-moral (dekadensi moral), cara hidup hedonistis dan split personality (kepribadian yang pecah).

Ketiga, penguatan identitas sebagai bangsa Indonesia. Penguatan identitas dan jati diri bangsa ini penting agar bangsa Indonesia tetap memiliki rasa kebangsaan (nasionalisme) yang kuat di tengah-tengah benturan paham, budaya, filsafat, nilai dan ideologi dari luar yang masuk ke Indonesia melalui arus globalisasi itu. Keempat, pengembangan dan penguatan sikap mandiri dan sikap kompetitif yang sehat. Di tengah-tengah persaingan yang keras di era global, bangsa Indonesia perlu mempunyai sikap mandiri yang kuat dan sikap kompetitif yang sehat agar dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Jika tidak memiliki kemandirian dan sikap kompetitif, bangsa Indonesia akan tersisih dan kalah dalam persaingan era global.

Kelima, penguatan sikap berorientasi ke depan (future oriented) agar lebih termotivasi dan terpacu untuk berprestasi besar di bidang ekonomi, sosial budaya, sains dan teknologi. Pencapaian yang besar dan baik di bidang ekonomi, sosial budaya, sains dan teknologi akan lebih meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa. Keenam, penguatan dan pengembangan institusi-institusi pendidikan di setiap jenjang dan satuan pendidikan. Pendidikan adalah kunci kemajuan. Dari para sarjanalah diharapkan lahir ide-ide baru, temuan-temuan baru, ilmu pengetahuan baru dan teknologi baru yang, pada gilirannya, dapat mendorong dan memacu kemajuan bangsa di bidang sains dan teknologi.

Ketujuh, penguatan daya kreativitas dan pemberdayaan mental membangun dalam rangka melaksanakan modernisasi di segala bidang kehidupan. Pembangunan, reformasi atau modernisasi di segala bidang kehidupan merupakan tugas nasional yang harus dilaksanakan oleh seluruh lapisan bangsa Indonesia secara berkesinambungan dalam rangka menanggulangi keterbelakangan, pengangguran, kebodohan dan kemiskinan. Kedelapan, penegakan hukum, HAM dan demokrasi dalam arti yang sesungguhnya dan sejatinya. Dengan cara demikian, diharapkan kasus mafia hukum dan mafia pajak dapat ditekan dan dihilangkan. Dalam pada itu, perlu dikembangkan pula sistem demokrasi yang solid dan sejati yang ditandai dengan berfungsinya demokratisasi dalam kehidupan bangsa, berlakunya sistem checks and balances yang efektif dan berjalannya penegakan HAM dan persamaan semua orang di muka hukum.

Demikianlah antara lain upaya-upaya strategis penguatan (kembali) moralitas dan karakter bangsa Indonesia yang perlu dikembangkan dan diberdayakan di tengah-tengah arus globalisasi dewasa ini. Kita sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat dan sebagai komponen bangsa mempunyai tugas dan tanggung jawab bersama untuk terus membangun, mengembangkan, memperkuat dan memberdayakan kembali moralitas dan karakter bangsa itu. Penguatan dan pemberdayaan (kembali) moralitas dan karakter bangsa dewasa ini sangat urgen dan strategis mengingat kompleksitas tantangan yang menyertai arus globalisasi itu. Segi-segi positif era globalisasi tentu saja kita ambil karena itu bermanfaat bagi kehidupan kita, tetapi hal-hal negatifnya tentu saja kita tolak. Kita memang dituntut untuk bersikap selektif dalam menghadapi era globalisasi.

Makalah dipresentasikan dalam seminar nasional ”Pendidikan Berbasis Karakter” yang
diselenggarakan oleh Majalah Suara Kalijaga bekerja sama dengan penerbit Nuha Litera, Yogyakarta 29 Januari 2011.

Related Post

 

Tags: