Bertempat di Gedung Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) Fakultas Dakwah pada hari Kamis 24 Maret 2011 mengadakan Kuliah Umum dengan menghadirkan Irwanto, Ph.D, Guru Besar Unika Atmajaya Jakarta yang merupakan Konsultan UNICEF, UNDP dan ILO dalam Perlindungan Anak & Difabel. Kuliah Umum menyambut Semester Genap 2010 – 2011 yang bertema “Paradigma Resiliensi (Ketahanan) dalam Social Work) ini bertujuan untuk memperkaya khazanah keilmuan kesejahteran sosial dengan memperkenalkan paradigm resiliensi yang menjadi salah satu paradigma utama dalam kajian kesejahteraan sosial. Acara Kuliah Umum dimulai pukul 09.30 WIB. Diawali ucapan selamat datang oleh Ketua Prodi IKS dan disusul dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Dekan Fakultas Dakwah yang dilanjutkan dengan pemaparan presentasi dari Irwanto, Ph.D yang juga aktif di Pusat Kajian Disabilitas Universitas Indonesia. Irwanto, Ph.D memulai presentasi tentang besarnya potensi optimisme dengan pemaparan mengenai data bahwa lebih dari 80% survivor musibah/bencana bisa tumbuh dan berkembang menjadi orang yang biasa. Hampir bisa mengatasi dalam waktu 4 – 5 bulan. Kurang lebih 15% saja yang menderita PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) selama 1 – 2 tahun. Tidak lebih dari 5% yang akan mengalami PTSD lebih dari 2 tahun dan menderita gangguan mental berat. Ini menandakan bahwa ada potensi sembuh dari diri klien yang harus direspon oleh pekerja sosial. Selanjutnya, Irwanto, Ph.D memaparkan tentang paradigma dalam kesejahteraan sosial. Pertama, paradigma abnormal-patologis yang menekankan pada akibat pengalaman traumatik yang mengarah pada gangguan emosional sampai gangguan mental berat. Mereka menggambarkan pasien secara pesimis, tidak bisa kembali lagi, dan tidak percaya pengalaman buruk itu proses belajar; Kedua, paradigma resilience and growth yang menekankan bahwa pada dasarnya manusia dapat mengatasi persoalan trauma dalam waktu yang relatif singkat serta adanya proses belajar dan tumbuh kembang dalam melalui masa-masa traumatik. Namun yang disayangkan, paradigma abnormal-patologis masih dominan dan mainstream di Kemensos namun tidak disertai dengan kualitas pelayanan yang memadai. Penelitian yang dilakukannya di 98 panti rehabilitasi sosial se-Indonesia memberikan gambaran betapa memprihatinkannya kondisi pasien/klien dan fasilitas panti yang ada. Selain itu, paradigma abnormal-patologis juga mempengaruhi bagaimana PMKS didefinisikan. Paradigma yang ada akan mempengaruhi social policy. Keberadaan paradigma itu memiliki implikasi yang mempengaruhi bagaimana pekerja sosial mengatasi dan menanganai permasalahan klien. Implikasi model patologis akan memunculkan perspektif medis yang melihat individu klien itu sakit. Tindakan yang dilakukan adalah isolasi dan institusionalisasi seperti ditempatkan di panti rehabilitasi sosial, dan akan ada bantuan medis dan farmakologis. Sebaliknya, implikasi model resiliensi akan melahirkan intervensi psikososial yang nantinya bertumpu pada home/community based. Untuk klien dengan permasalahan akut dan tidak ada harapan, masih ada tindakan selanjutnya yang lebih humanis yaitu palliative, membantu klien dimana kehormatan dirinya tidak tercela seperti misalnya tidak mati di jalanan atau mati terisolir. Dalam sesi tanya jawab, hal menarik lainnya yang disampaikan oleh Irwanto, Ph.D adalah agenda yang perlu dilakukan oleh para pekerja sosial saat ini adalah enabling environment, menciptakan lingkungan dimana potensi resiliensi bisa tumbuh. Menurutnya, manusia itu memiliki kekuatan untuk tumbuh, disinilah peran social worker atau pekerja sosial untuk mengkapitalisasi potensi itu, jangan sampai pekerja sosial lebih pesimis dibanding kenyataan sesungguhnya. Acara Kuliah Umum yang diikuti 150 peserta mahasiswa dari berbagai jurusan di lingkungan UIN ini berakhir pada pukul 12.00 WIB yang ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada Irwanto, Ph.D yang diserahkan langsung oleh Ketua Prodi IKS, Dr. Waryono, M.Ag