FAISAL ISMAIL, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Lord Acton (1834–1902) sudah lama memperingatkan kepada para penguasa (negara) agar mereka berhati-hati dalam menjalankan kekuasaan.

Lord Acton secara tegas mewanti-wanti dan memperingatkan, all power tends to corrupt and absolute power corrupts abolutely”.Walaupun peringatan Lord Acton itu sudah terdengar di mana-mana, masih ada di antara pemegang kekuasaan yang—secara sadar atau tidak—tidak mengindahkannya. Yang mereka lakukan justru menjalankan kekuasaan pemerintahan secara represif dan otoriter dalam kurun waktu yang panjang. Rezim otoriter di masa lalu tumbang, kemudian muncul rezim otoriter di zaman modern ini. Rezim otoriter pada zaman modern tidak mengambil hikmah dan pembelajaran dari tragedi tumbangnya rezim otoriter di masa lalu. Sejarah terus berulang, yang berbeda hanya aktornya saja.

Rezim Shah dan Marcos

Rezim Shah Reza Pahlavi di Iran dan rezim Ferdinand Marcos di Filipina adalah contoh rezim otoriter di zaman modern. Shah Reza Pahlavi merupakan dinasti Pahlavi yang terakhir dan merupakan shah yang terakhir di Iran.

Dia memerintah selama 38 tahun (1941–1979). Jika dihubungkan dengan Kekaisaran Persia, dinasti Pahlavi merupakan kesinambungan dinasti yang berlangsung dalam 2.200 tahun. Selama 38 tahun memegang kekuasaan, Shah melaksanakan program modernisasinya dengan mencontoh model Barat (westernisasi).Namun media, parpol, dan parlemen dikontrol ketat.Para pengkritiknya dibungkam dan dijebloskan ke dalam penjara. Aspirasi keagamaan (Syi’ah) dipinggirkan.Suara mullahdan ayatullah tidak digubris. Perlakuan ini sangat menyakitkan para mullah dan ayatullah. Maka bangkitlah Ayatullah Ruhullah Khomeini melakukan perlawanan terhadap Shah.

Khomeini untuk beberapa lama hidup di pengasingan di Paris, tetapi perlawanan terhadap rezim otoriter Shah terus dia lakukan. Akhirnya, melalui revolusi Iran, Ayatullah Khomeini dan para pendukungnya berhasil menumbangkan Shah pada Februari 1979. Shah Reza Pahlavi hengkang ke Kairo dan meninggal di sana pada 27 Juli 1980 dalam usia 60 tahun. Tidak jauh berbeda dengan Shah Iran, Presiden Marcos di Filipina juga membangun rezim represif dan otoriter. Marcos berkuasa selama 21 tahun (1965–1986). Selama masa kekuasaannya yang panjang,Marcos dan istrinya (Imelda) memperkaya diri dan meraup kekayaan yang melimpah.Pemerintahan Marcos ditandai oleh merajalelanya korupsi dan kurangnya lapangan kerja.

Hal itu menyebabkan ketidakpuasan dan keresahan yang meluas di kalangan rakyat. Maka bangkitlah gerakan rakyat menuntut Marcos mundur. Menyusul Revolusi EDSA, revolusi damai yang digerakkan melalui people’s power, akhirnya rezim otoriter Marcos tumbang pada 1986. Marcos hengkang ke Hawaii dan mengembuskan napas terakhirnya di sana pada 28 September 1989 dalam usia 72 tahun.

Rezim Ben Ali dan Mubarak

Tragedi tumbangnya rezim Shah Iran dan rezim Marcos tampaknya tidak menjadi pembelajaran bagi rezim Zainal el- Abidin ben Ali di Tunisia dan rezim Hosni Mubarak di Mesir. Melalui kudeta tak berdarah terhadap Presiden Habib Bourguiba,Ben Ali naik ke kursi empuk kepresidenan. Ben Ali menjabat sebagai Presiden Tunisia kedua dan berkuasa selama 22 tahun (1987–2011). Sebelum menjadi presiden, pada 1987 dia menjabat sebagai perdana menteri (PM).

Dalam pemilu terakhir, 25 Oktober 2009, Ben Ali dinyatakan memenangi pemilu dan diangkat sebagai presiden untuk kelima kalinya. Tindakan represif dan otoriter serta praktik korupsi dan memperkaya diri yang dilakukan Presiden Ben Ali dan keluarganya akhirnya memicu keresahan dan kemarahan rakyat. Dari Desember 2000 hingga Januari 2011 pecah kerusuhan di berbagai kota, menuntut sang presiden mundur. Di bawah tekanan demonstran yang kian keras, Ben Ali pun tumbang dari kekuasaannya. Dia hengkang ke Jeddah bersama istrinya yang konon dilaporkan membawa 1,5 ton emas. Dicekam oleh post power syndome, Ben Ali dilaporkan terserang stroke.

Rezim represif dan otoriter dipertontonkan pula oleh Presiden Hosni Mubarak di Mesir. Menggantikan Presiden Anwar Sadat yang tewas di tangan kaum radikal, Mubarak diangkat sebagai Presiden Mesir keempat. Mubarak berkuasa selama 30 tahun (1981–2011). Selama kekuasaannya yang panjang, Mubarak dan keluarganya menumpuk kekayaan yang melimpah ruah. Sementara rakyat tetap berkubang dalam lembah kemiskinan.Untuk melanggengkan dinasti politiknya, Mubarak berencana mempromosikan anaknya, Jamal Mubarak, sebagai penggantinya. Tak kurang dari enam kali percobaan pembunuhan terhadap Mubarak, tetapi dapat digagalkan. Terinspirasi oleh Revolusi Melati Tunisia, rakyat Mesir bergolak.

Selama 18 hari meletus demonstrasi antirezim Mubarak di berbagai kota yang menelan korban tewas lebih dari 400 orang dan ratusan terluka. Akhirnya, rezim represif dan otoriter Mubarak tumbang di tangan kaum demonstran. Nasib rezim-rezim represif dan otoriter di dunia tidak berbeda. Rezim-rezim tersebut ditumbangkan oleh gerakan prodemokrasi dan prokeadilan. Indonesia juga mengalami hal yang sama: rezim Soekarno dan rezim Soeharto tumbang di tangan gerakan prodemokrasi dan prokeadilan.

Sekarang kita sedang melihat lagi satu perlawanan epik dari rezim Muammar Khadafi di Libya. Gerakan rakyat yang belakangan dibantu oleh Dewan Keamanan PBB benarbenar mengancam rezim yang telah berkuasa 42 tahun itu. Rezim Khadafi, cepat atau lambat, akan tumbang juga. Otoritarianisme memang tidak mempunyai tempat di muka Mahkamah Sejarah.

 

Selasa, 22 Maret 2011

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/388470/

Related Post

 

Tags: