Acara Career Show ini dibuka langsung oleh Ketua Prodi IKS, Dr Waryono, M.Ag dan dimoderatori oleh Arif Maftuhin, Dosen Prodi IKS. Acara yang berlangsung dari pukul 13.00 – 15.00 WIB ini dihadiri oleh Pembantu Dekan II, beberapa Dosen dan sekitar 80 mahasiswa/i di lingkungan Fakultas Dakwah. Dalam sesi presentasi, Tata Sudrajat menyampaikan betapa profesi pekerja sosial sangat menjanjikan jika mampu dikelola dengan baik. Pengalaman Tata yang selama 19 tahun menjadi Pekerja Sosial sejak lulus dari STKS yang kemudian berkecimpung dalam isu perlindungan anak, telah menjadikannya berkarir dalam dunia pekerjaan sosial dan menempuh semua level dari pekerja sosial di tingkat lapangan sampai menjadi manajer program sebuah NGO internasional di Indonesia. Selain penanganan bencana, kesehatan mental dan CSR, isu perlindungan anak merupakan salah satu setting bidang praktek pekerjaan sosial yang masih jarang. Isu perlindungan anak, magnitude-nya semakin hari semakin berat. Pada tahun 1979 isu ini lebih dikenal dengan isu anak terlantar, dan berkembang di tahun 1990-an menjadi Perlindungan anak, dengan mengklasifikasi: anak korban bencana, anak korban eksploitasi seksual dan perdagangan, anak yang terkait dengan hukum, anak dari suku terasing. Kalau isu keterlantaran anak membicarakan kesejahteraan maka isu perlindungan anak terkait dengan perlindungan/kerentanan dari eksploitasi, yang mana analisisnya tidak cukup mencakup kemiskinan, tetapi ada faktor kejahatan disana, misalnya bisnis. Diungkapkan pula bahwa Save the Children sebagai NGO internasional yang concern terhadap isu anak, merasakan perlunya sertifikasi pekerja sosial karena lisensi sangat diperlukan ketika menangani kasus anak. Sertifikasi itu sendiri dilakukan oleh lembaga profesi. Untuk lulusan S1, mahasiswa belum bisa disebut sebagai pekerja sosial kecuali setelah adanya uji kompetensi sebagai pekerja sosial. Setelah itu adalah lisensi untuk bisa berpraktek. Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial Indonesia (IPPSI) sendiri telah menyusun kurikulum inti dan mata kuliah pokok pekerjaan sosial, ada sekitar 19 mata kuliah yang menjadi standar. Mengenai mata kuliah terkait hak dan isu perlindungan anak itu diserahkan kepada jurusan / lembaga pendidikan kesejahteraan sosial masing-masing. Yang sedang disiapkan kini adalah konsorsium kesejahteraan sosial yang terdiri dari Perguruan Tinggi, IPPSI, IPSPI, Organisasi Sosial, DNIKS (Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial). Diharapkan kedepan setiap lembaga sosial harus memiliki 1 pekerja sosial. Di akhir sesi, Tata Sudrajat menjelaskan jenjang karir pekerja sosial di bidang Perlindungan anak. Pertama, dimulai dari caseworker (menangani kasus secara individu) yang di supervisi oleh pekerja sosial professional. Kedua, setelah disertifikasi barulah dapat menjadi senior caseworker, dan berikutnya Ketiga, menjadi case manajer, yang dalam bidang teknis bisa menjadi penasehat teknis atau menjadi manajer program, atau semua jenis pekerjaan lain di level makro.