Faisal Ismail

Problem kesulitan ekonomi yang melilit kehidupan suatu keluarga di banyak desa di negeri ini telah mendorong kaum perempuannya bekerja sebagai TKW (tenaga kerja wanita) di luar negeri, termasuk di Timur Tengah (Timteng). Mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Adalah Ami binti Turkia, TKW asal desa Pegagan, kecamatan Kapetakan, Cirebon, yang juga mencoba menyabung nasib dengan menjadi TKW di Bahrain. Tentu, dengan menjadi TKW, Ami bermaksud ikut memperbaiki kondisi ekonomi keluarga di desanya. Setiap bulannya ia berharap dapat menyisihkan sebagian upahnya untuk dikirim ke keluarganya di Cirebon. Demikian kira-kira angan-angan yang terlintas dalam benak pikiran Ami. Dikirim oleh sebuah PPTKIS (perusahaan pengirim tenaga kerja Indonesia swasta) di ibu kota, Ami berangkat dari Jakarta menuju Manama, Bahrain. Ia bekerja beberapa lama di suatu keluarga di Bahrain.

Ditusuk dengan Obeng
Kemudian, apa yang terjadi? Suatu ketika pengguna jasa (majikan) menusuk leher Ami dengan sebilah obeng. Lehernya tembus dan berlumuran darah. Ami tewas seketika. Nyawanya melayang. Mayatnya dibungkus kain dan dimasukkan ke dalam mobil hendak dibuang di kawasan Sitra, Bahrain. Saat sang pengemudi hendak membuang mayat Ami di semak-semak, kebetulan sudah ada orang di sana. Karena curiga, orang itu sempat mencatat nomer mobil tersebut. Sang pengemudi melarikan mobilnya dengan kencang ke kawasan lain, lantas membuang mayat Ami. Atas laporan orang yang mencatat nomer mobil itu, polisi Bahrain dengan tangkas dan cekatan menangkap majikan itu dalam hitungan jam. Sang majikan diringkus polisi.

Dalam investigasi, si majikan mengklaim bahwa Ami telah menghina dirinya. Karena harga diri sang majikan merasa sangat terhina, ia pun menjadi kalap dan meluapkan geram amarahnya dengan menusukkan obeng ke leher Ami dengan sadis dan bengis sehingga Ami tewas secara tragis. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2009. Selaku duta besar RI untuk Kuwait merangkap Kerajaan Bahrain, saya mengadakan rapat dengan staf dan Atnaker (Atase Tenaga Kerja) di KBRI Kuwait untuk menangani kasus ini dan memberitahu keluarga Ami di Cirebon tentang peristiwa ini. Jenazah Ami diotopsi dan beberapa lama kemudian dikirim ke daerah asalnya atas permintaan keluarga. Ahli waris Ami memperoleh asuransi sebesar Rp 45 juta dari pihak perusahaan asuransi di Jakarta.

Langkah berikutnya, membawa kasus Ami ke pengadilan Bahrain. KBRI telah menyewa pengacara untuk menangani kasus ini secara serius sehingga dapat diperoleh rasa keadilan yang seadil-adilnya. Kami minta pengacara untuk terus memantau, mengawal, dan menangani kasus pembunuhan Ami itu secara sungguh-sungguh agar pengadilan Bahrain dapat mengambil keputusan yang seadil-adilnya sesuai perbuatan sadis, bengis, dan kejam si majikan. Sampai dengan selesainya tugas saya sebagai dubes pada akhir Juni 2010, kasus pembunuhan Ami belum diputus oleh pengadilan. Mengapa proses peradilannya harus berjalan sangat lama?

Nasib Tragis
Nasib tragis yang menimpa Ami melengkapi kisah-kisah tragis penyiksaan, pemerkosaan, kekerasan, dan pembunuhan TKW di Timteng seperti yang terjadi pada Kikim Komalasari (dibunuh dan dimasukkan ke dalam tong sampah) dan Sumiati (disiksa dan digunting bibirnya) di Arab Saudi beberapa waktu lalu. Sudah saatnya pemerintah RI (Kemnakertrans) mendesak negara-negara penerima TKW di Timteng untuk memasukkan masalah pekerja domestik ini ke dalam UU Ketenakerjaan di negara-negara setempat agar para TKW kita lebih terlindungi. Perlu pula dibuat MoU tentang tenaga kerja non-formal antara pemerintah RI dan pemerintah negara-negara di Timteng yang menjadi tujuan pengiriman dan penempatan TKW agar TKW kita lebih terlindungi di negara-negara tersebut.

Di negara-negara Timteng, selama ini masalah tenaga kerja di sektor rumah tangga masih dimasukkan ke dalam UU Keluarga, bukan ke dalam UU Ketenagakerjaan. Selama  masalah tenaga kerja di sektor rumah tangga belum dimasukkan ke dalam UU Ketenagakerjaan, TKW kita di negara-negara Timteng sangat tidak terlindungi dan sangat rentan terkena KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang dilakukan oleh majikan dan  keluarga majikan. Karena tidak terlindungi secara maksimal, masih dimungkinkan terjadinya kasus-kasus yang sama atau serupa dengan kasus yang dialami oleh Ami di Bahrain atau yang dialami oleh TKW lain di negara-negara Timur Tengah yang menjadi tujuan pengiriman dan penempatan TKW Indonesia. Kapan nasib tragis yang menimpa TKW kita berakhir?***

Kedaulatan Rakyat , 13 Mei 2011

Related Post

 

Tags: