oleh Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat pluralistik dan multikultur. Spirit pluralisme dan multikulturalisme sesungguhnya telah dihayati secara baik oleh para pendiri republik ini. Hal ini secara jelas tercermin pada motto nasional kita “Bhinneka Tunggal Ika”.  Para founding fathers kita sangat menyadari kebhinnekaan dan kemajemukan bangsa Indonesia yang mendiami ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Keragaman suku, budaya, agama, dan tradisi sebenarnya merupakan potensi besar untuk membangun bangsa dan negara yang kuat dan maju.

Sejauh menyangkut pluralitas agama, para pendiri republik ini juga telah memberikan perhatian secara khusus. Kesadaran kolektif ini tercermin pada pasal agama dalam UUD 1945 yang menjadi acuan pertama dan utama bagi kita dalam menganut agama dan menjalankan ibadat keagamaan. UUD 1945 secara tegas dan jelas menyatakan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.” Ini berarti negara menjamin sepenuhnya kebebasan beragama dan kebebasan untuk menjalankan ibadat keagamaan. Agama yang bersifat transendental Ilahiyah tidak boleh, tidak perlu dan tidak seharusnya dipaksakan dengan cara dan bentuk apa pun. Setiap penduduk bebas menganut agama dan beribadat sesuai agama masing-masing.

Esensi Agama
Tidak dapat disangkal, setiap agama mempunyai tujuan yang mulia dan luhur. Setiap agama mengajarkan kepada para pemeluknya untuk mengerjakan kebaikan, kebajikan, kemaslahatan, perdamaian, cinta pada sesama, dan toleransi kepada sesama pemeluk agama dan kepada pemeluk agama lain. Tak ada ajaran agama dalam kitab suci agama mana pun yang mengajarkan pemeluknya untuk melakukan kekerasan, perusakan, penganiayaan, penyerangan, dan segala bentuk perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri dan bertentangan dengan aturan hukum dan HAM. Setiap agama mengajarkan kepada pemeluknya untuk berlaku etis-humanis, bukan berwatak anarkis-brutalis.

Bertolak dari doktrin, kepercayaan dan kesadaran di atas, maka radikalisme, anarkisme, dan bahkan terorisme harus ditolak dan dilawan. Radikalisme, anarkisme, dan terorisme adalah musuh kita bersama. Segala bentuk radikalisme yang mengatasnamakan dan memakai label agama adalah tidak benar dan harus dilawan. Segala bentuk radikalisme yang disucikan atas nama agama sebenarnya tidak mempunyai legitimasi keagamaan. Jika doktrin ini dipahami dan dipegangi secara benar, maka klaim radikalisme dan jihadisme (yang memakai label agama) tidak akan ada dan tidak perlu ada.

Doktrin agama yang Ilahiyah, suci, mulia, dan luhur sudah sepantasnya tidak digunakan sebagai tameng dan justifikasi untuk melakukan tindakan teror, kekerasan, perampokan, perusakan, penyerangan, penganiayaan, dan segala bentuk perbuatan yang mencederai misi suci agama itu sendiri. Karena esensi dan misi agama itu sendiri adalah untuk membangun, menciptakan, dan memelihara nilai-nilai kebaikan, kebajikan, kemaslahatan, perdamaian, penghormatan antarmanusia, dan cinta antarsesama. Dengan demikian, terciptalah kehidupan yang penuh rasa kemanusiaan yang adil dan beradab di antara sesama manusia.

Pendidikan Multikultural
Setiap agama sudah pasti mengakui dan menghargai pluralitas yang ada dalam masyarakat Indonesia. Penerimaan dan penghargaan terhadap nilai-nilai pluralitas ini hendaknya ditanamkan sejak dini melalui pendidikan di sekolah-sekolah agar berhasil dengan baik. Pendidikan yang menekankan pada ide dan semangat pluralisme dan multikulturalisme ini merupakan tanggung jawab semua komponen bangsa. Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan edukasional, segenap umat beragama hendaknya mengambil bagian aktif dalam upaya merealisasikan pendidikan multikultural yang dilandasi spirit kebangsaan ini.

Di sinilah letak pentingnya pelaksanaan pendidikan multikultural dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita yang majemuk. Melalui pendidikan multikultural ini, sikap saling menerima dan menghargai antaretnis, antarumat beragama dan antarbudaya terus kita pupuk dan kita kembangkan dalam mewujudkan kesatuan dalam keragaman atau keragaman dalam kesatuan. Dengan cara ini, sinergisitas nasionalisme, konstitusionalisme, multikulturalisme, pluralisme, dan inklusivisme sebagai pilar utama demokrasi akan terus tumbuh dan berkembang subur di tanah air kita.

Kedaulatan Rakyat, 20 Juni 2011

Related Post

 

Tags: