Faisal Ismail, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga

Eksekusi hukuman pancung terhadap Ruyati (TKI) yang bekerja di Arab Saudi beberapa waktu lalu mengundang reaksi keras dari banyak kalangan di negara kita. Suatu hal yang sangat tidak lazim adalah pemerintah Arab Saudi tidak memberitahu terlebih dulu kepada KBRI di Riyadh tentang eksekusi hukuman pancung atas Ruyati itu. Sikap seperti itu dari segi etika hukum dan etika diplomatik terasa sangat melecehkan pemerintah RI. Menanggapi eksekusi hukuman pancung atas Ruyati tersebut, pemerintah RI mengirim nota protes keras kepada pemerintah Arab Saudi dan sekaligus melakukan moratorium pengiriman TKI nonformal ke negara kerajaan di Timur Tengah itu. Prof Syafii Maarif dalam wawancara dengan teve swasta di Jakarta mengecam eksekusi hukuman pancung atas Ruyati itu sebagai perilaku biadab dan menghimbau pemerintah Arab Saudi untuk belajar menjadi menusia beradab.

Hukuman mati dengan cara pancung (leher atau tengkuk pembunuh ditebas dengan sebilah pedang panjang yang sangat tajam) telah menjadi sistem hukum yang berlaku di Arab Saudi. Ruyati adalah salah satu saja dari sekian banyak terpidana yang mengalami hukuman pancung. Diberitakan di media, di Arab Saudi masih ada 28 orang lagi yang dinyatakan terbukti bersalah dan menunggu hukuman pancung. Pemerintah RI telah membentuk Satgas yang ditugasi untuk menyelesaikan kasus hukum dan ’menyelamatkan’ nyawa TKI yang terancam hukuman pancung itu. Dasrem lolos dari hukuman pancung karena pemerintah RI telah membayar diyat (tebusan) kepada keluarga terbunuh sebesar Rp 4 miliar lebih. Dalam sistem hukum Islam seperti di Arab Saudi, terpidana (pembunuh) tidak akan dieksekusi apabila keluarga terbunuh memberi maaf kepada pembunuh. Bisa pula pembunuh tidak akan dieksekusi apabila pembunuh tadi (keluarga pembunuh) membayar diyat kepada keluarga terbunuh sesuai permintaan (tuntutan) keluarga terbunuh.

Legalitas Hukum Kisas

Orang yang dituduh melakukan pembunuhan dan dinyatakan terbukti bersalah di pengadilan Arab Saudi, ia dihukum mati dengan cara dipancung. Dalam peristilahan hukum Islam, hal itu dinamakan kisas (Arab: qishash). Kisas adalah hukuman setimpal yang dijatuhkan oleh pengadilan Islam (dalam hal ini pengadilan Arab Saudi) kepada orang yang dinyatakan terbukti bersalah sesuai kejahatan (perbuatan kriminal) yang ia lakukan. Karena Ruyati dituduh membunuh majikan dan ia dinyatakan terbukti bersalah menurut sistem hukum di Arab Saudi, ia dikisas (dihukum mati dengan cara dipancung).

Walaupun sudah diserukan oleh para aktivis hukum dan HAM (seperti Amnesti Internasional) agar hukuman mati dihapus, tetapi masih ada negara-negara yang memberlakukan hukuman mati. Alasan negara yang memraktikkan hukuman mati adalah demi rasa keadilan hukum dan memberi efek jera agar orang lain tidak melakukan perbuatan kriminal yang sama. Indonesia masih menganut hukuman mati. Berbeda dari Arab Saudi yang melaksanakan hukuman mati dengan cara memancung terpidana, Indonesia mengeksekusi hukuman mati dengan cara menembak terpidana. Contohnya, Amrozi dan Imam Samudra (dua pentolan pelaku bom Bali) ditembak mati di hadapan regu penembak. Singapura memberlakukan hukuman mati (hukuman gantung) bagi pengedar narkoba. China menembak mati para koruptor.

Alqur’an Surat Albaqarah ayat 178 memang memerintahkan pelaksanaan hukuman kisas. Ayat ini yang menjadi rujukan hukum dan legitimasi keagamaan pemerintah Arab Saudi dalam memberlakukan hukuman kisas itu. Ayat ini sudah bersifat qath’i (pasti dan gamblang) dan merupakan nash atau perintah dari Tuhan yang isinya sama sekali tidak dapat diragukan lagi. Hanya yang menjadi pertanyaan kita adalah: apakah hukuman kisas itu harus dilaksanakan dengan cara ’membunuh’ dalam arti memancung atau menebas tengkuk (leher) seorang terpidana dengan memakai pedang yang dilakukan oleh pemancung?

Kisas Tanpa Pancung

Tulisan ini tidak mempermasalahkan keabsahan hukum kisas itu. Karena teks (nash) Alqur’an memang sudah jelas dan terang benderang memerintahkan demikian. Seseorang yang dituduh membunuh dan tuduhan itu dibuktikan secara sah dan meyakinkan di pengadilan Islam seperti di Arab Saudi, maka pembunuh itu harus dihukum bunuh (kisas). Hukuman yang diterima oleh pembunuh setimpal: nyawa dibalas dengan nyawa. Pertanyaannya: apakah ’pedang’ (senjata tajam) merupakan satu-satunya alat yang harus dipakai dalam eksekusi hukum kisas? Tidak bisakah alat ’konvensioal’ pedang itu diganti dengan alat ’modern’ yang canggih? Dalam praktik euthanasia, pasien disuntik mati agar ia mengalami ”mercy killing” (pembunuhan penuh belas kasihan): ia mati dengan cepat, nyaman, dan tidak merasa sakit.

Di tengah-tengah perkembangan teknologi moderen yang semakin canggih dewasa ini, para ulama hukum Arab Saudi atau ulama Islam yang tergabung dalam OKI (Organisasi Kenferensi Islam) perlu melakukan ’ijtihad’ untuk menemukan cara lain dalam pelaksanaan kisas. Orang yang dituduh membunuh dan terbukti bersalah di pengadilan Islam, ia dikisas tanpa dipancung. Ia, misalnya, disuntik mati sehingga rasa sakit dan penderitaan yang ia rasakan tidak lama, tidak menyakitkan, dan tidak berdarah-darah. Fungsi pedang sebagai alat pancung (eksekusi mati) diganti dengan suntik mati. Alat yang dipakai berbeda, tapi esensi hukuman kisasnya sama: sama-sama hukuman mati, nyawa terbunuh dibalas dengan nyawa pembunuh. Dapatkah praktik semacam ”mercy killing” itu diterapkan dalam hukuman kisas?***

Jurnal Nasional, 27 Juli 2011

Related Post

 

Tags: