Faisal Ismail, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dunia sudah berusaha menghukum Khadafi lewat Resolusi 1973 (17 Maret) Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menimbulkan perdebatan sengit di berbagai penjuru dunia.

Serangan berbagai jenis senjata dari berbagai negara telah dilancarkan ke negeri kaya minyak itu.Namun,setelah hampir empat bulan masih belum ada titik terang penyelesaian masalah Libya ini.

Sosok Tiran dan Diktator

Setelah berhasil mengudeta tak berdarah Raja Idris pada 1 September 1969, Khadafi mantap berkuasa sebagai pemimpin Libya.Saat itu Khadafi baru berusia 26 tahun dan berpangkat kolonel. Para petinggi militer yang berpangkat lebih tinggi dari pangkat dirinya diturunkan.

Khadafi menghapus sistem monarki dan mengubah Libya menjadi Republik Arab Libya.Pada 1993, elemen Angkatan Darat Libya melakukan percobaan pembunuhan terhadap Khadafi,tapi gagal. Pada tahun 1980-an,Khadafi dicap oleh Amerika Serikat (AS) sebagai sponsor dan penyokong terorisme internasional.

Itulah sebabnya,pada 14 April 1986,AS melalui operasi ’El Dorado Canyon’-nya menyerang pusatpusat pertahanan militer Libya, tapi Khadafi lolos dari serangan itu.Presiden AS Ronald Reagan menjuluki Khadafi sebagai ”mad dog of Middle East” (anjing gilaTimurTengah).

Sudah 42 tahun Khadafi menggenggam kuat kekuasaannya dan membangun rezimnya tanpa checks and balances. Tak ada kamus demokrasi, toleransi, dan kompromi dalam doktrin politiknya. Dia mengandalkan kekuatan politiknya pada dukungan kuat suku-suku dan para loyalis yang melingkari kekuasaannya.

Dia pada hakikatnya adalah seorang raja absolut,tiran,dan diktator yang bertindak represif dan otoriter. Revolusi Tunisia (yang berhasil menumbangkan rezim Ben Ali) dan Revolusi Mesir (yang sukses menjungkalkan rezim Mubarak) menginspirasi para demonstran melancarkan perlawanan sengit terhadap rezim Khadafi secara besarbesaran di berbagai kota sejak Februari 2011.

Unjuk rasa kemudian berubah menjadi perlawanan bersenjata terhadap rezim Khadafi.Perang saudara pun pecah dan menelan banyak korban tewas, terluka, dan harta benda ludes.Walaupun sempat terdesak, para pemberontak berhasil merebut beberapa kota strategis dari tangan pasukan pro-Khadafi yang memiliki persenjataan yang lebih baik.

Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi No 1973 menyetujui Pasukan Koalisi (AS,Prancis, dan Inggris) menyerang Libya dalam rangka melindungi rakyat sipil. PBB menerapkan zona larangan terbang bagi pesawat Libya. Libya juga dikenakan sanksi embargo senjata.

Pasukan pemberontak merasa terbantu oleh serangan Tentara Koalisi yang membombardir pusat-pusat pertahanan udara Libya. Pasukan Koalisi, melalui operasi Dawn Odyssey, dengan menggunakan pesawat serbamodern dan canggih menghancurkan fasilitas pertahanan militer Libya.

Peranan Tentara Koalisi kemudian digantikan oleh NATO yang terus membombardir pusat-pusat militer Libya agar Khadafi mundur dari kekuasaannya. Posisi Khadafi dari hari ke hari semakin terjepit. Aset kekayaannya di luar negeri dibekukan. Rusia,yang pada awalnya mendukung, mendesak Khadafi mundur dari kekuasaannya.

Khadafi juga kehilangan para pembantu dekatnya.Beberapa menteri,termasuk menteri dalam negeri,mundur dan beberapa petinggi militer membelot. Beberapa duta besar, termasuk Dubes Libya untuk AS dan PBB, undur diri.Mereka menentang cara-cara keras dan tangan besi Khadafi dalam menangani kaum demonstran dan pasukan pemberontak.

Khadafi dan pasukan loyalisnya bertindak brutal terhadap kaum demonstran dan pemberontak. Ratusan demonstran antirezim-Khadafi dan pasukan pemberontak tewas di tangan tentara loyalis Khadafi.Anak laki-laki Khadafi, Saiful Islam, sangat membela sang ayah yang ingin terus melanggengkan rezimnya yang represif dan otoriter.

Meramal Nasib Khadafi

Bagaimanakah “nasib”Khadafi nanti? Ada tiga kemungkinan nasib yang akan menimpa Khadafi. Pertama, pasukan NATO akan membunuh Khadafi. Dengan demikian, rezim Khadafi tumbang dan digantikan oleh pemerintahan lain yang dibentuk secara demokratis.

Namun,opsi ini tidak etis dilihat dari kacamata hukum internasional karena misi tentara NATO sebenarnya sebatas melindungi rakyat sipil dari kekejaman Khadafi, bukan membunuh Khadafi itu sendiri. Karena itu, opsi ini tidak akan dilakukan NATO. Tapi karena Khadafi bersikeras tak mau mundur, bisa jadi NATO akan menyerang dan membunuhnya.

Kedua, karena sudah terdesak, Khadafi akan meninggalkan Libya dan menyerahkan kekuasaan seperti yang terjadi di Mesir dan Tunisia.Pilihan ini juga rasanya tidak mungkin mengingat sikap Khadafi yang keras kepala dan tidak kenal kompromi. Saat Tripoli digempur NATO,Khadafi justru main catur.

Ini menunjukkan Khadafi keras kepala dan sekaligus melecehkan serangan NATO. Ketiga, pasukan loyalis Khadafi tidak berdaya menghadapi gempuran serangan udara tentara NATO. Ini melicinkan jalan bagi pasukan pemberontak untuk mengalahkan Khadafi dan pasukan loyalisnya.

Pasukan pemberontak akan melakukan gerak maju dan akan berhasil menumbangkan rezim Khadafi. Cara ketiga ini tampaknya lebih masuk akal dan dapat dilakukan oleh pasukan pemberontak. Lengkaplah skenario penggulingan Khadafi dengan dikeluarkannya perintah oleh Pengadilan Kriminal Internasional untuk menangkap Khadafi.

Kalau Khadafi berhasil ditangkap, dia akan dibawa ke Pengadilan Internasional dengan tuduhan sebagai penjahat perang. Negaranegara Arab yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk juga mendukung agar Khadafi lengser dan turun dari singgasana kekuasaannya yang sudah berlangsung selama 42 tahun.

Khadafi makin kehilangan legitimasi politik dan kekuasaannya di mata masyarakat internasional. Mampukah Khadafi bertahan? Sejarahlah yang akan menentukan nasib Khadafi.

Seputar Indonesia, 9 Juli 2011

Related Post

 

Tags: