oleh Faisal Ismail

Kekuatan utama yang memijar dan membersit dari “Puisi-Puisi Tanah Suci” karya Soeparno S. Adhy ini terletak pada daya kemampuannya mengekspresikan bobot religiusitas ke dalam puisi-puisinya. Mengeduk dan menyerap pengalaman spiritual- keagamaan ketika melaksanakan ibadat haji di Tanah Suci, Soeparno menulis puisi-puisinya dengan sangat mengesankan dan sarat suasana keagamaan yang intens. Orang yang sudah menunaikan ibadat haji dan membaca puisi-puisi Soeparno, ia akan merasakan pengalaman kerohanian dan penghayatan keagamaannya terlahir dan hadir kembali secara kental. Bagi orang yang belum menunaikan ibadat haji dan membaca puisi-puisi Soeparno, ia akan merasa terbawa ke dalam pengalaman dan penghayatan keagamaan yang hidup seolah-olah ia sedang melaksanakan ibadat haji.

Sarat dan kaya dengan muatan religiusitas, puisi-puisi Soeparno banyak menggunakan simbol-simbol keagamaan yang terdapat di Tanah Suci. Semua ini dapat ditengarai dari puisi-puisinya yang menggunakan ungkapan kata-kata yang bernas, impresif dan ekspresif. Kosa kata seperti Allah, Muhammad, Ka’bah, Masjidil Haram, ayat, Safa, Marwah, Jabal Rahmah, Gua Hira’, ihram, Muzdalifah, dan simbol-simbol keagamaan lain yang terdapat di Tanah Suci sangat banyak menghiasi baris-baris puisinya. Tepat sekali apabila Soeparno memberi judul “Puisi-Puisi Tanah Suci” bagi buku kumpulan puisinya ini.

“Puisi-puisi Tanah Suci” dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama terdiri dari tujuh puisi dan dirangkum di bawah judul “Puisi-Puisi Madinah”. Bagian kedua terdiri dari 17 puisi dan dihimpun di bawah judul “Puisi-Puisi Makkah”. “Puisi-Puisi untuk Istriku” (yang terdiri dari tujuh puisi) merupakan bagian ketiga. Jadi, secara keseluruhan “Puisi-Puisi Tanah Suci” karya Soeparno memuat 31 puisi. Ditulis dalam waktu relatif singkat (selama dua minggu menjelang bulan Ramadan 1431 H), puisi-puisi tersebut dimaksudkan oleh Soeparno sebagai ekspresi kerinduannya untuk dapat kembali ke Tanah Suci dan sekaligus sebagai ekspresi kerinduannya kepada almarhumah istrinya yang wafat dan dimakamkan di Tanah Suci ketika menunaikan ibadat haji bersamanya.

Puisi-Puisi Madinah

Dalam bagian pertama (Puisi-Puisi Madinah), Soeparno memulainya dengan puisi “Ayat-Mu Memantuli Telingaku”. Ia bercerita tentang tempat menginapnya di sebuah hotel ketika mengerjakan salat arbain di Madinah. Setelah beribadat tengah malam (qiyamul lail), ia membaca ayat-ayat Allah dan merasakan kekuatan ayat-ayat itu sangat dahsyat dan “mem-bor” dinding telinganya. Soeparno merasa takjub terhadap kekuatan ayat-ayat Allah itu dan sekaligus mengaku kepada-Nya akan kekurangfasihan dan kekurangmerduannya dalam melafazakan ayat-ayat Allah:

…..

aneh. ayat-ayat-Mu memantuli dinding telingaku

dengan gema yang berlipat dari suaraku

ayat-ayat-Mu mem-bor dinding telingaku

dengan kekuatan berlipat dari tenagaku.

aku termenung

apakah Kau tidak berkenan

dengan lafalku yang kurang fasih

dan qiraahku yang kurang merdu?

Pengalaman kerohanian Soeparno di Tanah Suci semakin intens dan mengental ketika ia berada di Masjid Nabawi. Dalam masjid, ia mendengar firman Allah dilafazkan dengan sangat mengesankan dan ia merasakan kebahagiaan tersendiri seraya meresapi makna firman itu. Bagi Soeparno, firman itu sangat menyejukkan dan mencerahkan kalbunya karena menghadirkan kebahagiaan sangat mendalam yang tidak terkira. Firman Allah yang dilafazkan dalam masjid itu antara lain berisi penegasan Allah bahwa Dia telah menyempurnakan agama Islam, menyempurnakan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad dan meridai Islam sebagai agama terakhir. Pengalaman kerohanian ini dituangkan oleh Soeparno dalam puisinya yang berjudul “Firman Yang Membahagiakan”:

….

bagiku firman itu

menjadi pertanda

menjadi pemandu

menjadi pencerah

iman dan takwaku

firman itu melengkapi ikrarku

maklumat keikhlasanku:

aku rela bertuhan Allah

aku rela Islam agamaku

aku rela pula Muhammad

Nabi dan Rasul penutup zaman.

 

Puisi-Puisi Mekkah

Dalam “Puisi-Puisi Makkah” (bagian tiga), Soeparno mengawalinya dengan sajak “Tahun Baru di Makkah,” yaitu tahun 2005 ketika ia menunaikan ibadat haji bersama istri tercinta. Bagi penyair kelahiran Salatiga 26 Mei 1949 ini, tahun baru adalah bukan tahun hura-hura yang penuh pesta meriah atau penuh seremoni duniawiah yang gaduh, instan dan mudah menguap tanpa kesan kerohanian dan pesan keagamaan. Bagi penyair-wartawan ini, tahun baru adalah tahun kontemplasi, mawas diri, muhasabah dan peningkatan ibadat baik dalam arti kuantitas maupun kualitas. Demikianlah, Soeparno memaknai dan menghayati tahun baru yang ketika itu ia dan istri tercintanya sedang melaksanakan ibadat haji di Tanah Suci. Hal ini ia rekam dalam puisinya:

aku tengah di negeri asing

aku tengah mengasingkan diri

dari hiruk pikuk gemerlap yang bising

aku lagi menuju

dunia mawas diri

dunia kontemplasi

dunia kalkulasi

dunia muhasabah

dunia kuantitas

kualitas ibadat

bus terus melaju

menuju jantung kota Makkah

jantung tanah ibadat

tempatku bergantung diri

nyadhong ridla Ilahi

di atas hamparan sajadah.

 Pengalaman kerohanian dan keagamaan Soeparno bertambah kaya dan kental lagi ketika dia sudah berada di lingkungan Ka’bah. Ka’bah diyakini oleh Umat Islam sebagai sentrum bumi. Ka’bah adalah pusat kiblat salat bagi seluruh kaum Muslimin di seluruh dunia. Ka’bah melambangkan kesatuan dan persatuan kiblat Umat Islam di mana pun mereka berada. Semua jamaah haji, tak terkecuali, harus melakukan tawaf sebanyak 7 kali mengelilingi Ka’bah. Saking banyaknya, jamaah haji terlihat sebagai lautan manusia, bergerak secara dinamis, mengelilingi Ka’bah suci. Di saat-saat seperti itulah Soeparno merasa Ka’bah itu mengajaknya mendekat, menyambut dan menyampaikan salam kepadanya. Ia terharu, menyeka air matanya, merasa sangat bahagia karena doanya untuk melaksanakan ibadat haji ke Tanah Suci dan langsung melihat Ka’bah dikabulkan oleh Allah:

inilah rumah Tuhanku

yang gambarnya kulihat pertama kali

pada malam pertama membuka juz ’Amma

kemudian mengeja alif ba ta

kuseka air mataku

yang sebening zamzam

air mata bahagia

karena Allah mengabulkan doaku

berziarah ke Makkah dan Madinah

seperti ibu, ayah dan moyangku

memenuhi panggilan suci-Mu.

 

Puisi-Puisi untuk Istriku

Di tengah-tengah merasakan nikmatnya beribadat di Tanah Suci, Soeparno diuji kesabaran dan ketabahannya oleh Allah. Tampaknya sudah menjadi takdir Allah, istri Soeparno jatuh sakit ketika melaksanakan ibadat haji. Karena sakit, tak ada jalan lain bagi Soeparno untuk menempatkan istrinya di kursi roda agar ibadat hajinya tetap berjalan sebagaimana mestinya. Soeparno sangat cinta dan sangat setia kepada sang istri. Ia bersusah payah mendorong kursi roda istrinya di tengah gelombang lautan manusia agar ritual haji istrinya (mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali putaran dan ibadat-ibadat yang lain) tetap berlangsung dengan baik. Soeparno tidak mengeluh sedikit pun walaupun ia harus bekerja keras mendorong kursi roda sang istri. Justru pekerjaan mendorong kursi roda itu dimaknai oleh Soeparno sebagai bentuk pengabdian yang tulus ikhlas. Kecintaan, kesetiaan, ketulusan, keikhlasan dan pengabdian ini ia tuangkan dalam puisinya yang berjudul ”Kudorong Kursi Rodamu”:

….

istriku, terimalah pengabdianku

dengan sekadar mendorong kursi rodamu

sebagai persembahan terima kasihku

terima kasihku, karena kau

telah memberiku 4 anak yang sehat

mengasuh dan mendidiknya

terima kasihku, karena kau

dengan ikhlas mendampingiku

mengais rezeki di hari terik

menyelimutiku di malam rintik

kudorong kursi rodamu

mengelilingi Ka’bah

bersama menggapai ijabah.

 

Detik-detik yang paling sangat mengharukan bagi Soeparno adalah ketika jenazah istri tercintanya dibaringkan bersama lima jenazah lainnya. Soeparno dengan perasaan penuh haru, tabah dan pasrah yang sangat mendalam menyaksikan jenazah sang istri dengan iringan doa yang sangat tulus yang terucap dari lubuk hatinya yang terdalam. ”Yang terbungkus kain hijau itu milikku/jenazah istriku,” kata dia dengan penuh ketabahan dan kesabaran. Ini merupakan ekspresi Soeparno bahwa dia adalah seorang suami yang sangat baik, cinta dan setia sehidup semati pada istrinya. Dia terima cobaan berat ini dengan perasaan pasrah, tabah, dan merasa lega karena dia dapat menyalatkan jenazah sang istri dengan perasaan khusyuk di Masjidil Haram.

Perasaan sedih Soeparno merasa lebih terobati lagi karena jutaan jamaah haji lainnya juga menyalatkan jenazah sang istri bersama jenazah-jenazah yang lain. Dalam momen yang penuh kesedihan dan kehilangan sang istri seperti itu, sesosok malaikat seolah berbisik akrab di telinga Soeparno dan berpesan kepadanya untuk tetap berbahagia karena jenazah sang istri bersama jenazah-jenazah yang lain akan disalalatkan jutaan umat. Semua ini terekam dalam puisi Soeparno yang bertajuk ”Jenazah di Depan Ka’bah”:

 sekelebat

sesosok malaikat

berbisik akrab di telingaku:

berbahagialah kau sebagai suaminya

karena sebentar lagi jenazahnya

akan disalatkan jutaan umat

dari segenap penjuru jagad

aku termangu

aku percaya pasti

malaikat itu tidak sedang menghiburku.

 

Pesan Moral untuk Anak-Anak Tercinta

Di tengah-tengah gebyar kemilau pergumulan kehidupan duniawi yang dikuasai oleh sikap rakus materialisme, Soeparno tampil sebagai sosok manusia yang mengambil jarak dari gelimang kehidupan duniawi yang ’tidak’ halal. Ia mempunyai prinsip hidup yang sangat teguh dan kuat. Ia tidak terhanyut ke dalam kehidupan materialistis kebendaan yang diraup dengan jalan tidak hal. Ia sama sekali menolak semua yang haram dan hanya memilih dan mendapatkan sesuatu yang halal. Inilah prinsip hidup yang ia pertahankan dan ia jalani secara konsisten. Bukan hanya utuk dirinya dan istrinya, tetapi prinsip hidup itu ia ajarkan dan ia tanamkan ke dalam lubuk jiwa putra-putrinya tercinta.

Soeparno berpesan kepada putra putri tercintanya agar jangan ”menghamba dan dikuasai uang.” Ia meyakinkan kepada putra putrinya bahwa makanan, nasi, lauk pauk, minuman, pakaian dan biaya sekolah dan kuliah yang ia berikan kepada mereka tidak diperoleh dari barang-barang yang haram (terlarang oleh agama). Tetapi diupayakan dan didapat dari sumber-sumber yang halal sebagai hasil kucuran keringatnya yang benar-benar bersih ”sebening air zamam” di kota suci Mekkah. Degan sangat mengesankan, Soeparno menyampaikan pesan moral keagamaan itu kepada putra putrinya lewat puisinya yang berjudul ”Sepenggal Kisah Tentang Almarhumah”:

anakku, melalui sepenggal kisah itu

ayahmu ingin menitip pesan

wanti-wanti dan berwasiat:

jangan sekali-kali hidupmu

menghamba dan dikuasai uang

jadikan uang sekadar sarana

mememuhi kebutuhan hidup sederhana

tanpa melupakan keikhlasan berderma

kuasai secukupnya saja

agar kau tak tergopoh mengejar

agar tak tergoda berbuat tak wajar

agar kau tak silau dunia gemebyar

anakku, ingin kuyakinkan kepadamu

nasi dan lauk yang kusuapkan

insya Allah kukais dari ladang yang bersih

pakaian yang kalian kenakan

alhamdulillah kutemukan dari bahan thoyyiban

biaya sekolah dan kuliah yang kubayarkan

terkumpul berkat keringat sebening zamzam.

 

Rekam Jejak Karier

Demikianlah sekilas ulasan atas puisi-puisi Soeparno S. Adhy yang terhimpun dalam ”Puisi-Puisi Tanah Suci” yang diterbitkan oleh Forum Silaturrahmi Wartawan Muslim Yogayakarta (cetakan pertama, Desember 2010). Beberapa puisi yang saya ulas di atas diharapkan telah mewakili keseluruhan pusinya yang terbagi menjadi tiga bagian: Puisi-Puisi Madinah, Puisi-Puisi Makkah dan Puisi-Puisi untuk Istriku. ”Puisi-Puisi Tanah Suci” merupakan buku kumpulan puisi karya ketiga Soeparno. Karya pertama dan kedua masing-masing berjudul ”Bara Presada” (1966) dan ”Sepanjang Bukit Barisan” (1971). ”Bara Persada” memuat sajak-sajak ’protes’ yang ditulis oleh Soeparno sebagai anak muda yang ikut aktif berjuang menumbangkan rezim Orde Lama di Yogyakarta. Sedang ”Sepanjang Bukit Barisan” memuat puisi-puisi yang dicipta oleh penyairnya ketika ia bertugas sebagai ’anak panah’ Muhammadiyah di Pagaralam (Sumatra Selatan).

Soeparno dan beberapa rekan sastrawan-penyair muda lainnya mendirikan Persada Studi Klub (PSK) di Yogyakarta pada tanggal 5 Maret 1969. Puisinya yang berjudul ”Gadis Kecil Buruh Kecil Perkebunan Teh” memenangkan hadiah runner up sayembara penulisan puisi yang diselenggarakan oleh BBC London dalam rangka mengenang almarhum Aoh K. Hadimadja. Antara 1972-1989, ia bekerja sebagai wartawan Masa Kini Yogyakarta dan kemudian sebagai wartawan SKH Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1989-sekarang). Pada tahun 2005, ia menerima penghargaan Piagam Kesetiaan Profesi Kewartawanan (30 tahun) dari PWI Pusat.***

Resensi disampaikan dalam diskusi para penyair Yogya di Gedung Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, 13 Juli 2011.

 

 

Related Post

 

Tags: