FAISAL ISMAIL, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tuhan tidak hanya menciptakan manusia,tetapi sekaligus menyediakan berbagai fasilitas dan rezeki yang sangat banyak dan beragam agar manusia dapat bertahan hidup. Manusia dikaruniai akal sebagai modal utama untuk berkreasi, bekerja, dan berkarya sehingga hidup manusia mempunyai visi dan misi.

Dengan akalnya,manusia menjadi kreatif-inovatif-progresif, menciptakan kebudayaan dan peradaban yang membedakannya dengan makhluk lain. Yang lebih penting lagi adalah, manusia diberi tuntunan agama.

Dengan agama dan akalnya, hidup manusia menjadi bermakna secara spiritual dan intelektual,memiliki filsafat, pandangan, dan tujuan hidup. Binatang tidak perlu agama karena tidak mempunyai makna dan tujuan hidup. Dengan agama dan rasionya, manusia harus selalu berupaya secara baik dan rasional untuk memperoleh harta guna menghidupi dirinya.

Dalam konteks doktrin Islam,Tuhan menyuruh Umat Islam untuk berzakat, bersedekah, berinfak,dan membelanjakan sebagian harta di jalan Tuhan. Itu berarti Islam memberikan dorongan kuat kepada umatnya untuk mempunyai harta secara halal dan baik.

Dorongan itu dapat diartikan bahwa Islam menghendaki agar umat Islam menjadi orangorang yang berharta. Bagaimana kita akan dapat berzakat, bersedekah, berinfak, dan membelanjakan harta di jalan- Nya kalau kita tenggelam dalam kubangan kemiskinan?

Dimensi Ritual

Secara doktrinal-teologis, Islam sesungguhnya menghendaki umat Islam agar menjadi orang-orang yang berharta dan, kalau bisa, menjadi kaya raya. Islam memotivasi para pemeluknya agar menjadi hartawan.

Ajaran Islam yang menyatakan bahwa “tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah” (maksudnya: orang yang memberi lebih baik daripada orang yang diberi).Ajaran itu mengimplikasikan betapa pentingnya umat Islam untuk mencari harta sebanyak mungkin, melakukan pergulatan secara dinamis dan pergumulan secara aktif dengan kehidupan duniawi, dan tidak seharusnya membelakangi kehidupan dunia ini.

Kemiskinan harus diberantas dan diperangi karena kata Rasul, “Kefakiran itu lebih dekat kepada kekafiran.” Dalam konteks ini, Tuhan bersabda dalam Alquran Surat Al Qashash ayat 77. Intinya, Tuhan mendorong Umat Islam untuk merengkuh sebanyak mungkin harta dalam kehidupan di dunia sekarang ini.

Tapi, dalam waktu yang sama,Tuhan memperingatkan agar pencarian harta oleh umat Islam itu jangan sampai melupakan amalan-amalan ibadat yang sangat penting bagi kebahagiaan hidup di akhirat. Ini berarti perlu adanya keseimbangan dalam kehidupan umat antara kepentingan duniawi dan kepentingan ukhrawi.

Itulah sebabnya, Nabi Muhammad SAW mengingatkan pula, “Bekerjalah kamu untuk kehidupan duniawimu seolah-olah kamu akan hidup abadi dan bekerjalah kamu untuk kehidupan akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi.

“Harta adalah sekadar sarana, bukan tujuan utama.Harta adalah sekadar sarana untuk dapat berbakti dan mengabdi kepadaTuhan.Harta kekayaan adalah penting agar kita mempunyai sarana yang baik dan terhormat dalam rangka beribadat kepada Tuhan.Segala harta benda yang kita miliki adalah amanat (titipan) dari Tuhan, Sang Maha Pemurah dan Pemberi rezeki.

Karena merupakan pemberian sekaligus amanat dari Tuhan yang wajib kita jaga, maka sebagian dari harta yang kita miliki itu harus kita belanjakan di jalan-Nya dengan cara mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah yang kita berikan kepada orang-orang yang secara sosial ekonomi tidak beruntung (kaum dhuafa), termasuk anak-anak yatim piatu.

Lebih-lebih pada bulan Ramadan, saat kita secara intens berpuasa selama satu bulan, sudah sepatutnya zakat, infak, sedekah, dan pengeluaran “belanja” di jalan Tuhan itu lebih ditingkatkan dan diintensifkan.

Dimensi Sosial

Dari perspektif dimensi sosial, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk saling berbagi welas asih. Manusia adalah makhluk sosial yang harus saling tolong menolong dan berkewajiban menolong kaum dhuafa.

Caranya, umat diperintahkan untuk berpuasa selama satu bulan dan merasakan sendiri secara langsung segala penderitaan akibat haus dan lapar kaum fakir miskin. Dengan demikian, timbullah kesadaran kemanusiaan di lubuk hati umat yang mempunyai kelebihan harta untuk membantu kaum dhuafa dengan cara berzakat,bersedekah, berinfak, dan membelanjakan
harta di jalan Tuhan.

Islam memerintahkan umatnya untuk mengeluarkan zakat mal (harta) dan zakat fitrah. Zakat mal ditetapkan sebanyak dua setengah persen dan diberikan kepada kaum dhuafa. Zakat mal adalah cara untuk membersihkan jiwa para pemilik harta dan untuk membersihkan harta yang diperoleh dari berbagai sumber yang tidak jelas.

Zakat fitrah diberikan kepada fakir miskin saat muslimin (yang mampu) mengakhiri puasa Ramadan. Dewasa ini kesenjangan sosial di Tanah Air masih belum dapat dipersempit. Bahkan, gejalanya semakin melebar.

Kemiskinan masih merupakan tantangan sosial ekonomi yang harus kita tanggulangi. Sangat tepat apabila Islam mengajarkan kepada umatnya untuk berzakat, berinfak, bersedekah, dan membelanjakan harta di jalan Tuhan.

Zakat mal,zakat fitrah, infak, sedekah, dan pembelanjaan harta di jalan Tuhan dimaksudkan untuk memupuk kesetiakawanan sosial. Dengan terbinanya solidaritas sosial yang baik dan kuat,maka diharapkan segala bentuk kesenjangan sosial akan bisa diperkecil atau bahkan ditiadakan.

Yang jauh lebih penting lagi adalah mempertahankan dan meningkatkan kesetiakawanan sosial ini dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Solidaritas sosial tidak hanya dilaksanakan di bulan Ramadan tetapi juga di luar Ramadan.

Dengan cara demikian, kontinuitas sensitivitas rasa welas asih kita kepada kaum dhuafa dan kaum terkapar mempunyai makna yang sangat dalam. Simbiosis ritual dan sosial Ramadan harus kita amalkan secara integral.

Jumat, 29 Juli 2011

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/416365/

Related Post

 

Tags: