oleh Faisal Ismail

Manusia dan malaikat adalah makhluk yang secara kodrati diciptakan oleh Tuhan dengan sifat yang sangat berlainan. Diciptakan Tuhan tanpa memiliki pernik-pernik nafsu, kerja malaikat hanya berbakti, menyembah, dan beribadah kepada Tuhan, sedangkan manusia diciptakan oleh Tuhan dengan seperangkat nafsu yang mempunyai fungsi tersendiri.Nafsu seks, misalnya, berfungsi sebagai alat bagi manusia untuk mengembangkan keturunan. Tanpa dilengkapi nafsu seks, kehidupan manusia sudah punah sejak dulu kala karena manusia tidak dapat menghasilkan keturunan yang akan melanjutkan kehidupannya.

Agar hubungan seks antara pria-wanita menjadi legal dan sakral, hubungan antara dua insan yang berbeda jenis kelamin itu diatur dalam ikatan pernikahan yang sah. Sebagai elemen yang hidup dan aktif, nafsu itu mendesakkan dorongan dalam diri manusia. Jika manusia dapat mengendalikan nafsunya, ia menjadi pemenang. Jika tidak, ia menjadi pecundang.

Dalam Alquran, Tuhan memberikan ilustrasi tentang nafsu ini. Tuhan mengatakan, ”Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS Yusuf: 53).

Ayat ini menjelaskan bahwa nafsu itu secara umum selalu mendorong manusia untuk melakukan sesuatu yang destruktif, tercela, kebejatan, kemaksiatan, dan kejahatan kecuali nafsu yang dirahmati oleh Tuhan.

Nabi Muhammad memperingatkan kepada umat Islam secara keseluruhan agar selalu ingat, awas, dan waspada terhadap godaan nafsu ini. Hal ini memberikan pemahaman bahwa nafsu itu secara umum adalah jelek dan destruktif, tetapi ada pula nafsu yang baik, positif, dan konstruktif yang dirahmati oleh Tuhan.

Destruktif dan Konstruktif

Setelah Perang Badar (perang besar antara pasukan muslim dan pasukan kafir Quraisy yang terjadi di Mekkah), Nabi berkata kepada para sahabat, ”Kita akan menghadapi perang yang lebih besar dan lebih dahsyat lagi.” Para sahabat lantas bertanya, ”Perang apa itu, ya Rasulullah?” Nabi pun menjawab dengan nada yang meyakinkan, ”Perang melawan nafsu!” Perang melawan pasukan musuh dapat dideteksi dan diantisipasi.

Sementara itu, nafsu adalah musuh dalam selimut atau musuh yang dapat menikam dari belakang kapan saja dan di mana saja. Dalam diri manusia, ada lima macam nafsu yang saling bergolak. Dua di antaranya bersifat negatif dan destruktif, sedang tiga lainnya bersifat konstruktif dan positif.

Pertama, nafsu hayawaniyah (hewaniah) yang mendorong manusia berperilaku seperti binatang buas. Secara fisik, ia adalah manusia, tetapi perbuatannya sangat jahat dan buas seperti predator. Cara hidup manusia dengan nafsu hewaniah ini ditandai dengan penggunaan hukum rimba, teror, dan praktik homo homini lupus (yang kuat memangsa yang lemah), mau menang sendiri, rakus dan tamak, arogan dan angkuh, berperilaku kolonialistis, imperialistis, dan kapitalistis, dan berperilaku koruptif.

Kedua, nafsu amarah yang mendorong manusia suka melampiaskan arogansi dan mengumbar kemarahan. Manusia dengan sifat seperti ini sering berperilaku brutal, menghardik dan mengata-ngatai orang lain dengan perkataan keji dan kotor, berbaku hantam, dan berlaku anarkistis. Perang antara dua bangsa yang bertikai adalah bentuk pelampiasan amukan kemarahan.

Ketiga, nafsu mulhimah yang memberikan bimbingan dan ilham kepada manusia untuk selalu melakukan kebaikan dan kebajikan dalam gerak-gerik hidupnya.

Keempat, nafsu lawwamah yang selalu mengajak manusia ke jalan kejujuran, kebenaran, dan keadilan sesuai petunjuk Tuhan.

Kelima, nafsu mutmainnah yang menanamkan rasa tulus, ikhlas, dan tenang pada diri manusia dalam menerima dan melaksanakan kebenaran perintah Allah. Segala macam keinginan dan perbuatan yang tercela terjauh dari manusia yang memiliki jiwa mutmainnah ini.

Merengkuh Kemenangan

Dengan melaksanakan puasa Ramadan, semua muslim ditempa untuk selalu memenangkan dan meningkatkan nafsu yang baik, konstruktif, dan positif, yaitu nafsu mulhimah, nafsu lawwamah, dan nafsu mutmainnah.

Ketiga nafsu ini akan mampu menciptakan sosok pribadi yang selalu mendorong manusia untuk melakukan kebajikan, ketakwaan, dan kesalehan individual dan kesalehan sosial. Sementara itu, selama puasa Ramadan itu juga,nafsu hewaniah dan amarah (yang mendorong manusia ke jalan yang tercela, destruktif, maksiat, dan jahat) terus dikendalikan dan dikalahkan.

Secara doktrinal-teologis dan praktikal-psikologis, puasa merupakan ajaran ilahiah yang mampu mencetak pribadi yang sangat unggul dari segi pembinaan dan perbaikan moral-mental-spiritual. Dengan mengamalkan ibadah puasa (dan ibadah-ibadah yang lain), lahirlah pribadi yang berkualitas unggul dan tahan uji terhadap bujukan nafsu hewaniah dan amarah.

Dalam waktu yang sama, terbentuklah pribadi yang berkualitas unggul dalam mempertahankan dan meningkatkan nafsu mulhimah, lawwamah, dan mutmainnah. Nafsu hewaniah dan amarah tidak hanya dikendalikan dan dikalahkan saat kita berpuasa dalam bulan Ramadan, tetapi juga pada bulan-bulan di luar Ramadan.

Nafsu mulhimah, lawwamah, dan mutmainnah tidak hanya dibina dan ditingkatkan saat kita berpuasa pada Ramadan, tetapi juga pada bulan-bulan di luar Ramadan. Tujuan utama puasa bukan hanya berdampak positif dan signifikan pada Ramadan itu sendiri, melainkan juga pada bulan-bulan di luar Ramadan.

Dampak puasa yang hanya terasa pada bulan Ramadan, puasa semacam itu tidak efektif, mandul, bahkan sia-sia belaka. Benar sinyalemen Nabi, betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan nilai apa-apa dari puasanya itu, kecuali lapar dan dahaga. Logikanya, puasa itu harus berdampak positif dan signifikan sepanjang hayat.

Kita baru layak menyatakan lahir kembali sebagai sosok yang fitri dan merayakan Idul Fitri jika kita menang melawan nafsu hewaniah dan amarah, dan berhasil mempertahankan nafsu mulhimah, lawwamah, dan mutmainnah.

Dimuat Sindo, 27 Agustus 2011

Related Post

 

Tags: