Faisal Ismail, Penulis adalah Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Marhaban ya Ramadan! Selamat datang Ramadan!

Sebagai muslim, kita benar-benar merasa berbahagia sekali dan sangat bersyukur kepada Allah karena kita masih dipertemukan kembali dengan Bulan Suci Ramadan yang penuh anugerah, berkah, rahmat, dan magfirah. Dengan bertemunya kembali dengan Bulan Suci Ramadan, berarti usia kita sementara ini masih dipanjangkan, takdir kematian atau maut belum juga merenggut nyawa kita.

Kita masih hidup dan berada di dunia nyata, belum kembali ke alam baka. Sebenarnya, makna hidup kita tidak ditentukan oleh seberapa lama kita hidup di dunia ini, akan tetapi sangat ditentukan oleh seberapa banyak amal kebaikan dan ketakwaan yang kita ker- jakan demi kebaktian dan pengabdian kita kepada Allah. Amal-amal kebaikan dan kebajikanlah yang secara dominan memberi makna dan tujuan hidup kita di dunia ini.

Dengan bertemunya kembali dengan Bulan Suci Ramadan, berarti kita masih diberi kesempatan luas yang sangat baik oleh Allah untuk terus merengkuh kembali momentum Ramadan dan memaknainya dengan penuh apresiasi keimanan dan ketakwaan.

Memang sudah seharusnya kita secara sadar dapat memaknai momentum Ramadan itu agar ibadat puasa dan ibadat-ibadat kita yang lain di Bulan Suci ini memiliki “nilai tambah” yang signifikan dalam bingkai perjalanan pengalaman kerohanian kita. Bagi kita, momentum Ramadan ini memunyai seperangkat makna ilahiah dan makna insaniah yang sangat luas dan mendalam, antara lain sebagai berikut.

Nilai Ilahiah dan Insaniah

Pertama, kita sangat yakin bahwa puasa Ramadan yang setiap tahun kita laksanakan akan mengantarkan kita kepada pembentukan sosok pribadi yang takwa. Ini sejalan dengan tujuan pokok ibadat puasa itu sendiri, sebagaimana secara jelas dinyatakan oleh Allah dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 183.

Kualitas, bobot, dan derajat takwa tidak secara otomatis kita peroleh dengan hanya menyatakan iman kepada Allah, akan tetapi secara spiritual-ritual kita mengupayakannya secara berkesinambungan dengan penuh pengabdian dan kebaktian kepada-Nya, yaitu secara maksimal dan optimal kita beribadat kepada-Nya secara benar, tekun, tulus, dan ikhlas. Sosok pribadi yang takwa adalah sosok pribadi yang secara konsisten mampu melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kedua, kita memahami bahwa Ramadan adalah momentum yang sangat baik bagi kita untuk menjalani latihan mental-rohaniah dan fisik-jasmaniah yang sangat intens. Latihan mental-rohaniah dan fisik-jasmaniah ini kita lakukan selama sebulan penuh. Secara rohaniah, puasa Ramadan bertujuan untuk mencapai derajat takwa. Tetapi, secara jasmaniah, diri kita juga dilatih dan ditempa selama sebulan dengan tidak makan, minum, dan berhubungan seks (dengan istri) sejak fajar terbit sampai dengan matahari terbenam.

Jika larangan-larangan ini dilanggar, puasa kita sudah pasti batal. Selain itu, kita tidak diperbolehkan melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan tidak terpuji seperti ngrasani, menggunjing, berdusta, berbohong, memberi kesaksian palsu, berbuat culas, marah, menyumpah serapah, berlaku tidak senonoh, atau mengeluarkan kata-kata kotor karena perbuatan-perbuatan demikian dapat mengurangi nilai dan kualitas puasa kita. Ramadan benar-benar mengondisikan diri kita dalam intensitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Ketiga, kita yakin dan percaya bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh limpahan ampunan Allah. Sebenarnya, di luar Ramadan pun Allah akan memberikan ampunan-Nya kepada kita yang bertobat secara benar dan sungguh-sungguh (tobatun nasuha).

Akan tetapi, bulan Ramadan memiliki momentum tersendiri. Momentum penting ini antara lain dinyatakan oleh Nabi bahwa orang yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan, keikhlasan, dan kemantapan, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh Allah. Ramadan adalah momentum ilahiah yang penuh curahan berkat, rahmat, dan magfirah. Allah melimpahkan rahmat kepada hamba-Nya dan menerima tobat hamba-Nya.

Keempat, kita percaya bahwa bulan Ramadan adalah momentum yang sangat baik dan kondusif bagi kita untuk melipatgandakan amal kebajikan dan mengejawantahkan kesadaran kesetiakawanan sosial dalam kehidupan keumatan dan kemasyarakatan.

Puasa Ramadan mendorong kita untuk mengerjakan amal-amal kebajikan ilahiah dan melakukan amal-amal sosial-insaniah sebanyak mungkin.

Rasa lapar, haus, dahaga, keprihatinan, dan “penderitaan” yang secara langsung kita alami pada bulan Ramadan akan mengetuk lubuk hati kita masing-masing untuk menyatakan solidaritas sosial. Kita realisasikan kesetiakawanan sosial ini dalam bentuk memberikan zakat (mal dan fitrah), infak, dan sedekah kepada kaum duafa yang memang sepantasnya kita tolong.

Menurut ajaran agama, dalam harta muslim yang mampu terdapat hak kaum duafa dan orang-orang yang berhak menerimanya. Kita wajib berzakat sebanyak 2,5 persen dari total harta yang kita miliki. Selain zakat harta, muslim yang mampu juga wajib berzakat fitrah di akhir Ramadan. Agama juga mengajarkan agar muslim yang mampu, berinfak, bersedekah, dan membelanjakan hartanya di jalan Allah terutama pada bulan Ramadan.

Dengan begitu, kebutuhan hidup kaum duafa merasa terbantu selama bulan Ramadan dan pada gilirannya, mereka dapat juga merayakan Idul Fitri dengan perasaan senang dan bahagia. Berbagi rezeki dan keba¬hagiaan dengan kaum duafa adalah kemuliaan tersendiri bagi orang- orang yang memunyai kelebihan harta. Di situlah terpancar sekaligus bahwa Ramadan adalah momentum pengejawantahan nilai-nilai ilahiah dan nilai-nilai insaniah. ■

KORAN JAKARTA , Senin, 1 AGUSTUS 2011

Related Post

 

Tags: